Dalam perjalanan menuju Putussibau untuk menghadiri pelaksanaan MTQ XXXIII Kalimantan Barat, Ketua Umum Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kalbar, H. Andi Musa, menyempatkan diri singgah di Masjid Jamiatul Muslimin Nanga Tepuai, Kecamatan Hulu Gurung, Kapuas Hulu. Momen persinggahan itu dimanfaatkan untuk mengampanyekan Gerakan Kalbar Berwakaf kepada para pengurus masjid, jamaah, serta rombongan dewan hakim dan panitera MTQ.
====
Dengan ramah, Andi Musa mengajak hadirin untuk berfoto bersama sambil membentuk simbol “W” dengan tangan—tanda komitmen terhadap gerakan wakaf di Bumi Khatulistiwa. Suasana hangat terbangun saat jamuan teh, kopi, kerupuk basah khas Kapuas Hulu, dan aneka kue tradisional disuguhkan. Tawa ringan dan diskusi serius tentang pengelolaan wakaf berlangsung berdampingan, menunjukkan bahwa kampanye sosial dapat dilakukan dengan penuh keakraban.
Dalam kesempatan tersebut hadir pula Kiai Haji Dr. Abdullah Alfakir, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Khairat, Ketapang. Beliau berbagi kisah tentang bagaimana pondok pesantrennya berdiri berkat wakaf dan kini telah mengembangkan wakaf produktif berupa unit pertokoan.
“Melalui usaha pertokoan ini, kebutuhan para santri, pengasuh, dan masyarakat sekitar dapat terpenuhi. Mulai dari perlengkapan keseharian, buku pelajaran, hingga kitab-kitab agama tersedia lengkap di toko tersebut,” ujar Abdullah Alfakir.
Ia juga menegaskan bahwa pengelolaan wakaf produktif adalah salah satu cara efektif menjaga keberlanjutan pesantren sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. “Wakaf bukan hanya soal tanah atau bangunan masjid. Dengan pengelolaan yang baik, wakaf bisa menopang pendidikan, ekonomi, bahkan kemandirian umat,” tambahnya.
Andi Musa menilai pengalaman Mambaul Khairat sebagai contoh inspiratif bagi pengurus masjid dan lembaga keagamaan di Kalbar. Menurutnya, gerakan wakaf produktif akan memperkuat ketahanan sosial dan memperluas manfaat bagi umat. “Kalbar Berwakaf bukan sekadar slogan. Ini gerakan bersama untuk memakmurkan masjid, mendukung pendidikan, dan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ungkapnya.
Bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh, Andi Musa menyarankan untuk menelusuri informasi mengenai wakaf produktif melalui website resmi Pondok Pesantren Mambaul Khairat Ketapang. Dengan demikian, jamaah dan masyarakat umum dapat mencontoh model pengelolaan wakaf yang berkelanjutan dan profesional.
Momentum persinggahan di Nanga Tepuai ini bukan hanya jeda perjalanan menuju MTQ XXXIII Kalbar, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar BWI Kalbar untuk menyebarkan semangat wakaf di seluruh pelosok daerah. Gambar kebersamaan dengan simbol “W” pun menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki peran dalam menghidupkan gerakan wakaf di Kalimantan Barat.**
Editor : Salman Busrah