Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Pemkot Pontianak Susun Kajian Aktuaria untuk Hitung Kerugian Finansial Akibat Banjir

Mirza Ahmad Muin • Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:09 WIB
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono.

PONTIANAK POST - Pemerintah Kota Pontianak mulai menempuh langkah strategis berbasis data dengan menyusun kajian aktuaria untuk menghitung kerugian dan kerusakan finansial akibat banjir. Upaya ini dinilai penting mengingat karakter geografis Pontianak sebagai kota dataran rendah yang dipengaruhi pasang surut Sungai Kapuas dan air laut.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, sepanjang Januari 2026 wilayahnya menghadapi dua kali pasang tertinggi. Berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ketinggian air saat pasang ekstrem bahkan mencapai dua meter di atas permukaan rata-rata.

“Sejumlah kawasan terdampak cukup serius. Air tidak hanya menggenangi jalan, tetapi juga masuk ke rumah warga. Kondisi ini menimbulkan kerusakan material, mengganggu aktivitas, dan memaksa sebagian warga mengungsi,” kata Edi saat membuka Kick Off Kajian Perhitungan Aktuaria Kerugian dan Kerusakan Finansial Akibat Banjir di Kota Pontianak, Kamis (15/1).

Kajian tersebut didanai melalui program FINCAPES dari Universitas Waterloo, Kanada, dan dilaksanakan bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada. Menurut Edi, banjir dan pasang rob yang terjadi hampir setiap tahun berdampak langsung terhadap infrastruktur jalan, bangunan, serta rumah warga, terutama di kawasan bantaran Sungai Kapuas.

Ia berharap kajian aktuaria ini mampu memetakan besaran kerugian secara menyeluruh dan menjadi dasar penyusunan kebijakan mitigasi banjir yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

Selama ini, Pemkot Pontianak telah melakukan berbagai upaya mitigasi jangka pendek, seperti peninggian ruas jalan, pelebaran dan pemeliharaan saluran drainase primer hingga tersier, pembersihan parit secara rutin, serta penerapan sistem pompanisasi untuk mempercepat aliran air ke Sungai Kapuas. Namun, topografi Pontianak yang relatif datar membuat aliran air sangat bergantung pada tinggi muka air sungai.

“Perubahan iklim, kenaikan muka air laut, kerusakan daerah hulu, sedimentasi sungai, serta pesatnya pembangunan di wilayah sekitar seperti Kubu Raya dan Mempawah turut memengaruhi pola aliran air ke Pontianak. Penanganannya tidak bisa dilakukan sendiri, perlu kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.

Edi menambahkan, hasil kajian aktuaria diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah kota, pemerintah provinsi, hingga kementerian terkait, khususnya dalam perencanaan penanganan banjir jangka panjang, termasuk opsi pembangunan infrastruktur berskala besar. Ia juga mengajak masyarakat berperan aktif menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak mempersempit saluran air.

“Harapan kami, kajian ini menghasilkan rekomendasi yang aplikatif dan realistis untuk menekan risiko serta kerugian akibat banjir di Pontianak ke depan,” kata Edi.

Sementara itu, perwakilan Universitas Waterloo, Prof. Stefan Steiner, menjelaskan bahwa studi ini mengombinasikan pendekatan aktuaria dengan pengumpulan data primer dan sekunder. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan, diskusi kelompok terarah (FGD), serta konsultasi intensif dengan para pemangku kepentingan di tingkat lokal.

“Pendekatan aktuaria memungkinkan penghitungan risiko dan kerugian banjir secara terukur, tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga dampak sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat,” ujar Steiner.

Ia menekankan pentingnya integrasi antara pemodelan ilmiah dan realitas sosial agar rekomendasi kebijakan yang dihasilkan relevan dan dapat diterapkan. Kajian ini merupakan kelanjutan dari riset bahaya banjir dan pelibatan masyarakat yang sebelumnya dilakukan FINCAPES dan akan berlangsung selama sembilan bulan.

“Tujuan utama kami adalah menjembatani sains dan kebijakan. Dengan memahami risiko finansial secara komprehensif, pemerintah daerah dapat menyusun strategi mitigasi dan pembiayaan iklim yang lebih efektif dan berkelanjutan,” kata Steiner.

Ia menilai Pontianak sebagai contoh penting bagi kota-kota dataran rendah di kawasan pesisir dan sungai yang menghadapi ancaman serupa akibat perubahan iklim. Hasil kajian ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik risiko banjir yang sejenis. (*/iza)

Editor : Hanif
#kajian #Aktuaria #mitigasi #pemkot pontianak #banjir #kerugian finansial