PONTIANAK POST – Kebakaran hutan dan lahan kembali mengancam wilayah Kalimantan Barat . Tim SAR Direktorat Samapta Polda Kalbar menggencarkan upaya pemadaman dan patroli intensif di sejumlah titik rawan di Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (17/1), hingga Minggu (18/1).
Pada Sabtu (17/1), personel Tim SAR Ditsamapta bergerak cepat melakukan pemadaman dan pelokalisiran api di kawasan Komplek Miari 14 Residence, Sungai Raya Dalam Ujung, Kecamatan Sungai Kakap. Langkah taktis ini dilakukan setelah api terpantau mulai mendekati area permukiman warga.
Untuk mencegah kerugian material, dan risiko terhadap keselamatan masyarakat, personel kepolisian langsung melakukan pemadaman di titik api serta melakukan penyekatan lahan agar api tidak merambat lebih luas.
Hingga sore hari, petugas masih melakukan proses pembasahan (mopping up), dan pendinginan di lokasi. Upaya ini dilakukan untuk memastikan sisa bara api di bawah permukaan lahan gambut benar-benar padam dan tidak kembali menyala akibat hembusan angin.
Keesokan harinya, Minggu (18/1), tim kembali melaksanakan patroli karhutla lanjutan di Jalan Parit Delima, Desa Punggur Kecil, Kecamatan Sungai Kakap. Patroli ini dilakukan setelah ditemukan titik api yang kembali muncul akibat kondisi cuaca panas.
Sebanyak sembilan personel dikerahkan untuk melakukan pemantauan sekaligus penanganan lanjutan pada lahan terbakar seluas kurang lebih satu hektare. Meski pemadaman telah dilakukan dua hari sebelumnya, petugas masih menemukan sisa asap, dan api yang kembali hidup karena suhu udara yang tinggi serta kondisi lahan yang kering.
Menindaklanjuti temuan tersebut, tim kembali melakukan pemadaman lanjutan, melokalisir titik api agar tidak meluas, serta melakukan pembasahan menyeluruh di area terdampak kebakaran.
Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Bambang Suharyono, menegaskan bahwa patroli dan pemadaman ini merupakan bentuk komitmen Polri dalam menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat dari dampak buruk karhutla.
“Kami telah menginstruksikan jajaran, khususnya Tim SAR Ditsamapta, untuk terus bersiaga, dan bergerak cepat ketika muncul titik api, terutama yang berada di dekat permukiman penduduk. Fokus utama petugas saat ini adalah melakukan pendinginan secara intensif agar api tidak kembali hidup,” ujarnya.
Bambang menambahkan, patroli karhutla akan terus diintensifkan sebagai langkah pencegahan dini, terutama di wilayah rawan yang terdampak cuaca panas.
“Kehadiran personel di lapangan bertujuan memastikan api tidak kembali menyala serta meminimalisir dampak lingkungan dan kesehatan masyarakat. Kami juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila melihat adanya aktivitas pembakaran,” katanya.
Ia menegaskan, Polda Kalbar akan terus mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menangani karhutla dan berbagai persoalan di masyarakat sesuai prinsip kerja Kapolda Kalbar yang responsif, kolaboratif, dan solutif.
Seperti diketahui, berdasarkan pantauan titik panas Stasiun Meteorologi Supadio pada Sabtu (17/1) hingga Minggu (18/1), terdeteksi sebanyak 206 titik panas yang tersebar di berbagai wilayah Kalbar. Dari jumlah tersebut, 195 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, enam titik berkategori tinggi, dan lima titik berkategori rendah.
Kabupaten Kubu Raya menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 49 titik, disusul Sanggau sebanyak 39 titik, Mempawah 22 titik, serta Ketapang 27 titik.
Stasiun Meteorologi Supadio menjelaskan, data titik panas tersebut diperoleh dari penginderaan jauh menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar, yang mampu mendeteksi anomali suhu permukaan sebagai indikasi potensi kebakaran hutan dan lahan.
Tingginya jumlah titik panas ini menjadi indikator meningkatnya kerawanan karhutla, terutama di tengah kondisi cuaca panas dan lahan yang kering, sehingga memerlukan kewaspadaan serta upaya penanganan intensif dari seluruh pihak terkait.(bar)
Editor : Hanif