PONTIANAK POST — Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kalimantan Barat (Kalbar) terus mendorong pengembangan wisata gastronomi daerah. Salah satunya dilakukan melalui pengenalan kuliner tradisional Jimot Lulun di Desa Kumpang Ilong, Kabupaten Sekadau, belum lama ini.
Kepala Disporapar Kalbar Windy Prihastari, bersama Ketua Dekranasda Sekadau Magdalena Susilawati Aron, sempat turun langsung melihat dan mengikuti proses pembuatan kue tradisional tersebut. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi wisata kuliner berbasis budaya lokal sebagai daya tarik wisata unggulan di Sekadau.
Jimot Lulun dikenal sebagai makanan khas suku Mualang dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2020.
Cita rasa kue ini berasal dari bahan-bahan alami dengan proses masak yang masih tradisional. Biasanya, Jimot Lulun disajikan pada hari besar adat seperti Gawai Dayak, penyambutan tamu, hingga berbagai upacara adat sebagai simbol penghormatan, dan kebersamaan.
Baca Juga: Baidu Luncurkan Prosesor AI Mutakhir dan Superkomputer Baru di Baidu World 2025
Windy menegaskan, bahwa kuliner tradisional merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Kalbar. Ia menyebutkan bahwa pelestarian kuliner daerah dapat menjadi pintu masuk dalam penguatan ekonomi kreatif, dan pariwisata berbasis kearifan lokal.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin memperkenalkan bahwa wisata di Kalbar bukan hanya soal alam, tapi juga tentang cita rasa dan budaya yang hidup di masyarakat,” ujarnya.
Masyarakat Desa Kumpang Ilong menyambut baik kegiatan tersebut. Mereka berharap pengembangan wisata gastronomi dapat membawa Jimot Lulun semakin dikenal luas serta menarik wisatawan untuk datang ke Sekadau.
“Kalbar sangat kaya dengan potensi kulinernya. Yang mana kuliner itu tidak hanya kita bisa memperkenalkan cita rasanya, tetapi juga memperkenalkan budaya, dan sejarahnya yang biasa dikenal dengan istilah gastronomi kuliner,” pungkasnya. (bar)
Editor : Hanif