PONTIANAK POST – Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur Kalimantan Barat (Kalbar) sejak Kamis (8/1) menyebabkan banjir di sejumlah kabupaten/kota. Bahkan, hujan dengan intensitas sangat ekstrem dilaporkan sempat terjadi di Kabupaten Landak dan wilayah lain di Kalbar.
Koordinator Harian Pusdalops Penanggulangan Bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Daniel mengatakan berdasarkan prakiraan BMKG, hujan dengan intensitas bervariasi masih berpotensi terjadi hingga 10 Januari 2026. “Untuk hari ini hampir di seluruh kabupaten/kota terjadi hujan sedang hingga lebat. Bahkan hujan dengan intensitas sangat ekstrem terjadi di Kabupaten Landak,” kata Daniel, Jumat (9/1) pagi.
Berdasarkan laporan yang diterima Pusdalops BPBD Kalbar, banjir telah terjadi di Kabupaten Sambas, Sekadau, Sintang, Melawi, Bengkayang, serta Kota Singkawang. Laporan banjir juga muncul di Kabupaten Landak. Terbaru banjir melanda Kabupaten Sanggau, terutama Kecamatan Entikong dan Kecamatan Sekayam, serta wilayah sekitarnya. Jalan Raya Balai Karangan yang menjadi perlintasan antar-negara tergenang banjir cukup dalam.
Di Kabupaten Sambas, banjir terjadi sejak 5 Januari 2026 di Kecamatan Galing. Sebanyak 406 kepala keluarga (KK) atau 1.724 jiwa dilaporkan terdampak. Sementara di Kabupaten Sekadau, banjir melanda dua kecamatan. Di Kecamatan Nanga Taman, banjir merendam Desa Melati dengan 246 KK atau 902 jiwa terdampak, serta Desa Mongko dengan 530 KK atau 1.921 jiwa terdampak. Sedangkan di Kecamatan Nanga Mahap, banjir terjadi di Desa Lembah Beringin dengan jumlah terdampak 417 KK atau 1.382 jiwa.
Di Kota Singkawang, banjir dilaporkan terjadi di Jalan Kediri, tepatnya di belakang Kantor Wali Kota Singkawang, Kecamatan Singkawang Barat. Namun hingga Jumat pagi, BPBD Kalbar belum menerima laporan resmi terkait jumlah warga maupun fasilitas umum yang terdampak. “Banjir di Singkawang dipicu hujan lebat yang terjadi sejak 7–8 Januari 2026 serta dipengaruhi banjir rob,” katanya.
Untuk Kabupaten Sintang, Daniel menyebutkan terjadi banjir bandang di Desa Nanga Pari, Kecamatan Tempunak. Hingga saat ini, data jumlah warga dan fasilitas umum yang terdampak masih dalam proses pendataan karena BPBD setempat sedang melakukan kaji cepat di lapangan. Selain itu, banjir juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Bengkayang. Namun, data rinci masih menunggu laporan dari BPBD setempat.
Di Kabupaten Melawi, banjir dan banjir bandang terjadi di sejumlah kecamatan. Di Kecamatan Tanah Pinoh, banjir merendam Desa Bata Luar dengan 88 KK atau 245 jiwa terdampak, Desa Maris Permai 55 KK atau 160 jiwa, Desa Bina Jaya 45 KK atau 120 jiwa, serta Desa Pelita Kenaya 51 KK atau 172 jiwa.
Di Kecamatan Tanah Pinoh Barat, banjir bandang melanda Desa Keluas Hulu, Harapan Jaya, Laja, Lintah Taum, Ulak Muid, Pelita Jaya, dan Bukit Raya. Sementara di Kecamatan Belimbing, banjir terjadi di Desa Balai Agas dengan 179 KK terdampak dan Desa Upit sebanyak 70 KK. Adapun di Kecamatan Ella Hilir, tanah longsor dilaporkan terjadi di Desa Bemban Permai, namun data dampak masih dalam proses pendataan.
Untuk mengantisipasi dampak banjir yang lebih luas, BPBD Kalbar mendorong pemerintah kabupaten/kota segera menetapkan status siaga bencana banjir dan tanah longsor. “Dengan penetapan status siaga, penanganan bisa lebih masif karena melibatkan banyak pihak,” ujarnya.
