Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Industri Pulau Penebang Tumbuh Pesat, Serapan Tenaga Kerja Lokal Capai 69 Persen  

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 30 November 2025 | 20:20 WIB

 

 

Direksi DIB, Rasnius Pasaribu saat memaparkan perkembangan Proyek Strategis Nasional Kawasan Industri Pulau Penebang di Pontianak, Jumat (28/11).
Direksi DIB, Rasnius Pasaribu saat memaparkan perkembangan Proyek Strategis Nasional Kawasan Industri Pulau Penebang di Pontianak, Jumat (28/11).

PONTIANAK POST — Komitmen PT Dharma Inti Bersama (DIB) dalam memprioritaskan tenaga kerja lokal di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), Kabupaten Kayong Utara, mulai menunjukkan hasil nyata.

Di tengah dorongan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja luar daerah, KIPP justru tampil sebagai kawasan industri yang paling agresif menyerap pekerja asal Kalimantan Barat.

Hingga Oktober 2025, DIB mencatat memiliki 1.861 karyawan, dengan 69 persen di antaranya merupakan tenaga kerja lokal.

Mayoritas berasal dari Kabupaten Kayong Utara, sebuah capaian yang dinilai sebagai indikator kuat bahwa Proyek Strategis Nasional (PSN) ini tidak hanya menghadirkan investasi, tetapi juga membuka jalan bagi kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir selatan Kalbar.

“Serapan tenaga kerja lokal menjadi salah satu prioritas kami. Kehadiran KIPP tidak hanya membangun industri, tetapi juga membuka peluang bagi putra-putri daerah untuk berkembang, memperoleh pendapatan, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujar External Relation Manager DIB, Seno Ario Wibowo, saat silaturahmi media di Pontianak, Jumat (28/11).

Tingginya penyerapan tenaga kerja lokal turut diperkuat dengan program peningkatan kompetensi melalui pelatihan, sertifikasi, hingga transfer teknologi.

DIB menargetkan pembangunan SDM ini dapat ikut mendorong perbaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kayong Utara yang hingga 2024 masih berada di bawah rata-rata Provinsi Kalbar.

Dampak ekonomi kawasan juga mulai tercermin pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pemerintah Kabupaten Kayong Utara menyebutkan ada tambahan PAD sebesar Rp918 juta dalam APBD Perubahan 2025, sebagian dipicu oleh geliat ekonomi dan investasi yang muncul dari aktivitas KIPP.

 

KIPP Diproyeksi Jadi Sentra Aluminium Nasional 

KIPP dikembangkan sebagai pusat industri pengolahan dan pemurnian bauksit menjadi alumina dan aluminium menggunakan teknologi Bayer dan Hall-Heroult.

Keberadaan kawasan ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan industri nasional, mengingat kebutuhan aluminium Indonesia yang mencapai 1,2 juta ton per tahun masih bergantung pada impor hingga 56 persen. 

Direksi DIB, Rasnius Pasaribu, menegaskan ambisi perusahaan untuk menjadi tulang punggung pasokan aluminium nasional.

“Kami berharap dapat menjadi pendukung pemenuhan kebutuhan aluminium Indonesia,” ujarnya.

Selain serapan tenaga kerja langsung, DIB juga menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) berkelanjutan yang menyasar pendidikan, kesehatan, penguatan ekonomi pesisir, dan infrastruktur desa.

Program beasiswa S1, penyuluhan PHBS di sekolah, pelatihan nelayan, bantuan sarana perikanan, hingga pembinaan UMKM menjadi pilar dukungan perusahaan untuk membangun SDM lokal yang kompeten dan adaptif.

Dalam kesempatan yang sama, Pasaribu menegaskan pentingnya peran media sebagai mitra strategis perusahaan.

Menurutnya, arus informasi yang cepat menuntut kehadiran jurnalisme profesional untuk memastikan publik memperoleh informasi yang akurat dan relevan.

“Media massa adalah mitra penting bagi kami. Informasi yang benar dapat memperkuat pemahaman masyarakat mengenai manfaat kehadiran industri ini bagi pembangunan,” ujarnya. (ote/r)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#pulau penebang #DIB #kayong utara #tenaga kerja lokal #pontianak #CSR