PONTIANAK POST - Politisi senior Partai Golkar Kalimantan Barat sekaligus Anggota DPRD Provinsi Kalbar, Heri Mustamin, menilai pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, H. Muhammad Soeharto, merupakan langkah yang tepat. Ia menegaskan, keputusan itu didasari rekam jejak sejarah dan pengabdian Soeharto yang nyata bagi bangsa dan negara.
“Kalau bicara soal siapa yang layak disebut pahlawan, ada dua hal penting yakni faktor sejarah dan pengabdian. Dua hal inilah yang menjadi dasar kuat menilai kelayakan seseorang,” ujar Heri Mustamin, Kamis (13/11).
Menurutnya, jejak perjuangan Soeharto sebagai prajurit dan perwira dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia sudah cukup menjadi bukti pengabdiannya. “Dari jasa itu saja sudah sangat layak beliau disebut pahlawan nasional. Beliau seorang prajurit yang berjuang mempertahankan kemerdekaan, dan hasil perjuangannya masih kita rasakan hingga hari ini,” tegas Heri.
Lebih jauh, Heri menilai bahwa Soeharto bukan hanya tokoh militer, tetapi juga peletak dasar pembangunan Indonesia modern. Ia mengingatkan bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bahkan pernah menetapkan Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Nasional.
"Pembangunan fisik dan mental spiritual pada masa Pak Harto luar biasa. Baru ada satu presiden yang memprakarsai pembangunan masjid di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Belum lagi perhatian beliau pada pendidikan dan peningkatan kualitas SDM melalui yayasan-yayasan beasiswa,” paparnya.
Heri Mustamin menyadari, penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Namun, ia menilai hal itu wajar, mengingat setiap tokoh besar selalu memiliki sisi yang diperdebatkan.
"Tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan itu milik Tuhan. Tapi kita jangan hanya melihat sisi buruk seseorang. Lihat juga kontribusi dan niat baiknya. Pak Harto itu manusia yang banyak berjasa,” katanya.
Ia menambahkan, hasil survei nasional yang menunjukkan lebih dari 80 persen masyarakat Indonesia menilai Soeharto layak menjadi pahlawan juga memperkuat dasar penetapan tersebut. “Itu bukti bahwa rakyat masih menghormati jasa beliau. Jejak sejarah tidak bisa dibohongi,” ujarnya.
Dalam pandangannya, Heri juga menyoroti kondisi bangsa pascareformasi yang menurutnya cenderung kehilangan arah dan ketegasan. “Dulu orang bilang Soeharto otoriter, tapi lihatlah, pada masa itu bangsa ini tertib, aman, dan punya jati diri. Sekarang setelah reformasi, kita seperti kehilangan sistem dan arah,” tutur Heri.
Ia menilai, bangsa yang besar justru butuh ketegasan dalam menegakkan aturan, bukan kebebasan tanpa batas. "Kalau ketertiban dianggap otoriter, ya negara ini tidak akan pernah aman,” tegasnya lagi.
Di akhir wawancara, Heri berharap penganugerahan gelar pahlawan bagi Soeharto menjadi momentum bagi bangsa untuk meneladani semangat pembangunan dan kedisiplinan yang pernah dibangun di masa lalu.
“Mudah-mudahan ini menjadi doa bagi bangsa kita agar lebih maju ke depan. Apa yang telah ditinggalkan Pak Harto harus kita jadikan pedoman, karena sejarah tidak bisa dihapus. Ia telah menulis tinta emas untuk negeri ini,” pungkasnya. (den)
Editor : Miftahul Khair