PONTIANAK POST - Setiap tahun, langit Kota Pontianak seakan terbelah ketika replika naga raksasa meliuk di sepanjang jalan protokol. Atraksi naga bukan sekadar hiburan, melainkan ruh dan magnet utama Festival Cap Go Meh (CGM) yang selalu menyedot perhatian ribuan warga serta wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
Di balik kemegahan tarian naga itu, tersimpan dedikasi para pengrajin lokal yang bekerja di balik layar.
Salah satu sosok penting di balik keindahan replika naga tersebut adalah Edwin. Di sebuah gang sempit di Gang Gajahmada 17, Jalan Gajah Mada, Pontianak, potongan rotan dan kain menjadi bagian dari kesehariannya.
Di rumah sederhana itu, Edwin menekuni profesinya sebagai pembuat replika naga, menghidupkan sosok mitologi dengan ketelatenan dan keterampilan tangan.
Bagi warga sekitar, kediaman Edwin bukan sekadar rumah, melainkan bengkel seni tempat replika naga dirakit tahap demi tahap.
Perjalanan Edwin sebagai perajin dimulai pada 2019. Saat itu, ia belajar langsung dari seorang maestro bernama Anex.
Setelah sang guru wafat, Edwin memutuskan melanjutkan keterampilan tersebut secara mandiri. Baginya, merangkai naga bukan semata urusan bisnis, tetapi juga upaya menjaga warisan seni yang telah diwariskan kepadanya.
Di bengkel kerjanya yang sederhana, Edwin dibantu sejumlah rekan yang berbagi tugas, mulai dari merangkai kawat hingga memasang sisik.
Orang tuanya pun kerap turun tangan membantu merakit rangka kayu dan rotan yang menjadi tulang punggung replika naga.
“Pembuatan satu naga memerlukan waktu sekitar satu hingga satu setengah bulan,” ujar Edwin di sela kesibukannya.
Menjelang Cap Go Meh tahun ini, aktivitas di Gang Gajahmada 17 meningkat signifikan. Edwin tercatat memproduksi 10 replika naga, terdiri atas delapan naga besar dengan panjang sekitar 40 meter dan dua naga berukuran lebih kecil dengan panjang sekitar 35 meter.
Meski puncak festival berlangsung pada Februari, pengerjaan pesanan telah dimulai sejak tujuh bulan sebelumnya. Hal itu dilakukan demi menjaga kualitas, mengingat setiap yayasan memiliki permintaan model dan detail yang berbeda.
“Pesanan tidak hanya datang dari Pontianak, tetapi juga dari luar kota. Setiap naga dibuat sesuai karakter dan model yang diinginkan pemesan,” jelasnya.
Nilai seni dan kerja keras tersebut sebanding dengan biaya produksi. Satu replika naga dibanderol antara Rp20 juta hingga Rp30 juta, bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan detail.
Kini, naga-naga hasil tangan dingin Edwin siap beraksi. Saat mereka meliuk di tengah kepulan asap hio dan dentuman perkusi, kebanggaan Edwin pun turut terbang tinggi bersama liukan sang naga. (yad)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro