WAKTU seolah melambat di ujung tahun. Ada jeda untuk menoleh ke belakang, menata ingatan, dan merapikan rasa syukur. Di ruang itulah nama Sugioto, S.H., M.Kn—akrab disapa Rico—hadir sebagai potret ketekunan yang berjalan tanpa gaduh.
Menjelang akhir tahun, banyak orang memilih berhenti sejenak—menoleh ke belakang, menghitung nikmat, dan merangkai syukur. Bagi Rico, akhir tahun bukan sekadar penutup kalender, melainkan ruang perenungan atas jalan panjang pengabdian yang telah ditempuh dengan tenang dan konsisten.
Dengan penampilan sederhana namun berwibawa, Rico dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi nilai profesionalisme, integritas, dan kesetiaan pada proses. Latar belakang keilmuan hukum yang kuat dipadukan dengan ketekunan dalam praktik telah menempatkannya sebagai figur yang disegani—bukan karena sorotan, melainkan karena kerja nyata yang terus dijaga mutunya.
Penganugerahan gelar kehormatan Dato’ Sri Yudha Pakunegara yang disematkan kepadanya bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah. Ia memaknainya sebagai pengingat bahwa setiap capaian sejatinya adalah titipan, yang harus dibalas dengan tanggung jawab moral dan manfaat yang lebih luas bagi sesama.
Di tengah dinamika zaman yang bergerak cepat, Rico memilih langkah yang ajek. Ia meyakini bahwa keberhasilan bukan hanya tentang sampai, tetapi tentang bagaimana sampai—dengan etika, kesabaran, dan niat lurus. Prinsip itulah yang membuatnya tetap teguh, bahkan ketika jalan terasa sunyi.
Menutup tahun ini, Ketua Umum FOBI Kalbar ini mengungkapkan rasa syukur atas kesehatan, kepercayaan, dan kesempatan untuk terus belajar. Baginya, syukur bukan sekadar kata, melainkan sikap hidup: menerima dengan rendah hati, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan berbagi sejauh yang mampu.
Akhir tahun menjadi titik jeda—bukan untuk berhenti, tetapi untuk menguatkan langkah ke depan. Dengan doa dan harapan, Rico yang juga pengurus PMI Kota Pontianak menatap tahun baru sebagai lembaran amanah yang harus diisi dengan karya, keteladanan, dan kebermanfaatan yang berkelanjutan.
Karena pada akhirnya, yang tinggal bukanlah riuh pujian, melainkan jejak kebaikan yang ditinggalkan.(r)
Editor : Salman Busrah