PONTIANAK POST - Program Studi Pendidikan Matematika Universitas PGRI Pontianak kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan kerja sama internasional melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Penguatan Nilai Multikultural Pontianak–Sarawak Melalui Media Interaktif dan Gamifikasi untuk Siswa Berkebutuhan Khusus (ADHD)” di Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) Matang Jaya, Kuching, Sarawak, Malaysia. Kegiatan ini melibatkan guru, siswa, serta pihak manajemen sekolah dan mendapat sambutan positif dari seluruh peserta.
Kegiatan PKM ini berfokus pada pengembangan pembelajaran inklusif berbasis teknologi yang dirancang khusus untuk mendukung kebutuhan belajar siswa dengan ADHD. Tim PKM Universitas PGRI Pontianak memberikan pelatihan intensif kepada guru-guru SMK Matang Jaya mengenai penggunaan media interaktif, seperti Kahoot, Wordwall, dan aplikasi gamifikasi lainnya yang dinilai mampu meningkatkan konsentrasi dan keterlibatan siswa.
Selain itu, pelatihan ini juga mengintegrasikan nilai-nilai multikultural Pontianak–Sarawak, sehingga guru tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman mengenai pentingnya pendidikan berbasis keberagaman budaya.
Dalam sesi praktik bersama siswa, tim PKM menyajikan serangkaian permainan edukatif berbasis digital yang memuat unsur budaya Melayu serumpun. Siswa dengan ADHD tampak sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut.
Observasi menunjukkan peningkatan fokus, kemampuan mengikuti instruksi, serta keberanian siswa dalam berpartisipasi. Guru-guru SMK Matang Jaya mengakui bahwa pendekatan gamifikasi memberi dampak besar terhadap peningkatan motivasi belajar siswa berkebutuhan khusus.
Pihak manajemen sekolah juga terlibat aktif melalui diskusi dan sosialisasi terkait penguatan nilai multikultural di lingkungan sekolah. Kepala sekolah dan jajaran manajemen menyampaikan apresiasi tinggi atas kontribusi Universitas PGRI Pontianak dalam mendukung pengembangan sekolah inklusif.
Mereka menilai bahwa kegiatan ini membuka peluang kolaborasi pendidikan lintas negara yang lebih kuat, khususnya karena Pontianak dan Sarawak memiliki kedekatan budaya dan sejarah yang sangat relevan untuk diterapkan dalam pendidikan multikultural.
Menurut tim pelaksana PKM, kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat dalam aspek pembelajaran, tetapi juga memperkuat hubungan bilateral antar lembaga pendidikan di kedua negara. Guru menjadi lebih percaya diri dalam menggunakan teknologi pembelajaran, sementara siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan, berstruktur, dan bermakna.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan partisipasi siswa berkisar 30–40 persen dibandingkan pembelajaran konvensional.
Keberhasilan kegiatan ini mendorong kedua institusi untuk melanjutkan kerja sama melalui pengembangan modul digital pembelajaran ADHD, pertukaran praktik baik secara berkala, serta rencana pelaksanaan program kelas multikultural Pontianak–Sarawak.
Tim PKM Universitas PGRI Pontianak berharap kerja sama ini menjadi langkah penting dalam memajukan pendidikan inklusif dan memperkokoh persaudaraan budaya antara Indonesia dan Malaysia.
Kegiatan PKM ini sekaligus menjadi bukti nyata kontribusi Universitas PGRI Pontianak dalam memperluas jejaring internasional dan membawa manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus. (*)
Editor : Miftahul Khair