Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Energi Biomassa Kalbar Hadapi Tantangan Lingkungan

Siti Sulbiyah • Minggu, 23 November 2025 | 16:53 WIB
BAHAN BAKAR: Truk Fuso mengangkut kayu untuk bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) milik PT. Rezeki Perkasa Sejahtera Lestari (RPSL) di Desa Wajok Hulu,
BAHAN BAKAR: Truk Fuso mengangkut kayu untuk bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) milik PT. Rezeki Perkasa Sejahtera Lestari (RPSL) di Desa Wajok Hulu,

PONTIANAK POST — Dosen Universitas Tanjungpura (Untan), Kiki Priyo Utomo, menyoroti persoalan pengembangan biomassa sebagai energi terbarukan di Kalimantan Barat (Kalbar).

Menurutnya, biomassa memang secara definisi masuk kategori energi terbarukan karena berasal dari sumber organik seperti pohon.

Namun, penerapannya di Kalbar tidak lepas dari berbagai tantangan lingkungan dan ketersediaan lahan.

Kiki menjelaskan, ketika biomassa masuk dalam daftar potensi energi terbarukan daerah, hal itu berpotensi berbenturan dengan keberadaan hutan alam.

“Kalau kita mau bikin biomassa, kita harus punya perkebunan tanaman untuk biomasa dulu, atau hutan yang dibuat sengaja untuk biomasa. Nah, di mana hutan ini kita akan bangun? Apakah di hutan alam yang kemudian kita potong, atau di lahan yang sudah digunakan untuk tanaman lain lalu kita ganti?” ujarnya saat menjadi pembicara dalam kegiatan Diskusi bertajuk "Satu Tahun Pemerintahan Prabowo- Gibran, Dari Sudut Pandang Energi" yang digelar Jumat (21/11).

Menurutnya, Kalbar kini memiliki keterbatasan lahan yang masih tersisa untuk penanaman baru. Padahal, biomassa membutuhkan area yang luas karena efisiensi energi yang dihasilkan relatif kecil.

“Perlu banyak bahan baku untuk menghasilkan energi yang sedikit. Itu kondisi teknologi sekarang. Kita tidak tahu apakah ke depan bisa berkembang,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa isu biomassa harus dilihat bukan hanya dari sisi energi, tetapi juga dampak lingkungan, terutama lokasi perkebunan biomassa dan kebersihan proses pembakaran.

Emisi yang tinggi justru bisa membuat biomassa lebih merusak dibanding energi fosil.

Lebih jauh, Kiki menegaskan bahwa energi yang benar-benar ramah lingkungan adalah energi yang dampaknya kecil terhadap lingkungan sekaligus sumbernya cepat pulih.

Meski demikian, ia optimistis Kalbar memiliki potensi besar, bukan hanya dari sisi sumber energinya, tetapi juga kualitas SDM yang inovatif dalam mencari solusi energi terbarukan.

Ia mencontohkan adanya usulan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung yang dimuat dalam laman website Inovasi Kalbar.

Meski ia belum mendapat konfirmasi soal pihak pengusul, Kiki menilai ide tersebut menarik dan relevan dengan kondisi Kalbar.

Ia menilai PLTS terapung cocok karena masyarakat sudah terbiasa beraktivitas di sungai, perangkat instalasinya mudah dibawa ke daerah pedalaman yang aksesnya mengandalkan jalur air, serta minim persoalan pembebasan lahan karena dipasang di atas permukaan air.

Menurut penelitian yang dikutip dalam usulan itu, panel surya yang dipasang di atas air memiliki efisiensi lebih tinggi karena suhunya dapat terjaga.

“Artinya, potensi energi di Kalbar bukan hanya pada sumbernya, tetapi juga pada manusia yang punya gagasan inovatif,” katanya. (sti)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Biomassa #energi #Lingkungan