PONTIANAK POST — Proyek pengolahan bauksit hingga aluminium terintegrasi yang dikembangkan Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) di Mempawah, Kalimantan Barat, diproyeksikan menyerap hingga 14.700 tenaga kerja baru. Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, menilai proyek tersebut menjadi bukti bahwa hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga membuka lapangan kerja formal dan berkualitas.
“Kami menyambut positif pengembangan industri bauksit terintegrasi ini karena dampaknya sangat signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja formal yang terampil dan berpendidikan,” ujar Eddy, Selasa (27/1).
Berdasarkan dokumen Pre-Feasibility Study (PFS) yang disusun BPI Danantara bersama Satuan Tugas Hilirisasi, total investasi proyek ekosistem bauksit–alumina–aluminium ini mencapai sekitar Rp60 triliun. Penyerapan tenaga kerja terjadi baik pada fase konstruksi maupun operasional. Eddy menilai investasi berskala besar tersebut akan memicu multiplier effect luas bagi perekonomian daerah.
“Investasi ini akan menggerakkan sektor logistik, jasa pendukung, hingga UMKM lokal di sekitar kawasan industri,” katanya.
Dorongan hilirisasi dinilai semakin mendesak mengingat tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor aluminium. Kebutuhan nasional saat ini mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, dengan sekitar 54 persen masih dipenuhi dari luar negeri.Padahal, Indonesia memiliki sumber daya bauksit yang besar, dengan total potensi sekitar 7,78 miliar ton dan cadangan mencapai 2,86 miliar ton.
Untuk mengelola rantai industri dari hulu hingga hilir, MIND ID melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) membentuk perusahaan patungan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI). Perusahaan ini mengembangkan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 1 dan 2 di Mempawah dengan kapasitas masing-masing 1 juta ton alumina per tahun.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut smelter di Mempawah menjadi satu dari enam proyek hilirisasi akan memulai tahap awal pembangunan (groundbreaking) dalam waktu dekat. “Di akhir bulan ini rencananya akan ada kurang lebih enam proyek hilirisasi yang akan dilakukan groundbreaking. Kalimantan Barat itu juga salah satunya,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (21/1).
Selain enam proyek pada Januari, pemerintah juga menyiapkan sekitar 12 proyek hilirisasi tambahan yang akan diresmikan pada Februari 2026, dan ditargetkan seluruhnya sudah berjalan paling lambat Maret 2026. “Mohon doa restunya supaya selebihnya masih ada kurang lebih 12 lagi bisa pada bulan Februari, paling lambat pada bulan Maret semuanya sudah bisa kita mulai,” kata Prasetyo.
Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia juga mengumumkan rencana groundbreaking sejumlah proyek strategis hilirisasi pada Februari 2026. Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyebut proyek-proyek tersebut mencakup sektor bauksit, aluminium, bioavtur, kilang (refinery), hingga budidaya unggas. “Itu ada bauksit, aluminium, kemudian ada bioavtur, kemudian ada refinery juga, dan ada budidaya unggas di lima tempat,” ujar Rosan usai acara Semangat Awal Tahun 2026 di Jakarta, Rabu (14/1). (jpc/ant)
Editor : Hanif