Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

RSUD Soedarso Alami Lonjakan Pasien IGD, Warga Diminta Gunakan Faskes Terdekat

Idil Aqsa Akbary • Selasa, 18 November 2025 | 10:59 WIB
Hary Agung Tjahyadi
Hary Agung Tjahyadi

PONTIANAK POST - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soedarso Pontianak mencatat lonjakan signifikan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sejak awal September 2025. Direktur RSUD Soedarso, Hary Agung Tjahyadi, mengatakan kenaikan jumlah pasien terjadi pada layanan anak maupun dewasa, sehingga tingkat keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR) beberapa kali melampaui kapasitas ideal.

“Memang ada peningkatan yang luar biasa di IGD. Peningkatan ini mulai terlihat sejak awal September saat terjadi lonjakan kasus morbili atau campak pada anak, disertai kasus demam seperti DBD atau DHF, dan demam lainnya,” ujar Hary, Senin (17/11).

Menurut dia, peningkatan pasien anak masih berlanjut hingga kini. Hal yang sama terjadi pada pasien dewasa yang datang langsung ke IGD. Jika dibandingkan semester pertama dan semester kedua tahun ini, peningkatan jumlah pasien yang dirujuk atau datang ke IGD mencapai 17,5 persen hingga 20 persen.

“BOR di IGD kami yang tadinya di angka 90-an persen, sekarang sekitar 90 persen, dan pernah pada satu waktu mencapai 232 persen,” katanya.

Berdasarkan data internal sejak September hingga kini, RSUD Soedarso menerima rata-rata 87 pasien per hari atau sekitar 2.606 pasien per bulan melalui IGD. Hary menjelaskan, salah satu penyebab membeludaknya layanan adalah tingginya kunjungan pasien dengan tingkat keparahan penyakit (severity level) yang sebenarnya tidak seluruhnya sesuai kompetensi RS tipe A.

Padahal, secara sistem rujukan, RS tipe A idealnya menangani pasien dengan severity level 2 dan 3. Namun, masyarakat masih banyak yang datang langsung ke IGD, termasuk pasien yang seharusnya dapat ditangani RS jejaring tipe B atau C. “Karena masih diperbolehkan rujukan langsung, masyarakat memilih ke IGD RSUD Soedarso. Sistem rujukan kita memang belum optimal sehingga pasien yang seharusnya bisa dilayani RS jejaring justru datang ke tipe A,” ujarnya.

Hary menambahkan, di satu sisi, beberapa RS daerah juga mengalami peningkatan pasien. Kapasitas yang terbatas menyebabkan sebagian besar pasien akhirnya dirujuk menuju RSUD Soedarso sebagai rujukan akhir. “Kami tidak mungkin menolak pasien. Akhirnya jumlah pasien sangat membeludak dan layanan IGD menjadi crowded,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hary menjelaskan, IGD RSUD Soedarso idealnya memiliki 22 tempat tidur. Namun akibat lonjakan pasien, rumah sakit terpaksa menambah hingga 50–60 tempat tidur tambahan, termasuk velbed yang diambil dari gudang logistik maupun fasilitas pelatihan.

Untuk mempercepat layanan, RSUD Soedarso juga menambah sekitar 30 tempat tidur khusus anak sejak September. Namun, hingga kini kapasitas tersebut masih terus penuh karena tingginya kasus anak yang membutuhkan pelayanan darurat.

Guna mengatasi situasi tersebut, RSUD Soedarso bersama Dinas Kesehatan Kalbar telah berkoordinasi dengan rumah sakit jejaring kabupaten/kota serta fasilitas kesehatan lainnya, termasuk rumah sakit TNI/Polri, guna mengoptimalkan sistem rujukan berjenjang.

Selain itu, RSUD Soedarso juga telah melakukan inisiatif pertemuan dengan RSUD jejaring dan klinik utama untuk membuka peluang rujukan horizontal atau rujuk balik. Dengan demikian, sebagian pasien dapat dialihkan sesuai kompetensi fasilitas kesehatan (faskes) terkait.

“Komunikasi ini penting supaya layanan tidak tertumpu di RSUD Soedarso. Harapannya, pasien bisa tersebar ke RS dan klinik jejaring sehingga pelayanan berjalan optimal,” harapnya.

Ia memastikan RSUD Soedarso tetap berkomitmen memberikan layanan bagi seluruh masyarakat yang membutuhkan, meski harus menambah kapasitas secara darurat. “Saya kira itu yang sudah kami lakukan. Kami tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat,” terangnya.

Hary juga mengimbau kepada masyarakat untuk memanfaatkan layanan puskesmas rawat inap maupun rumah sakit terdekat, khususnya RS tipe C, untuk penanganan kasus-kasus ringan hingga sedang. Langkah tersebut penting agar pelayanan darurat dapat merata di seluruh faskes.

Sementara, rujukan ke RSUD Soedarso sebagai RS tipe A dapat diprioritaskan bagi kasus-kasus berat yang tidak dapat ditangani di faskes tingkat bawah. “Jadi rujukan ke RSUD Soedarso (tipe A) bisa lebih diutamakan untuk rujukan kasus-kasus berat yang tidak bisa dilakukan di faskes RS tipe C atau B,” tutupnya.(bar)

 

Editor : Hanif
#fasilitas kesehatan #Ringan #RSUD Soedarso #kasus