PONTIANAK POST – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terus memantau penurunan okupansi moda transportasi darat, khususnya di rute lintasan Pontianak–Kuching. Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, Harisson, mengatakan fenomena ini merupakan mekanisme pasar akibat hadirnya alternatif perjalanan cepat dan murah melalui penerbangan Pontianak–Kuching.
“Kondisi ini tentunya termonitor secara serius. Kami menerima laporan intens dari operator bus lintas negara, agen travel, dan pelaku usaha, lalu melakukan evaluasi kebijakan untuk menjaga keseimbangan moda transportasi,” ujar Harisson.
Penurunan minat terhadap moda darat diperkirakan cukup signifikan. Data laporan menunjukkan jumlah penumpang bus lintas negara menurun hampir 40 persen. Dampaknya bukan hanya pada sektor transportasi, tetapi juga ekonomi lokal, termasuk UMKM, hotel, restoran, pusat oleh-oleh, hingga destinasi wisata di sepanjang jalur darat.
Pemerintah, kata Harisson, terus mengintensifkan koordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan moda darat tetap hidup dan relevan.
“Moda darat selama ini menjadi urat nadi penghubung wisatawan, pekerja lintas negara, hingga pelaku usaha. Penurunan ini tentu memengaruhi ekosistem ekonomi lokal,” tambah Harisson.
Harisson menyebut sejumlah langkah strategis tengah disiapkan untuk menjaga daya saing transportasi darat. Pertama, penataan layanan dan manajemen perbatasan, termasuk sinkronisasi jadwal layanan lintas batas agar perjalanan lebih efisien. Kedua, penguatan promosi wisata lintas darat bekerja sama dengan pelaku industri pariwisata, operator bus, dan agen travel.
Ketiga, harmonisasi tarif agar harga moda darat tetap kompetitif dibandingkan moda udara. Keempat, pemberian reward bagi perusahaan yang menjaga komitmen pelayanan publik lintas negara. Kelima, peningkatan kualitas pelayanan, mulai dari kenyamanan, keamanan, fleksibilitas barang bawaan, hingga fasilitas tambahan bagi wisatawan.
Selain itu, lanjut Harisson, pemerintah juga menekankan peningkatan kualitas pelayanan, integrasi layanan antarmoda, serta optimalisasi event tourism lintas batas untuk menarik wisatawan kembali menggunakan jalur darat.
Harisson menambahkan kolaborasi dengan negara bagian Sarawak juga menjadi salah satu strategi untuk mendorong mobilitas lintas negara.
“Kerja sama dengan Sarawak sudah terbangun melalui program Sosial Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo) yang digelar setiap tahun. Forum ini membahas penyederhanaan prosedur perbatasan, promosi wisata bersama, dan integrasi event lintas negara. Mobilitas darat merupakan program strategis bilateral yang terus kita kembangkan,” ujar Harisson.
Gubernur Kalbar, Ria Norsan, menilai bahwa adanya penerbangan Pontianak–Malaysia memberikan alternatif cepat bagi masyarakat, namun dampaknya terhadap moda darat tidak terlalu signifikan. Menurut Ria Norsan, pembukaan jalur penerbangan justru menjadi salah satu penggerak roda ekonomi.
“Sebenarnya tidak terlalu berdampak pada transportasi darat. Dengan adanya penerbangan, masyarakat bisa bepergian pulang-pergi dalam satu hari, misalnya untuk berobat ke Kuching. Di sisi lain, wisatawan dari Kuching juga datang ke Pontianak, berbelanja, makan, dan menginap, sehingga terjadi perputaran ekonomi yang positif,” jelas Ria Norsan.
Ria Norsan menambahkan bahwa faktor lain yang memengaruhi jumlah penumpang bus adalah kehadiran travel dengan mobil pribadi atau minibus yang kapasitas penumpangnya lebih sedikit.
“Sekarang tantangan bagi operator bus adalah meningkatkan kualitas layanan. Ketepatan waktu, kenyamanan, dan harga tiket menjadi faktor penting agar tetap menarik bagi penumpang. Jika harga tiket terlalu tinggi, tentu perlu disesuaikan,” tambah Ria Norsan.
Meski terjadi penurunan jumlah penumpang bus, Gubernur Norsan menegaskan bahwa pengaruhnya terhadap moda darat secara keseluruhan tidak besar. “Ada pengaruh, tetapi tidak drastis,” pungkasnya. (mse)
Editor : Hanif