Aristono Edi Kiswantoro• Sabtu, 6 Desember 2025 | 10:38 WIB
Layanan GERAI-KU On The Road di Kalbar.
DI tengah fluktuasi harga pangan yang kerap menghantui rumah tangga Indonesia, Kalimantan Barat menghadirkan satu terobosan menarik: GERAI-KU (Gerai Komoditas Unggulan). Program ini diluncurkan oleh Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Provinsi Kalimantan Barat pada 22 Januari 2025, dengan tujuan sederhana namun berdampak besar memangkas rantai panjang pemasaran produk peternakan agar harga lebih stabil dan peternak kecil mendapat keuntungan yang layak.
Langkah ini lahir dari realitas lapangan yang sudah lama diketahui namun sulit diatasi: rantai distribusi komoditas peternakan, khususnya telur dan daging ayam, terlalu panjang.
Dari peternak ke pedagang pengumpul, pedagang besar, pengecer, hingga akhirnya sampai ke tangan konsumen, setiap tahap menambah biaya dan menekan margin keuntungan peternak kecil. Akibatnya, harga di pasar tinggi, sementara peternak tetap hidup pas-pasan.
GERAI-KU berusaha memutus lingkaran itu. Dengan menggandeng Koperasi Konsumen Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Kalimantan Barat, pemerintah daerah membangun sistem distribusi langsung dari produsen ke konsumen. Melalui kerja sama operasional ini, telur, daging ayam, dan berbagai produk unggas lain kini bisa dibeli dengan harga produsen tanpa perantara yang berlapis-lapis.
Menjemput Pasar dengan Strategi Pemasaran Modern
Keunggulan GERAI-KU bukan hanya pada efisiensi distribusi, tetapi juga pada penerapan strategi pemasaran modern. Mengacu pada konsep value chain efficiency dari Michael Porter (1985), GERAI-KU berhasil meningkatkan efisiensi rantai nilai dengan memangkas tahapan distribusi yang tidak produktif. Setiap mata rantai yang tidak memberi nilai tambah dihilangkan, sehingga aliran barang menjadi lebih cepat dan biaya logistik menurun.
Dalam teori pemasaran modern, praktik seperti ini dikenal sebagai disintermediasi penghapusan perantara untuk memperkuat hubungan langsung antara produsen dan konsumen (Kotler & Keller, 2020). Dengan mekanisme ini, peternak memperoleh harga jual yang lebih baik, sementara masyarakat menikmati harga yang lebih terjangkau. Hasilnya: efisiensi tercipta, keadilan ekonomi terwujud.
Lebih jauh, GERAI-KU menerapkan prinsip STP (Segmentation, Targeting, Positioning) dengan tepat. Segmentasinya mencakup masyarakat umum, pegawai negeri di sekitar lokasi gerai, hingga pelaku usaha kecil seperti warung makan dan pedagang harian.
Target pasarnya jelas: rumah tangga dan pelaku usaha yang membutuhkan pasokan rutin dengan harga stabil. Sedangkan posisi yang diambil ialah sebagai gerai pangan peternakan sehat, aman, dan terjangkau, yang menawarkan produk lebih segar dan harga lebih transparan dibanding pasar tradisional.
Data yang Bicara: Efisiensi Nyata, Bukan Sekadar Retorika
Capaian GERAI-KU sepanjang Januari hingga November 2025 membuktikan efektivitasnya bukan hanya di atas kertas. Program ini telah menyalurkan 25,26 ton telur dan 4,76 ton daging ayam dengan total transaksi mencapai Rp 871,93 juta. Dari data itu, muncul fakta menarik: terdapat selisih harga (nilai koreksi) sebesar Rp 89,1 juta dibanding harga pasar umum.
Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan potret nyata dari efisiensi harga yang langsung dirasakan masyarakat tanpa menggunakan subsidi pemerintah.
Artinya, setiap rupiah yang dihemat adalah nilai ekonomi baru yang dapat dialihkan konsumen untuk kebutuhan lain. Lebih jauh, nilai koreksi ini juga menjadi indikator bahwa sumber utama mahalnya pangan bukanlah biaya produksi peternak, melainkan rantai distribusi yang berlapis. Ketika rantai itu dipangkas secara cerdas, keseimbangan harga otomatis tercipta.
Gerai-KU On The Road: Inovasi yang Bergerak
Menariknya, program ini tidak berhenti di satu titik. Melalui inisiatif GERAI-KU On The Road, layanan penjualan keliling kini menjangkau berbagai wilayah mulai dari Pontianak, Kubu Raya, Mempawah, Landak, Bengkayang, Sanggau, Sekadau, hingga Ketapang. Di setiap lokasi, masyarakat bisa membeli telur ayam dengan harga hanya Rp 1.700–1.900 per butir, jauh di bawah harga pasar yang berkisar Rp 2.000–2.200.
Harga yang lebih rendah ini bukan hasil subsidi, tetapi buah dari efisiensi sistem. Dengan meniadakan perantara dan mengefisienkan logistik, biaya bisa ditekan tanpa merugikan peternak. Inilah contoh nyata bagaimana kebijakan publik yang sederhana tetapi strategis mampu melahirkan efek ekonomi berantai dari peningkatan daya beli hingga stabilitas harga regional.
