PONTIANAK POST - Potret memilukan datang dari wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia di Dusun Badat Lama, Desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau. Sejumlah warga terpaksa menggotong jenazah menggunakan ojek motor melewati jalan tanah berlumpur karena akses jalan rusak parah dan ambulans desa tak bisa melintas.
Peristiwa ini menjadi cerminan nyata betapa infrastruktur di perbatasan Kalimantan Barat masih tertinggal jauh dari negeri tetangga.
Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Fransiskus Ason, yang juga putra daerah perbatasan, menyuarakan keprihatinan mendalam atas kondisi tersebut. "Sungguh sedih saya, melihat warga membawa jenazah pakai motor karena jalan rusak. Kita malu, di Malaysia kampung sapit yang juga terletak di perbatasan mereka (Malaysia) saja sudah beraspal, mobil bisa masuk. Sementara kita, jalan ke kecamatan pun banyak yang rusak,” ujarnya, Rabu (5/11) via telepon tengah beradu pendapat dengan Kementriaan Keuangan RI soal pemotongan TKD (Transfer Ke Daerah).
Ason menilai, sejak masa Presiden Joko Widodo, pembangunan jalan perbatasan sebenarnya sudah mulai dibuka dan digarap. Namun sayangnya, menurut dia, proyek lanjutan tak berkesinambungan menjelang akhir masa pemerintahan Jokowi. "Dulu Presiden Jokowi sudah buka akses jalan perbatasan. Tapi menjelang akhir masa pemerintahannya, proyek itu tidak diteruskan. Sekarang kita berharap pemerintahan baru bisa melanjutkannya,” tegasnya.
Menurut Ason, kondisi geografis dan keterbatasan anggaran daerah membuat Kabupaten dan Provinsi Kalbar tidak mampu membangun sendiri infrastruktur strategis di kawasan perbatasan.
Karena itu, ia mendorong pemerintah pusat untuk mengambil alih dan memprioritaskan pembangunan jalan perbatasan di Kalbar. "Kalau pusat mau efisiensi anggaran, silakan. Tapi ambil alih pembangunan jalan perbatasan ini. Jangan uang negara habis untuk Pulau Jawa saja, sementara di Kalbar rakyat susah lewat,” ucapnya lantang.
Ia menilai, pembangunan perbatasan bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal martabat bangsa. “Bayangkan, kita ini negara besar, tapi rakyat di perbatasan masih harus gotong jenazah pakai motor. Itu memalukan kalau dibandingkan Malaysia. Kita tertinggal bukan 20 tapi 30 tahun,” kata Ason.
Kisah warga Suruh Tembawang yang harus bergotong royong membawa jenazah melintasi jalan licin dan berlumpur menjadi simbol nyata ketimpangan pembangunan di daerah perbatasan.
Di tengah suasana duka, mereka harus memutar otak agar jenazah bisa sampai ke rumah duka, bukan karena jarak, tapi karena jalan rusak yang belum tersentuh pembangunan layak.
Ason berharap pemerintah pusat tidak lagi menutup mata terhadap penderitaan warga perbatasan. “Daerah perbatasan itu wajah depan Indonesia. Jangan biarkan masyarakat di sana merasa terasing di negerinya sendiri,” ujarnya.
Dengan suara penuh harap, ia menegaskan. “Bangunlah Kalbar dari pinggiran, sebagaimana dulu Nawacita pernah dijanjikan. Karena kemajuan Indonesia harus dimulai dari batas-batasnya," pungkasnya.(den)
Editor : Hanif