PONTIANAK POST - Mahasiswa Program Magister (S2) Ilmu Ekonomi Universitas Tanjungpura (Untan) Angkatan 35 melakukan Kegiatan yang dilakukan di Pasar Serikin langsung dipimpin oleh Erni Panca Kurniasih selaku Ketua Program Studi S2 Ilmu Ekonomi Untan, dan didampingi oleh Nurul Bariah selaku Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FEB Untan.
Menyoroti Pasar Serikin di Sarawak, Malaysia, yang merupakan salah satu pusat perdagangan lintas batas yang ramai setiap akhir pekan, khususnya Sabtu dan Minggu. Pasar ini tidak hanya menjadi bukti hubungan ekonomi Indonesia-Malaysia, tetapi juga mencerminkan tantangan nyata yang dihadapi pedagang Indonesia dalam mempertahankan daya saing di pasar internasional.
Para pedagang Indonesia menanggung biaya logistik yang cukup besar untuk dapat berjualan di Pasar Serikin. Rata-rata biaya mencapai Rp 800.000 hingga Rp 1.500.000 per perjalanan. Biaya ini mencakup akomodasi, transportasi dan berbagai biaya lain yang masih harus menjadi kewajiban para pedagang.
"Kami terkadang harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000 untuk berbagai biaya tambahan yang wajib dikeluarkan, seperti biaya sewa kios serta box penyimpanan barang," ungkap seorang pedagang yang telah lima belas tahun lebih berjualan di Pasar Serikin.
Para pedagang juga harus membayar uang ledeng perbulan sebesar RM 10. Kerajaan juga membebankan kepada mereka pajak sebesar RM 20 per hari.
Hambatan Akses dan Mobilitas
Akses dari Pontianak menuju Serikin terkadang sedikit memperlambat perjalanan, sementara proses pemeriksaan di perbatasan terkadang memakan waktu. Hal ini sedikit mempengaruhi waktu efektif berjualan di pasar. Sehingga hampir semua pedagang menyiasatinya dengan datang ke Serikin satu hari sebelumnya.
"Kami biasanya memulai perjalanan lebih awal untuk mengantisipasi kondisi jalan dan proses pemeriksaan di perbatasan. Mengingat waktu berjualan di pasar yang terbatas, penyesuaian jadwal seperti ini cukup membantu," tutur seorang pedagang tekstil yang telah terbiasa dengan rutinitas tersebut.
Pedagang Serikin bisa memilih untuk menginap di daerah dekat Serikin dengan menggunakan fasilitas rumah sewa seperti kos-kosan yang di patok seharga RM 60 untuk 2 hari.
Strategi Mempertahankan Daya Saing
Di tengah tantangan dikarenakan jumlah pedagang Serikin yang bisa mencapai lebih dari 800, pedagang Indonesia mengembangkan berbagai strategi untuk tetap kompetitif. Penerapan harga diferensiasi berdasarkan jenis pembeli menjadi salah satu taktik yang umum digunakan. Pedagang juga membangun sistem kolaborasi untuk meminimalisir biaya operasional.
"Kami patungan sewa kendaraan dan saling membantu dalam memasarkan produk. Kerja sama seperti ini sangat membantu mengurangi beban biaya," jelas seorang pedagang makanan tradisional.
Kemampuan beradaptasi dengan preferensi konsumen Malaysia dan kemahiran berbahasa Melayu Sarawak menjadi nilai tambah yang penting dalam bersaing.
Dampak Sosial-Ekonomi serta Budaya
Aktivitas perdagangan di Pasar Serikin telah menciptakan hubungan sosial-ekonomi yang saling menguntungkan. Terjadi pertukaran budaya secara alami melalui interaksi dagang, meskipun terkadang muncul perbedaan persepsi dalam praktik bisnis.
"Kami belajar memahami selera dan preferensi pembeli Malaysia. Sebaliknya, mereka juga mulai menyukai produk-produk Indonesia," tutur seorang pedagang kerajinan tangan.
Terjadi juga pertukaran budaya melalui pembelajaran bahasa baik dari orang Indonesia maupun orang Malaysia. Salah satu pedagang yang diwawancarai menceritakan bahwa pedagang dari Malaysia bahkan bisa menggunakan bahasa Sambas karena pekerjanya yang merupakan orang Sambas juga.
Selain itu, pedagang Indonesia juga bisa memberikan harga yang lebih murah kepada orang Indonesia karena mereka memiliki rasa persaudaraan yang kuat terhadap sesama warga negara Indonesia.
Rekomendasi dan Harapan ke Depan
Para pedagang berharap adanya perbaikan infrastruktur jalan dan penyederhanaan prosedur perbatasan. Mereka juga mengusulkan program pembiayaan khusus untuk pedagang lintas batas dan pelatihan kewirausahaan untuk meningkatkan daya saing.
"Dukungan pemerintah dalam hal infrastruktur dan kemudahan perizinan akan sangat membantu kami dalam mengembangkan usaha," harap seorang pedagang senior.
Meski menghadapi tantangan biaya logistik dan hambatan akses yang ada, pedagang Indonesia di Pasar Serikin menunjukkan ketangguhan dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Dengan dukungan yang tepat, baik dari pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya, mereka memiliki potensi untuk tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang dalam persaingan pasar lintas batas. Keberadaan Pasar Serikin tetap menjadi bukti nyata hubungan ekonomi yang saling menguntungkan antara Indonesia dan Malaysia. (/r)
Editor : Hanif