Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Melihat Ritual Adat Naik Jurongk Tinggi, Wujud Syukur dan Kearifan Suku Dayak di Tengah Modernisasi

Novantar Ramses Negara • Jumat, 10 Oktober 2025 | 11:27 WIB
RITUAL ADAT: Wakil Gubernur Kalbar Krisantus Kurniawan bersama Bupati Ketapang Alexander Wilyo menghadiri ritual Naik Jurongk Tinggi, wujud syukur dan pelestarian budaya masyarakat adat Dayak.
RITUAL ADAT: Wakil Gubernur Kalbar Krisantus Kurniawan bersama Bupati Ketapang Alexander Wilyo menghadiri ritual Naik Jurongk Tinggi, wujud syukur dan pelestarian budaya masyarakat adat Dayak.

PONTIANAK POST — Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat adat Dayak di Kabupaten Ketapang menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan napas kehidupan yang terus dijaga. Hal itu tampak dalam pelaksanaan ritual sakral Naik Jurongk Tinggi di Kepatihan Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh, Rabu (8/10), yang berlangsung khidmat dan sarat makna.

Ritual tahunan ini menjadi ungkapan syukur masyarakat adat Dayak atas panen yang melimpah. Naik Jurongk Tinggi bukan hanya seremoni adat, melainkan wujud kearifan lokal yang menegaskan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Jurongk, lumbung padi tradisional dari kayu belian, bukan sekadar tempat penyimpanan hasil bumi, tetapi simbol kedaulatan pangan dan keberlanjutan hidup masyarakat Dayak.

Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, yang hadir bersama sang istri, Donata Dirasig Krisantus Kurniawan, mengapresiasi komitmen masyarakat dalam menjaga warisan leluhur. Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti di seremoni, tetapi harus dijalankan secara berkelanjutan di tengah tantangan digital. “Saya berharap pelaksanaan Naik Jurongk Tinggi menjadi bentuk nyata pelestarian budaya. Ini harus dijaga dan diwariskan lintas generasi,” ujar Krisantus.

Ia juga menyoroti pentingnya literasi digital bagi generasi muda Dayak. Menurutnya, teknologi ibarat pedang bermata dua, bisa membawa kemajuan atau kehancuran tergantung cara penggunaannya. “Di tangan kita masing-masing, di handphone kita, ada 50 persen surga dan 50 persen neraka. Semua tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Tanpa literasi digital, teknologi bisa menjerumuskan dari nilai-nilai luhur,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Ketapang Alexander Wilyo, yang juga menjabat sebagai Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh, menekankan bahwa adat dan tradisi adalah fondasi kehidupan masyarakat. “Ritual ini bentuk rasa syukur kepada Duata (Tuhan) atas berkah hasil bumi, sekaligus penegasan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Alexander menegaskan, wilayah adat Laman Sembilan dan Domong Sepuluh bukan entitas politik, melainkan kerajaan adat yang diwariskan lintas generasi dan mencakup berbagai desa hingga perbatasan Kalimantan Tengah. “Tugas saya mewarisi tanggung jawab para leluhur: menjaga adat dan menegakkannya dalam kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Ritual Naik Jurongk Tinggi menjadi bukti bahwa kemajuan tidak harus menghapus tradisi. Justru dari akar budaya yang kuat, lahir ketahanan dan karakter bangsa. Acara ini turut dihadiri Gubernur Kalbar periode 2008–2018 Cornelis beserta istri, Ketua DAD Kalbar, unsur Forkopimda Ketapang, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta ribuan warga yang antusias menyaksikan prosesi tersebut. (mse)

Editor : Hanif
#warisan leluhur #simbol syukur #keteguhan #ketapang #ritual #masyarakat #dayak