Digitalisasi: Transparansi dan Akselerasi Baru
Di era digital, informasi adalah kekuatan. GERAI-KU memahami hal itu dengan baik. Promosi dan pengelolaan pasar kini dilakukan melalui media sosial dan sistem digital informasi harga. Publik dapat memantau harga dan stok secara real time tanpa harus mendatangi pasar. Langkah ini menciptakan transparansi baru dalam rantai pasok, menekan ruang spekulasi, dan memperkuat kepercayaan antara produsen, konsumen, dan pemerintah.
Pendekatan ini sejalan dengan temuan International Trade Centre (ITC, 2023) dan riset Nakasone & Torero (2016) yang menunjukkan bahwa digitalisasi agribisnis memperluas akses pasar, menurunkan biaya transaksi, dan meningkatkan efisiensi tata niaga. Ketika peternak dapat mengunggah stok dan harga langsung melalui platform digital, informasi bergerak lebih cepat dibandingkan barang itu sendiri.
Namun digitalisasi tidak hanya soal teknologi. Ia juga menuntut literasi digital dari para peternak dan pelaku lapangan. Program ini masih menghadapi tantangan dalam aspek tersebut, karena tidak semua peternak memahami penggunaan sistem daring. Maka, pelatihan dan pendampingan menjadi kunci agar transformasi digital berjalan efektif dan inklusif.
Dampak Sosial dan Ekonomi: Dari Kesejahteraan ke Ketahanan Pangan
Jika ditinjau lebih luas, GERAI-KU bukan hanya program distribusi, melainkan kebijakan multidimensi yang menyentuh aspek sosial, ekonomi, dan ketahanan pangan sekaligus. Dari sisi sosial, gerai ini memberikan akses pangan bergizi dengan harga terjangkau, membantu masyarakat menjaga pola konsumsi protein hewani.
Dari sisi ekonomi, ia memperkuat struktur pasar lokal dengan menekan biaya logistik dan memperbaiki posisi tawar peternak kecil.
Sedangkan dari dimensi ketahanan pangan, GERAI-KU berperan sebagai penyangga pasokan daerah, terutama di masa menjelang hari besar keagamaan ketika permintaan melonjak. Dengan jalur distribusi yang lebih pendek dan terkendali, fluktuasi harga dapat ditekan.
Model seperti ini terbukti efektif menurunkan tekanan inflasi jangka pendek, sebagaimana tercatat dalam laporan Pusat Informasi Harga Pangan Nasional (2024) yang menyebut telur ayam ras sebagai salah satu pemicu inflasi bulanan di banyak daerah.
Dengan demikian, GERAI-KU tidak hanya menjual telur dan daging tap juga menjual rasa aman atas harga pangan.
Tantangan dan Arah ke Depan
Meski sukses di fase awal, GERAI-KU tidak bebas dari tantangan. Kapasitas logistik masih perlu diperkuat agar mampu mengelola volume distribusi yang lebih besar tanpa mengorbankan kualitas, terutama untuk komoditas yang mudah rusak. Selain itu, perluasan jangkauan ke wilayah pedesaan menjadi prioritas agar manfaatnya tidak hanya dinikmati masyarakat kota.
Inovasi pengemasan dan penyimpanan juga menjadi isu penting. Tanpa sistem rantai dingin (cold chain) yang memadai, efisiensi distribusi bisa berbalik menjadi kerugian. Namun semua tantangan ini bersifat teknis dan dapat diatasi dengan dukungan kebijakan berkelanjutan, kemitraan swasta, dan penguatan kapasitas kelembagaan.
Model yang Layak Direplikasi
Keberhasilan GERAI-KU memberikan pelajaran penting bagi daerah lain di Indonesia. Program ini memenuhi tiga prinsip utama keberhasilan kebijakan publik: dampaknya terukur, skemanya sederhana namun strategis, dan modelnya mudah direplikasi.
Di saat banyak daerah masih mengandalkan operasi pasar musiman, Kalimantan Barat justru memilih pendekatan sistemik dan berkelanjutan.
Ke depan, pemerintah provinsi menargetkan perluasan gerai ke lebih banyak kabupaten serta integrasi dengan program penguatan rantai pasok.
Dengan dukungan digitalisasi dan partisipasi masyarakat, GERAI-KU berpotensi menjadi model “smart food distribution system” tingkat daerah bukan hanya menstabilkan harga, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan peternak.
Harga Ideal Itu Ada
GERAI-KU membuktikan bahwa harga ideal bukan mitos. Ketika rantai distribusi dipangkas tanpa menekan produsen, dan ketika digitalisasi membuka akses informasi secara adil, pasar menjadi lebih efisien sekaligus manusiawi. Inilah wajah baru pemasaran produk peternakan di Indonesia: sederhana, transparan, dan berpihak kepada rakyat. **
Penulis: Meitta Dwi Maretania Effendi, Hartanti Ayu Wulandari, Pintaka Suprihatin dan Eva Dolorosa
*) Magister Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura
Daftar Pustaka
Porter, M.E. (1985). Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance. Free Press. DOI: 10.1007/978-1-349-14865-3