PONTIANAK POST — Universitas Tanjungpura (Untan) mendukung pelaksanaan Peluncuran Nasional Program Sidaya (Usia Berdaya) yang digelar di kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat. Keterlibatan Untan pada kegiatan ini, agar Kalbar menjadi salah satu daerah percontohan dalam implementasi Program Sidaya menuju pembangunan kesehatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Peluncuran nasional “Sidaya” dilakukan secara hybrid yang dipimpin Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Kepala BKKBN Republik Indonesia, Dr. H. Wihaji, M.Pd., S.Ag dari Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Program unggulan quick wins dari Kemendukbangga/ BKKBN ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia agar tetap aktif, sehat, mandiri dan produktif.
Wihaji menyampaikan bahwa dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, ditemukan masih tingginya proporsi penduduk lansia di Indonesia mencapai 12 persen. Menurutnya, kondisi ini dapat menjadi potensi bonus demografi apabila lansia mendapatkan dukungan yang memadai untuk tetap aktif dan berdaya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa tantangan kesehatan masih perlu mendapat perhatian serius, mengingat 42,81 persen lansia dilaporkan mengalami keluhan kesehatan dan sekitar 20,71 persen memiliki komorbiditas.
“Pelayanan kesehatan harus terus diperkuat,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan peluncuran Program Sidaya di Kalimantan Barat turut diisi dengan materi bertema “Sehat di Usia Berdaya: Kurangi Ketergantungan Obat dengan Pola Hidup Sehat.” Materi disampaikan Dr. Nurmainah, S.Si., M.M., Apt, Direktur Pascasarjana Universitas Tanjungpura.
Nurmainah merupakan dosen di Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura yang juga pemerhati pengobatan lansia. Tema tersebut diusung melihat komorbiditas yang dialami lansia bersifat kronis menyebabkan lansia berisiko menerima lima obat atau lebih secara bersamaan setiap harinya yang dikenal dengan istilah polifarmasi.
"Polifarmasi yang terjadi pada lansia memberikan dampak negatif, seperti sindrom lansia, adverse drug reaction atau kejadian efek samping, prescribing cascade atau pemberian obat untuk mengatasi gejala yang ditimbulkan akibat efek samping obat sebelumnya, dan interaksi obat,"ungkap Nurmainah.
Salah satu contoh yang disampaikanya dalam kasus prescribing cascade pada lansia adalah penggunaan amlodipin yang memiliki risiko terjadinya edema sehingga pasien mendapatkan terapi furosemide.
"Efek samping dari penggunaan furosemide adalah hipokalemia sehingga pasien diberikan suplemen kalium," ucapnya.
Pemberian polifarmasi akibat prescribing cascade tersebut dapat menyebabkan kompleksitas dalam penentuan terapi obat yang benar-benar diperlukan lansia dalam mengatasi permasalahan utama medisnya. Di sisi lain, polifarmasi juga berdampak pembiayaan pengobatan pada lansia.
Perubahan farmakokinetik obat pada pasien lansia meliputi penurunan absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi obat sehingga penting bagi lansia untuk mengurangi ketergantungan penggunaan obat-obatan. Penggunaan obat tidak boleh menjadi solusi pertama dalam penanganan keluhan kesehatan ringan.
"Bagi pasien lansia yang harus mengggunakan obat untuk mengatasi penyakit kronik diwajibkan tetap mejaga pola hidup sehat. Pola hidup sehat dapat mengurangi jumlah obat dan dosis obat pasien lansia dengan penyakit kronik," paparnya.
Nurmainah mengajak peserta untuk memahami bahwa pola hidup sehat merupakan langkah utama bagi lansia untuk menjaga kebugaran.
"Pola hidup sehat, seperti aktivitas fisik teratur, konsumsi pangan bergizi, manajemen stres, tidur cukup, dan stimulasi kognitif, kesehatan mental serta sosial terbukti lebih efektif menjaga kesehatan jangka panjang," pungkasnya. (mrd)
Editor : Hanif