PONTIANAK POST - Gubernur Kalbar, Ria Norsan menyampaikan capaian positif Kalbar di bidang ketahanan pangan. Berdasarkan data terakhir, Indeks Ketahanan Pangan Kalbar meningkat dari 71,13 persen pada 2020 menjadi 73,49 persen pada 2024. Capaian tersebut mencatatkan Kalbar sebagai provinsi tahan pangan dengan kondisi surplus beras dan gabah.
“Alhamdulillah, Kalimantan Barat saat ini sudah surplus beras dan gabah. Ini hasil dari kerja keras petani dan dukungan kebijakan pemerintah pusat,” ujar Norsan.
Norsan menjelaskan bahwa kebijakan nasional yang dijalankan pemerintah turut memulihkan semangat petani. Tiga kebijakan kunci yang dinilainya berdampak signifikan yakni penetapan harga gabah stabil sebesar Rp6.500 per kilogram, penambahan kuota pupuk subsidi, serta program optimalisasi pertanian melalui peningkatan frekuensi panen hingga tiga kali per tahun dan pencetakan lahan sawah baru.
“Kebijakan ini nyata-nyata menghidupkan kembali gairah petani dan memperkuat fondasi ketahanan pangan kita,” imbuhnya.
Meski demikian, Norsan mengakui masih terdapat sekitar 20 kecamatan (11,49 persen) di Kalbar yang tergolong rentan pangan, terutama di wilayah Melawi, Kapuas Hulu, dan Kayong Utara. Sebagai langkah mitigasi, Pemprov Kalbar telah menetapkan cadangan beras pemerintah daerah melalui Perda Nomor 5 Tahun 2018 dan Peraturan Bapanas Nomor 15 Tahun 2023. Saat ini, total lahan pertanian pangan berkelanjutan di Kalbar telah mencapai 120.114,07 hektare.
Norsan menegaskan, pembangunan pangan tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur atau produksi, tetapi juga menuntut kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan aparat pertahanan.
“TNI dan Polri memiliki peran strategis sebagai katalisator, di antaranya melalui program cetak sawah dan pendampingan bagi petani. Sinergi seperti inilah yang akan mempercepat kedaulatan pangan,” tegasnya.
Norsan menambahkan, ketahanan pangan dan konektivitas infrastruktur merupakan fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045. Kalimantan Barat, menurutnya, siap menjadi bagian penting dalam mewujudkan cita-cita besar tersebut.
Lebih lanjut, Norsan menjelaskan posisi strategis Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Brunei Darussalam serta dilalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I. Kalbar juga menjadi salah satu koridor utama menuju Ibu Kota Nusantara (IKN), yang menjadikannya bagian penting dari rantai konektivitas ekonomi nasional dan internasional.
Dari sisi ekonomi, pertumbuhan Kalbar terus menunjukkan tren positif. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Kalbar tercatat 5,00 persen (YoY) dan meningkat menjadi 5,59 persen pada triwulan II, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Sektor pertanian menjadi tulang punggung utama, dengan kontribusi 20–21 persen terhadap PDRB dan menyerap 45,8 persen tenaga kerja.
Sementara itu, untuk mendukung pemerataan pembangunan, Pemprov Kalbar menempatkan peningkatan kapasitas jaringan jalan provinsi sebagai prioritas utama. Kebijakan ini diarahkan guna memperkuat konektivitas antarwilayah, mulai dari kawasan perkotaan, pertanian, hingga kawasan strategis provinsi.
“Data tahun 2024 menunjukkan bahwa 64,01 persen dari total panjang jalan provinsi sudah dalam kondisi mantap,” pungkas Ria Norsan. (mse)
Editor : Hanif