PONTIANAK POST - Direktur Rumah Sakit Pontianak Utara Nuzulisa Zulkifli mengatakan dalam waktu tiga hari terakhir memang terjadi lonjakan kunjungan pasien anak, baik di instalasi rawat jalan, gawat darurat dan rawat inap, dengan diagnosa campak. Untuk saat ini, keadaan di RS dalam penanganan kasus campak sudah mulai kondusif dan tertangani.
“Memang tiga hari ke belakang kami (RS Pontianak Utara) mengalami lonjakan pasien anak. Bahkan sempat overload di instalasi gawat darurat, sehingga beberapa tempat tidur pasien di unit lain kami alihkan ke gawat darurat untuk mengatasi pasien anak ini,” ujar Nuzulisa kepada Pontianak Post, Kamis (25/9).
Tujuannya untuk mengatasi penumpukan kunjungan pasien anak. Dari hasil diagnosanya, sekitar 60 sampai 70 persen pasien anak didiagnosa campak. Kejadian overload pasien ini juga karena khawatirnya orang tua yang ingin anaknya mendapatkan pelayanan rawat inap.
Sedangkan kondisi di RS Pontianak Utara masih kekurangan jumlah tempat tidur. Kemudian di sana juga kekurangan SDM baik tenaga kesehatan perawat, bidan dan dokter.
Sehingga banyak pasien tidak bisa dilakukan langsung rawat inap. Tetapi kata dia, beberapa solusi sudah dilakukan, selain penambahan tempat tidur, pihaknya juga melakukan koordinasi dengan RS rujukan lain yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.
Dia melanjutkan semua orang tua pastinya panik melihat kondisi anak sakit. Oleh sebab itu, dalam penanganan kasus campak jangan sampai menunggu anak demam tinggi baru di bawa ke fasilitas kesehatan. Jika mendapati gejala tertentu lebih baik segera bawa ke puskesmas untuk dapat mendapatkan penanganan awal sehingga bisa dilakukan dengan rawat jalan.
Apabila ditemukan demam dan muncul ruam barulah ditangani ke faskes rujukan. Sebab ini dikhawatirkan campak. Tetapi jika kondisinya masih bisa ditangani dengan pengobatan rawat jalan sebetulnya tak mengapa.
Tetapi kondisi kemarin memang betul-betul mesti dipilah. Sebab para tenaga kesehatan pastinya sudah melakukan pengecekan dari pasien itu. Ketika pun tak bisa dirawat di RS Pontianak Utara dikarenakan ruang penuh, juga langsung diarahkan ke RS terdekat.
"Kami juga mohon maaf jika beberapa pasien pernah ditolak. Sebetulnya itu bukan ditolak tetapi karena RS memang penuh. Sehingga diarahkan ke faskes lain. Atau kondisi anak itu belum gawat darurat sehingga bisa dilakukan secara rawat jalan,” ujarnya.
Sebetulnya penaykit campak ini bisa dicegah dengan imunisasi. Ia berharap dengan adanya kejadian ini semakin membuat ortu sadar untuk mengimunisasikan anak-anaknya. Karena imunisasi campak ini sudah dilakukan ketika balita dan anak di bawah lima tahun. Dengan adanya imunisasi diharap dapat menekan kasus campak khususnya di Pontianak.(iza)
Editor : Hanif