PONTIANAK POST – Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 yang diprediksi memicu lonjakan mobilitas dan permintaan pangan, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menegaskan bahwa provinsi ini sudah menyiapkan langkah antisipasi penuh. Fokus utamanya: menjamin stok kebutuhan pokok aman dan mengawal kesiapan destinasi wisata yang dipadati masyarakat pada akhir tahun.
“Semua bahan pokok harus diantisipasi. Kami juga mempersiapkan daerah-daerah objek wisata menjelang Tahun Baru agar kondisinya aman dan siap,” ujar Ria Norsan di sela Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah Antisipasi Nataru 2026, Senin (1/12).
Rapat yang digelar Pemerintah Pusat ini membahas isu strategis jelang Nataru—mulai dari lonjakan mobilitas warga, potensi gejolak harga pangan, tekanan pada sektor hotel, restoran, wisata, hingga meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.
Rakor dipimpin langsung oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan dihadiri Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Wamenko Polkam Lodewijk F. Paulus, Kepala Basarnas Mohammad Syafii, Wakil Kepala BIN Komjen Imam Sugianto, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardana, serta perwakilan BNPB, Pertamina, dan seluruh kepala daerah.
Tito menekankan bahwa pemerintah pusat memberi perhatian besar pada dua isu krusial: kesiapan sistem transportasi dan stabilitas pasokan bahan pokok untuk menekan inflasi. “Di momen Nataru seperti ini, yang paling penting adalah kesiapan sistem transportasi, baik darat, laut, maupun udara, karena mobilitas masyarakat akan tinggi,” ujarnya.
Menurut Tito, periode Nataru hampir selalu disertai peningkatan permintaan pangan. “Karena itu, kita melibatkan seluruh pemangku kepentingan di sektor pangan, termasuk unsur pengamanan,” katanya. Ia juga memberi perhatian khusus pada potensi bencana hidrometeorologi yang dinilai cepat dan sulit diprediksi.
“Kita belum tahu. Semuanya perlu persiapan, seperti yang terjadi di Sumatera Utara, bencananya sangat cepat sehingga kita kurang siap,” tegasnya. Tito menekankan pentingnya kewaspadaan seluruh pihak. “Potensi bencana bisa terjadi kapan saja dan di mana saja,” ujarnya. (mse)
Editor : Hanif