PONTIANAK POST - Upaya memajukan sektor ekonomi kreatif (ekraf), khususnya wastra atau kain tradisional Kalbar, terus digencarkan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kalbar.
Salah satu langkah nyata dilakukan Kepala Disporapar Kalbar Windy Prihastari yang mengenakan busana berbahan batik tulis khas Kabupaten Ketapang dalam agenda resmi pemerintah. Busana batik tersebut dikenakan Windy saat menghadiri Puncak Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-52 yang dipusatkan di Kabupaten Landak, baru-baru ini.
Motif batik yang dikenakan bertajuk Kuntum Kecubung, menggambarkan bunga lokal Kalbar berwarna pink cerah. Busana tersebut tampil mencolok dengan dominasi warna pink, dan ungu. Selain indah, motif ini juga menyimpan nilai filosofis tersendiri yang merepresentasikan kearifan lokal Kalbar.
“Kami tetap konsisten untuk terus mempromosikan 17 sektor ekraf, dan salah satunya adalah wastra Kalbar. Kita (Kalbar) harus bangga karena perajin kita mampu menghasilkan tenun dan batik tulis yang punya keunikan serta cerita di setiap motifnya,” kata Windy yang juga menjabat wakil ketua harian Dekranasda Kalbar itu.
Menurutnya, momen-momen besar seperti peringatan hari nasional maupun pertemuan resmi harus dimanfaatkan sebagai ruang terbuka promosi produk lokal, khususnya dari subsektor fesyen berbasis kearifan lokal. Ia menilai, pengenalan produk wastra tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat, khususnya generasi muda dan para desainer lokal.
Windy mengajak generasi muda Kalbar untuk turut andil mempopulerkan wastra daerah. Langkah sederhana seperti mengenakan produk tenun atau batik dalam keseharian sudah menjadi bentuk nyata penghargaan terhadap budaya sendiri.
“Salah satu bentuk penghargaan kepada para perajin dan desainer kita adalah dengan membeli dan memakai produk mereka. Dari sana, identitas budaya kita akan terus hidup dan dikenal luas,” ujarnya.
Kalbar dikenal memiliki beragam jenis wastra, mulai dari tenun tradisional di berbagai kabupaten hingga batik tulis dengan motif unik yang masing-masing menyimpan makna mendalam. Pendekatan promosi yang inklusif dan modern dinilai mampu mendongkrak nilai budaya sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Melalui berbagai strategi, Disporapar Kalbar mendorong agar warisan tekstil lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan secara berkelanjutan menjadi kekuatan ekonomi, dan identitas daerah.(bar)
Editor : Hanif