Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

CCTV dan Isu Perundungan Diduga Jadi Pemicu Kematian Siswi di Kota Pontianak

Marsita Riandini • Kamis, 29 Januari 2026 | 10:54 WIB
Ilustrasi perundungan. Antara
Ilustrasi perundungan. Antara

PONTIANAK POST - Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Pontianak, Aris Sujarwono menuturkan kronologi kejadian tersebut. Tutur dia, penelusuran pihak madrasah bermula dari laporan kehilangan uang sebesar Rp200 ribu saat kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) pada Sabtu (17/1).

Untuk memastikan kejadian tersebut, pihak sekolah memeriksa rekaman kamera pengawas pada Selasa (20/1). Dari hasil pengecekan CCTV itu, gambar mengarah kepada korban. Rekaman CCTV itu sempat beredar di media sosial. Potongan video tersebut belakangan dihapus.

Keesokan harinya, Rabu (21/1), wali kelas memanggil korban untuk dimintai penjelasan. Dalam pertemuan itu, korban mengakui telah mengambil uang tersebut dengan alasan untuk keperluan kegiatan dan menyebut uang itu masih ada di rumah. Menurut Aris, wali kelas tidak memarahi korban, melainkan menenangkannya dan berjanji akan membantu menyelesaikan persoalan tersebut dengan cara yang baik.

Setelah pertemuan dengan wali kelas, korban sempat berbincang dengan teman-temannya sesama anggota PMR. Dalam percakapan itu, korban menyebut bahwa uang tersebut dipinjam atau digunakan sementara.

Aris menilai tidak ada sikap menghakimi atau tekanan dari teman-temannya. Namun, pada malam hari, korban mengungkapkan kepada ibunya bahwa ia merasa malu dan tidak ingin masuk sekolah keesokan harinya.

“Dia bilang sama ibunya besok tidak mau masuk sekolah. Malu,” ujar Aris. Perasaan itulah yang, menurutnya, menjadi beban psikologis berat bagi korban.

Berdasarkan keterangan keluarga, pada malam sebelum kejadian korban mengaku malu dan takut kembali ke sekolah karena merasa persoalan yang dialaminya telah diketahui banyak orang. Rasa takut menghadapi hari esok dan enggan bertemu lingkungan sekolah menjadi bagian dari perubahan sikap yang terlihat jelas oleh keluarganya.

Aris tidak menjelaskan secara rinci bagaimana rekaman CCTV internal sekolah tersebut bisa sampai ke media sosial. Ia hanya menegaskan bahwa pihak sekolah tidak pernah berniat menyebarkan rekaman itu ke ruang publik. Menurutnya, rekaman tersebut semata-mata digunakan sebagai bahan klarifikasi internal terkait laporan kehilangan uang.

Kepolisian sendiri masih menyelaraskan seluruh informasi, termasuk soal surat terakhir korban, beredarnya rekaman CCTV di media sosial, dengan keterangan dari pihak sekolah dan keluarga korban. Polisi sendiri meminta masyarakat tidak berspekulasi terhadap penyebab peristiwa ini, dan meminta menghormati keluarga korban. (mdy/mrd)

Editor : Hanif
#Surat Terakhir #pendidikan #sekolah #palang merah remaja #madrasah #pontianak #CCTV