Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Capaian Imunisasi JE di Kalbar Diprediksi Menurun, Dinkes Soroti Maraknya Penolakan Vaksin

Novantar Ramses Negara • Rabu, 22 Oktober 2025 | 10:29 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr. Erna Yulianti.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr. Erna Yulianti.

PONTIANAK POST – Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Erna Yulianti mengungkapkan, kekhawatiran terhadap prediksi penurunan capaian imunisasi Japanese Encephalitis (JE) pada 2024 hingga 2025.

Meski kampanye serentak pada kick off imunisasi JE tahun 2023 berhasil meningkatkan angka capaian secara signifikan, hasilnya masih belum memenuhi target nasional.

Japanese Encephalitis (JE) adalah penyakit infeksi otak serius yang disebabkan oleh virus Japanese Encephalitis virus (JEV). Virus ini ditularkan melalui gigitan nyamuk, terutama nyamuk Culex, yang berkembang biak di daerah berair seperti sawah, kolam, dan genangan air.

“Termasuk salah satu kendala utama yang disoroti adalah maraknya penolakan imunisasi di kalangan masyarakat, terutama di daerah dengan kasus JE yang meningkat,” kata Erna, baru-baru ini.

Menurutnya, penolakan tersebut disinyalir dipicu oleh persepsi masyarakat terkait banyaknya jenis vaksin yang harus diberikan kepada anak-anak. Kondisi ini juga diperparah dengan capaian imunisasi rutin di Kalimantan Barat yang secara umum masih tergolong rendah.

“Maka dari itu, saya minta penekanan harus dilakukan, khususnya oleh pengelola program imunisasi di tingkat kabupaten, terutama Bidang P2 (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit),” tegasnya.

Lebih lanjut, Erna menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah kecepatan dalam menemukan kasus, yang harus diimbangi dengan tindakan pengobatan dan edukasi yang masif kepada masyarakat.

“Semakin banyak kita temukan kasus, semakin cepat kita melakukan pengobatan dan edukasi kepada masyarakat terkait kasus JE,” ujarnya di sela kegiatan pembukaan.

Ia juga menegaskan pentingnya penguatan kapasitas dan komitmen di tengah dinamika organisasi agar pelaksanaan tugas di lapangan dapat berjalan lebih intensif.

“Ayo sama-sama kita membuat strategi-strategi untuk peningkatan imunisasi JE,” ajaknya.

Selain itu, Kadinkes menekankan bahwa keberhasilan program imunisasi tidak dapat dicapai oleh sektor kesehatan saja. Ia menyoroti peran penting lintas sektor, seperti Tim Penggerak PKK, stakeholder terkait, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai organisasi kemasyarakatan.

“Peran PKK juga sangat penting karena mereka merupakan mitra strategis dalam menyampaikan informasi dan edukasi kesehatan kepada masyarakat,” tambahnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, upaya penurunan prevalensi kasus JE di Kalimantan Barat harus dilakukan melalui kerja sama lintas sektor dan lintas program. Ia berharap pertemuan tersebut dapat menghasilkan rumusan strategis yang mampu meningkatkan cakupan imunisasi di wilayah Kalimantan Barat.

“Saya harap dari pertemuan ini, kita bisa menghasilkan berbagai konsep, strategi, serta rekomendasi yang dapat disampaikan kepada pimpinan daerah masing-masing, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota,” tutupnya. (mse)

Editor : Hanif
#Japanese Encephalitis #Vaksin #penolakan #prediksi #Dinkes Kalbar #rakyat #partisipasi #capaian imunisasi