Hingga saat ini, baru dua daerah yang telah menetapkan status siaga, yakni Kabupaten Mempawah dengan status siaga hingga 11 Maret 2026, dan Kabupaten Ketapang hingga 31 Maret 2026.
BPBD Kalbar juga mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, wilayah pesisir, dan daerah rawan banjir agar tetap waspada. Masyarakat diminta menyiapkan tas siaga berisi obat-obatan, perlengkapan evakuasi mandiri, serta dokumen penting keluarga.
Selain itu, pengurus lingkungan seperti RT, RW, dan kepala dusun diminta berkoordinasi dengan PLN jika terjadi banjir yang merendam rumah warga, agar aliran listrik dapat diputus untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan.
Sementara itu, hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Melawi pada Kamis (8/1) juga menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor di Kecamatan Tanah Pinoh, Tanah Pinoh Barat, Belimbing, dan Ella Hilir. Curah hujan tinggi dalam durasi lama menyebabkan sejumlah sungai meluap dan tanah di wilayah perbukitan menjadi labil.
Kapolres Melawi AKBP Haris Batara Simbolon mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama warga yang tinggal di bantaran sungai, dataran rendah, dan wilayah perbukitan. “Masyarakat diharapkan tetap waspada, memantau kondisi lingkungan sekitar, dan segera melaporkan kepada aparat setempat apabila terjadi situasi darurat,” ujarnya.
Berdasarkan Prospek Cuaca Harian BMKG pada 9 Januari 2026 pukul 07.00 WIB, kondisi cuaca di Kabupaten Melawi diperkirakan berawan hingga hujan ringan. Namun potensi hujan masih dapat terjadi di wilayah Nanga Pinoh, Ella Hilir, Pinoh Selatan, Belimbing, Belimbing Hulu, Tanah Pinoh, dan Tanah Pinoh Barat, terutama pada pagi dan malam hari.
Kepala BPBD Kabupaten Melawi, Daniel, menyebutkan hingga Jumat sore kondisi air di sejumlah wilayah terdampak dilaporkan mulai berangsur surut. Aparat gabungan dari Polres Melawi, BPBD, serta instansi terkait masih terus melakukan pemantauan dan penanganan di lokasi bencana.
Sementara itu. BPBD Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat mencatat banjir melanda enam kecamatan di wilayah tersebut akibat intensitas hujan tinggi pada Jumat. Banjir menyebabkan terganggunya aktivitas warga, akses transportasi terputus, hingga kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara.
Kepala BPBD Kabupaten Bengkayang Dwi Bertha mengatakan banjir terjadi hampir bersamaan di beberapa kecamatan dengan tingkat genangan yang berbeda-beda. Sebagian wilayah mengalami banjir di permukiman warga, sementara di wilayah lainnya genangan air merendam jalan dan fasilitas umum. “Berdasarkan laporan sementara, ada enam kecamatan yang terdampak banjir dan masih terus kami pantau perkembangannya,” kata Dwi Bertha saat di hubungi di Bengkayang, Jumat (9/1).
Enam kecamatan yang terdampak tersebut meliputi Kecamatan Teriak, Sungai Betung, Suti Semarang, Seluas, Sanggau Ledo, dan Kecamatan Tujuh Belas. BPBD masih melakukan pendataan lanjutan untuk memastikan jumlah warga terdampak serta kondisi infrastruktur di masing-masing kecamatan.
Di beberapa kecamatan, banjir menyebabkan aktivitas masyarakat terhenti sementara. Genangan air di jalan utama menghambat mobilitas warga, sementara di sejumlah wilayah aktivitas sekolah dan perekonomian tidak dapat berjalan normal.
"Kami akan terus berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa untuk memantau kondisi lapangan serta menyiapkan langkah penanganan awal apabila terjadi peningkatan debit air. Personel dan peralatan juga disiagakan guna mengantisipasi banjir susulan," ujarnya.
Dwi Bertha mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi banjir lanjutan, mengingat curah hujan masih berpeluang tinggi di wilayah Bengkayang. “Kami mengimbau warga untuk selalu waspada dan mengurangi aktivitas di luar rumah,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman apabila kondisi sudah tidak memungkinkan, serta mengamankan harta benda dan surat-surat penting guna mengurangi risiko kerugian akibat bencana banjir. (bar)
Editor : Hanif