Pagi itu, Sabtu (13/12), halaman Masjid Ikhwanul Mukminin di Sungai Raya Dalam mulai ramai sejak fajar belum sepenuhnya terangkat. Sebanyak 31 jamaah berkumpul, bukan sekadar untuk bepergian, melainkan untuk menapak jejak sejarah Islam yang pernah tumbuh dan berakar kuat di tanah Mempawah.
TEPAT pukul 06.30 WIB, rombongan berangkat setelah doa bersama dipanjatkan. Enam kendaraan bergerak perlahan meninggalkan masjid, membawa harap agar perjalanan bukan hanya sampai tujuan, tetapi juga sampai pada makna. Wisata religi ini dipimpin oleh Ketua Lembaga Masjid Ikhwanul Mukminin, H. Ahmad Efendi Lubis, SE, yang menekankan bahwa ziarah adalah sarana mengingat jasa para pendahulu, sekaligus menata hati agar tetap rendah dan bersyukur.
Singgah Sejenak, Menata Niat
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, rombongan singgah di Masjid At-Taqwa Mempawah. Di masjid ini, jamaah beristirahat dan sarapan pagi. Namun lebih dari itu, singgah sejenak menjadi ruang untuk menata kembali niat, sebelum melangkah ke situs-situs yang menyimpan jejak ulama besar Kalimantan Barat.
Makam Habib Husein Al-Qadri: Ulama, Dakwah, dan Peradaban
Tujuan utama pertama adalah Makam Habib Husein Al-Qadri, seorang ulama besar yang dikenal sebagai peletak dasar dakwah Islam di wilayah Pontianak dan sekitarnya. Habib Husein Al-Qadri bukan sekadar tokoh agama, tetapi figur sentral dalam pembentukan tradisi keislaman dan jaringan keilmuan di Kalimantan Barat.
Di kompleks makam tersebut, jamaah melaksanakan tahlil dan doa bersama. Suasana hening dan khusyuk menyelimuti area ziarah. Bagi jamaah, kehadiran di makam Habib Husein Al-Qadri menjadi pengingat bahwa Islam di Kalimantan Barat tumbuh melalui keteladanan, akhlak, dan dakwah yang menyejukkan, bukan paksaan.
Secara historis, Habib Husein Al-Qadri dikenal sebagai ulama yang berperan besar dalam membimbing umat dan menjadi rujukan keagamaan. Jejak dakwahnya melahirkan generasi penerus yang kemudian memperkuat struktur sosial dan keagamaan masyarakat Melayu di wilayah ini. Nilai inilah yang menjadi titik refleksi jamaah—bahwa dakwah sejati dibangun dari kesabaran dan keteladanan.
Opu Daeng Menambon: Raja, Ulama, dan Penyatu Umat
Dari makam ulama, rombongan melanjutkan perjalanan ke Sebukit Rama, menuju Makam Opu Daeng Menambon. Sosok ini menempati posisi penting dalam sejarah Mempawah sebagai pendiri Kerajaan Mempawah Islam sekaligus pemimpin yang memadukan kekuasaan politik dan nilai keislaman.
Di hadapan makam Opu Daeng Menambon, jamaah kembali melantunkan tahlil dan doa. Ziarah di tempat ini tidak hanya bernuansa spiritual, tetapi juga historis. Opu Daeng Menambon dikenal sebagai tokoh Bugis yang berhasil menyatukan berbagai elemen masyarakat, membangun pemerintahan yang berpijak pada adat dan syariat, serta menjadikan Islam sebagai fondasi kehidupan sosial.
Dalam konteks ini, ziarah menjadi ruang belajar bahwa Islam di Mempawah berkembang melalui sinergi ulama dan umara, sebuah model kepemimpinan yang relevan hingga kini. Nilai kepemimpinan Opu Daeng Menambon—adil, religius, dan merangkul keberagaman—menjadi pelajaran penting bagi generasi masa kini.
Menutup Perjalanan dengan Ibadah dan Kebersamaan
Rangkaian ziarah ditutup dengan shalat Zuhur berjamaah di Masjid Agung Al Falah Mempawah, masjid kebanggaan masyarakat setempat yang menjadi simbol keberlanjutan tradisi Islam di daerah ini. Dari masjid, rombongan menuju Rumah Makan Dapur Ersa Mempawah untuk makan siang bersama.
Di meja makan, suasana berubah menjadi lebih cair. Tawa, obrolan ringan, dan diskusi evaluatif menyatu. Jamaah membahas pelaksanaan kegiatan, sekaligus merancang perbaikan untuk wisata religi mendatang.
Lebih dari Sekadar Perjalanan
Wisata religi ini menegaskan bahwa ziarah bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin dan intelektual. Melalui kunjungan ke makam Habib Husein Al-Qadri dan Opu Daeng Menambon, jamaah Masjid Ikhwanul Mukminin diajak memahami bahwa Islam di Kalimantan Barat tumbuh melalui dakwah ulama dan kebijaksanaan pemimpin.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat pembelajaran sejarah, penguatan ukhuwah, dan pembentukan kesadaran kolektif umat.**
Editor : Salman Busrah