Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Cuaca Ekstrem di Pontianak: Banjir, Puting Beliung, dan Ancaman Penurunan Tanah

Siti Sulbiyah • Kamis, 13 November 2025 | 12:22 WIB
GENANGAN AIR : Hujan deras melanda Kota Pontianak dan sekitarnya, Rabu (12/11). Beberapa ruas jalan salah satunya Jalan KH Ahmad Dahlan penuh dengan genangan air, hal ini cukup menghambat para pengend
GENANGAN AIR : Hujan deras melanda Kota Pontianak dan sekitarnya, Rabu (12/11). Beberapa ruas jalan salah satunya Jalan KH Ahmad Dahlan penuh dengan genangan air, hal ini cukup menghambat para pengend

PONTIANAK POST – Kota Pontianak lumpuh sebagian pada Rabu (12/11) siang hingga malam. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti berbarengan dengan pasang maksimum air laut membuat sejumlah ruas jalan tergenang, sementara belasan rumah warga rusak akibat sapuan angin puting beliung.

Pantauan di lapangan menunjukkan, air mulai menggenangi kawasan kota hanya dua jam setelah hujan turun sekitar pukul 12.00 WIB. Di Jalan Gusti Sulung Lelanang, ketinggian air bervariasi antara mata kaki hingga setengah ban sepeda motor. Pengendara terpaksa memperlambat laju kendaraan agar tidak menimbulkan gelombang air yang tinggi.

Kondisi serupa terjadi di Jalan Gajah Mada dan sejumlah titik di Pontianak Selatan. “Kendaraan jalan pelan semuanya, soalnya kalau laju malah bikin cipratan tinggi. Celana saya basah sampai lutut,” ujar Hanif, salah seorang warga yang melintas di kawasan tersebut.

Hujan deras disertai angin kencang juga merusak atap belasan rumah warga. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak, M. Nasir, menyampaikan bahwa hujan deras yang melanda kota pada Rabu (12/11) siang juga disertai angin kencang.

Akibatnya, tak kurang dari 11 rumah warga rusak diterjang angin puting beliung yang terjadi sekitar pukul 12.24 WIB. “Sebelas rumah warga terdampak. Tiga rumah di Grand Mayor, empat di Komplek GPK, dan empat di Daily Perdana Residence,” ujar Nasir.

Ia menambahkan, petugas masih melakukan pendataan dan pengecekan tingkat kerusakan di lapangan. Namun BPBD telah menyiapkan langkah cepat untuk membantu warga terdampak.

“Tindakan pertama kami adalah menutup atap rumah yang rusak dengan terpal sementara,” jelasnya.

Menurut warga, fenomena banjir akibat kombinasi pasang air laut dan hujan deras ini bukan hal baru. Namun dalam beberapa tahun terakhir, genangan makin sering dan makin luas. “Dulu cuma daerah rendah yang tergenang, sekarang hampir merata. Air sampai masuk rumah,” kata Eko, warga Pontianak Barat.

Pontianak dikenal sebagai kota di dataran rendah yang dikelilingi sungai dan kanal, sehingga sangat rentan terhadap kombinasi hujan ekstrem, air pasang, dan angin kencang. Warga berharap pemerintah memiliki grand desain pengendalian banjir yang terintegrasi, mencakup solusi jangka pendek, menengah, dan panjang. “Kalau hanya disedot atau dibendung sementara, tak cukup. Kita butuh sistem drainase baru dan penataan kawasan rendah yang lebih baik,” ujar Eko.

Hingga malam, hujan masih turun dengan intensitas ringan di beberapa wilayah Pontianak. BPBD dan aparat kelurahan terus bersiaga menyiapkan langkah cepat jika genangan meluas atau terjadi puting beliung susulan.

 

 

Fenomena Tahunan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut pasang maksimum air laut di Pontianak mencapai ketinggian 1,7 meter pada 10–13 November pukul 10.00–13.00 WIB. Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Pontianak, Raden Eko Sarjono, mengingatkan agar masyarakat di tepian Sungai Kapuas waspada terhadap potensi banjir rob dan genangan air.

“Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan siaga mengantisipasi dampak dari pasang air laut maksimum, terutama jika bersamaan dengan hujan lebat,” ujarnya.

Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio Pontianak menambahkan, kondisi atmosfer menunjukkan potensi hujan sedang hingga lebat disertai petir di sebagian besar wilayah Kalimantan Barat. Angin bertiup dari arah barat hingga barat laut dengan kecepatan 13–19 knot. Suhu udara berkisar antara 22–33°C dengan kelembapan mencapai 100 persen di beberapa wilayah.

Sementara itu, Aktivis lingkungan Andi Fachrizal mengingatkan bahwa Pontianak kini berada di ambang krisis banjir permanen akibat kombinasi pasang laut, curah hujan tinggi, dan penurunan muka tanah yang terus terjadi setiap tahun.

Menurutnya, dengan ketinggian kota hanya 0,4 hingga 1,5 meter di atas permukaan laut, Pontianak menjadi salah satu wilayah paling rentan terhadap genangan dan limpahan air pasang. “Terlihat bahwa Pontianak sangat rapuh terhadap banjir,” ujar Ketua Yayasan Kolase ini, Rabu (12/11).

Fachrizal menambahkan, sistem drainase yang belum optimal dan kebiasaan warga membuang sampah sembarangan turut memperburuk situasi. Akibatnya, air pasang dan hujan lebat kerap melumpuhkan aktivitas warga di sejumlah kecamatan.

Mengutip hasil penelitian Universitas Syiah Kuala, Fachrizal menyebut bahwa 29 kelurahan di enam kecamatan di Pontianak berpotensi terdampak banjir, dengan 21 kelurahan di antaranya termasuk kategori paling rentan. “Sebagian besar warga masih menganggap banjir sebagai hal biasa, padahal ketinggian air terus meningkat setiap tahun. Namun ada juga yang mulai menyadari bahwa ini ancaman serius,” katanya.

Ia menegaskan, ancaman jangka panjang terhadap Pontianak semakin besar akibat kombinasi pasang laut, curah hujan tinggi, penurunan muka tanah, dan kepadatan permukiman. “Jika tak segera diantisipasi, Pontianak bisa menghadapi risiko tenggelam sebagian dalam beberapa dekade ke depan,” ujarnya mengingatkan.

 

Warga Diminta Waspada

Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin, mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di bantaran Sungai Kapuas dan daerah rawan banjir, agar meningkatkan kewaspadaan. “Ini masuk musim pasang air laut. Saya minta orang tua mengawasi anak-anaknya, jangan sampai terjadi musibah saat air tengah pasang tinggi,” pesannya.

Ia menilai, penanganan bencana di Pontianak perlu disiapkan dengan lebih sistematis. “Bencana seperti ini sudah bisa diprediksi. Maka alur penanganannya harus disusun jelas—siapa melakukan apa saat bencana datang. Kita harus belajar dari alam,” ujarnya.

Satarudin juga meminta BPBD memperkuat koordinasi dengan kecamatan dan kelurahan, terutama di kawasan tepian Sungai Kapuas. “Kita apresiasi kerja cepat teman-teman BPBD, tapi penguatan kesiapsiagaan perlu terus dilakukan. Karena setiap tahun, banjir dan angin kencang selalu datang bergantian,” katanya. (iza/sti/arf)

Editor : Hanif
#waspada #penurunan muka tanah #Cuaca Ekstrem #puting beliung #Hujan Lebat #pontianak #Potensi Bencana