PONTIANAK POST - Hasil pemeriksaan kesehatan gratis di sekolah-sekolah Kota Pontianak mengejutkan. Sebab sebanyak enam ratus siswa SMA Pontianak justru mengalami depresi. Demikian dikatakan Wakil Ketua Komisi IX DPR Nihayatul Wafiroh, saat melakukan kunjungan ke RS Sultan Syarif Mohamad Alkadri, belum lama ini.
“Angka ini mengejutkan. Banyak remaja kita yang mengalami depresi karena tekanan sekolah, masalah keluarga, dan persoalan sosial. Ini sinyal bahwa kesehatan jiwa harus menjadi prioritas,” ungkapnya.
Sebagai tindak lanjut, Komisi IX DPR RI juga mendorong penguatan sarana penunjang deteksi dini gangguan jiwa di seluruh puskesmas. Nihayatul mencontohkan Puskesmas Saigon yang telah memiliki alat pendeteksi gangguan jiwa, namun fasilitas serupa belum tersedia di seluruh puskesmas.
“Kami akan melihat anggarannya, supaya alat deteksi dini ini bisa tersedia di semua puskesmas. Dengan begitu, gangguan jiwa bisa terdeteksi lebih cepat dan penanganannya juga lebih cepat,” tuturnya.
Nihayatul juga menegaskan rumah sakit dan puskesmas dilarang menolak pasien dalam kondisi apapun, termasuk pasien dengan gangguan jiwa.
Ia menjelaskan pelayanan kesehatan jiwa menjadi perhatian penting Komisi IX DPR, terutama setelah pemerintah meluncurkan program pemeriksaan kesehatan gratis yang juga mencakup pemeriksaan kesehatan jiwa sebagai salah satu quick win Presiden.
“Haram hukumnya bagi rumah sakit dan puskesmas menolak pasien, terutama pasien dengan gangguan jiwa. Mereka berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak,” tegasnya.
Dia menyoroti masih adanya kendala klaim pelayanan kesehatan jiwa ke BPJS Kesehatan, yang membuat sejumlah fasilitas kesehatan kesulitan dalam pembiayaan layanan bagi pasien gangguan jiwa.
“Kami sudah berkoordinasi dengan BPJS Kesehatan dan Kementerian Kesehatan. Banyak pelayanan yang tidak bisa diklaim, padahal rumah sakit dan puskesmas sudah memberikan layanan. Ini tidak boleh terjadi,” katanya.
Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan mengungkapkan, Pemkot Pontianak berkomitmen memperkuat pelayanan dengan menghadirkan tenaga psikiater serta membuka klinik khusus kesehatan jiwa di RSUD SSMA.
Dia menambahkan, upaya tersebut memerlukan dukungan dari pemerintah pusat melalui Komisi IX DPR, terutama dalam hal penambahan sumber daya manusia.
Ia berharap, dengan adanya fasilitas dan tenaga kesehatan khusus, masyarakat Pontianak tidak perlu lagi dirujuk ke rumah sakit di luar kota seperti ke RSJ di Singkawang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa.
Direktur RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak, Eva Nurfarihah, menjelaskan bahwa kendala utama pelayanan kesehatan jiwa di rumah sakit yang dipimpinnya adalah keterbatasan ruang dan sarana khusus untuk pasien jiwa.
“Kami belum memiliki ruangan khusus untuk perawatan pasien jiwa. IGD kami masih bersifat umum, begitu pula polikliniknya. Namun, sejak Februari kami sudah memiliki dokter spesialis kejiwaan atau psikiater dan membuka poliklinik jiwa,” jelasnya.
Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin memandang, terjadinya depresi bisa diakibatkan banyak sebab. Untuk melihat depresi itu, harus dilihat rekam jejak apa yang dialami oleh anak remaja yang hasil dari pengecekan kesehatan yang mengalami depresi.
Seperti psikologis anak apakah pernah mengalami traumatis. Kemudian juga bisa dilihat faktor sosial dan lingkungannya, apakah pernah mendapatkan perundungan, atau ada masalah keluarga.
Selain itu, faktor gaya hidup anak muda saat ini juga menjadi perhatian Satar. Seperti kurang waktu tidur, kecanduan game online, kurang aktivitas fisik dan jarang berinteraksi juga bisa menjadi penyebab terjadinya depresi.
“Anak remaja inikan masa mencari jati diri. Jadi mereka berekspresi. Kita selaku orang tua harus memberikan ruang positif bagi anak-anak ini, sehingga mereka bisa terarah,” ujarnya.(iza)
Editor : Hanif