PONTIANAK POST - Sebuah inovasi sosial yang menggabungkan teknologi pertanian modern dengan pemberdayaan kelompok disabilitas telah berhasil dilaksanakan di Maktab Tuli As-Sami, Pontianak. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang diinisiasi tim dosen Universitas Tanjungpura Pontianak ini membuktikan bahwa penyandang disabilitas tuna rungu dapat menjadi pelaku ekonomi produktif sekaligus penyedia pangan sehat bagi masyarakat urban.
Program berjudul "Pertanian Inklusif: Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Bagi Kelompok Disabilitas dan Penyediaan Gizi Sehat Bagi Masyarakat" berlangsung selama dua bulan, pada Juli hingga September 2025, dengan melibatkan santri dari Maktab Tuli As-Sami. Lembaga ini merupakan salah satu pusat pembelajaran agama dan bahasa isyarat untuk komunitas tuna rungu muslim di Kalimantan Barat.
Tim PKM ini terdiri dari tiga dosen. Antara lain Ahmadi, S.E., M.Sc selaku ketua tim, Nadya Eka Putri, S.E., M.Ak. dan Elga Yulindisti, S.Ak., M.Ak anggota serta enam mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu menggunakan pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik komunitas tuna rungu. Materi disampaikan melalui media visual, bahasa isyarat, dan praktik langsung, dengan dukungan penerjemah dari internal maktab.
Ahmadi, S.E., M.Sc., ketua tim PKM dari Program Studi Manajemen Untan menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mengatasi tiga permasalahan utama yang saling berkaitan. Pertama, stigma sosial yang masih melekat pada penyandang disabilitas, khususnya anggapan bahwa mereka tidak mampu bekerja secara produktif. Kedua, keterbatasan akses penyandang disabilitas terhadap peluang ekonomi yang berkelanjutan. Ketiga, minimnya akses masyarakat urban terhadap produk pangan segar yang bebas pestisida.
“Program ini mengambil pendekatan berbeda dengan menempatkan instalasi hidroponik di halaman depan maktab, sehingga aktivitas produktif peserta dapat disaksikan langsung oleh masyarakat sekitar. Strategi ini bertujuan mengubah persepsi publik terhadap kemampuan penyandang disabilitas,” jelas Ahmadi.
Ahmadi melanjutkan, pelaksanaan program dilakukan melalui sepuluh kali kunjungan dengan tahapan yang terstruktur. Dimulai dari observasi dan instalasi alat pada kunjungan pertama dan kedua, dilanjutkan pelatihan dasar hidroponik dan praktik penanaman pada kunjungan ketiga hingga keenam. Fase selanjutnya fokus pada pelatihan manajemen, mulai dari pencatatan hasil panen hingga strategi pemasaran.
Puncak program terwujud dalam "Bazar Sayur Hidroponik" pada 30 Agustus 2025, di mana peserta langsung menjual hasil panen kepada orang tua santri, warga sekitar, dan siswa dari dua sekolah terdekat. Kegiatan ini berhasil membuktikan tiga target utama program: kemampuan penyandang disabilitas menghasilkan produk berkualitas, potensi kemandirian ekonomi, dan penyediaan akses pangan sehat bagi masyarakat.
Muhammad Fakhrul, penanggung jawab Maktab Tuli As-Sami, mengungkapkan perubahan signifikan pada peserta. "Santri yang awalnya cenderung minder dan pasif kini menunjukkan antusiasme tinggi dan keberanian tampil di depan publik. Mereka bangga dengan hasil karya sendiri dan termotivasi mengembangkan keterampilan lebih lanjut," katanya.
Program ini menghasilkan dampak nyata yang dapat diukur secara kuantitatif maupun kualitatif. Dari aspek keterampilan, lebih dari 80 persen peserta mampu mempraktikkan tahapan hidroponik secara mandiri. Kemampuan manajerial juga meningkat, dengan 80 persen peserta dapat membuat pembukuan sederhana dan mengatur siklus produksi.
Dari sisi ekonomi, program berhasil menciptakan model usaha mikro yang berkelanjutan. Peserta mampu memproduksi lima jenis sayuran yang didistribusikan kepada lebih dari 20 warga dalam dua bulan pertama. Hasil ini menunjukkan potensi pengembangan menjadi usaha komersial yang lebih besar.
Yang tidak kalah penting adalah dampak sosial berupa perubahan persepsi masyarakat. Keberadaan instalasi hidroponik di area terbuka dan keterlibatan langsung peserta dalam aktivitas penjualan telah mengubah pandangan warga sekitar terhadap kemampuan penyandang disabilitas.
Program ini sejalan dengan beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 3 (Kesehatan yang Baik), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak), dan SDG 10 (Mengurangi Ketimpangan). Kontribusi terhadap agenda nasional juga tercermin melalui kesesuaian dengan program Asta Cita, khususnya penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pengembangan sumber daya manusia.
Program PKM "Pertanian Inklusif" di Maktab Tuli As-Sami membuktikan bahwa pendekatan yang tepat dapat mengubah tantangan menjadi peluang. Dengan menggabungkan teknologi sederhana, metodologi inklusif, dan komitmen jangka panjang, program ini berhasil menciptakan model pemberdayaan yang berkelanjutan dan dapat direplikasi.
Lebih dari itu, program ini menunjukkan bahwa inklusi sejati bukan hanya memberikan akses, tetapi menciptakan ruang bagi setiap individu untuk berkontribusi secara produktif dalam masyarakat. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi teknologi, ketika dipadukan dengan pendekatan sosial yang tepat, dapat menjadi katalis perubahan yang bermakna bagi kelompok rentan.
Kegiatan ini berjalan dengan sangat baik berkat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi selaku pemberi dana pelaksanaan PKM, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNTAN selaku pengarah, serta dosen dan praktisi hidroponik UNTAN. Program ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat kelompok skema pemberdayaan berbasis masyarakat dengan ruang lingkup pemberdayaan kemitraan masyarakat. (vie/ser)
Editor : Miftahul Khair