Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kasus Molotov SMP Sungai Raya, Penyintas Terorisme Kalbar Soroti Aktivitas Digital

Hanif PP • Sabtu, 7 Februari 2026 | 10:20 WIB

 

Penyintas Terorisme Kalbar, Rony Ramadhan Putra
Penyintas Terorisme Kalbar, Rony Ramadhan Putra

PONTIANAK POST - Kasus pelemparan bom molotov oleh seorang pelajar di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, membuka kembali peringatan tentang rapuhnya anak-anak terhadap pengaruh ekstremisme di ruang digital. Seorang penyintas terorisme sekaligus Ketua Yayasan Borneo Bela Negara, Rony Ramadhan Putra, menilai peristiwa itu bukan insiden tunggal, melainkan cerminan dari pola paparan paham kekerasan yang tumbuh melalui jaringan komunitas daring.

Rony Ramadhan Putra menyatakan peristiwa penyerangan menggunakan bom molotov yang melibatkan seorang pelajar di Kubu Raya harus dibaca sebagai alarm serius bagi semua pihak. Berdasarkan pengalamannya mendampingi korban dan mempelajari pola radikalisasi, ia menegaskan bahwa individu yang terpapar paham ekstrem jarang bergerak sendiri. “Secara jaringan, mereka saling berkaitan dan tergabung dalam komunitas tertentu,” ujar Rony.

Ia menjelaskan, ruang digital kini menjadi tempat utama anak-anak mencari identitas dan pengakuan. Dalam proses itu, mereka kerap masuk ke dalam komunitas virtual yang tanpa disadari mengarahkan pada konsumsi konten kekerasan dan ekstremisme. “Dari situ mereka mendapatkan pengakuan, sekaligus paparan konten yang mengarah pada tindakan ekstrem,” kata mantan wartawan di Pontianak tersebut.

Apalagi, kata dia, dari hasil penelusuran aparat sebelumnya, pelaku diketahui tergabung dalam komunitas digital True Crime Community (TCC), kelompok yang juga diikuti oleh pelaku kasus serupa di SMA Negeri 72 Jakarta. Kesamaan jejaring ini menunjukkan adanya pola keterhubungan antarpelaku melalui ruang digital yang sama, di mana konten kekerasan dan narasi ekstrem dipertukarkan secara intens.

"Fakta tersebut memperkuat dugaan bahwa aksi molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari pengaruh jaringan komunitas daring yang membentuk cara berpikir dan mendorong anak-anak meniru kekerasan yang mereka konsumsi di media sosial," ungkapnya.

Menurut Rony, keterlibatan anak dalam komunitas digital semacam itu menunjukkan bahwa pencegahan tidak bisa hanya dilakukan melalui penegakan hukum. Ia menekankan perlunya penguatan komunikasi dan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk melibatkan para penyintas terorisme yang memiliki pengalaman langsung dalam upaya pencegahan ekstremisme. “Kita perlu membangun pendekatan bersama, bukan hanya aparat dan sekolah, tetapi juga penyintas dan komunitas yang punya pengalaman menghadapi dampak terorisme,” ujarnya.

Ia juga menyoroti faktor geografis Kabupaten Kubu Raya yang dinilainya memiliki tingkat kerawanan tersendiri. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Kota Pontianak dan Kabupaten Sanggau di darat, Kabupaten Kayong Utara di laut, serta memiliki Bandara Supadio sebagai jalur udara utama.'

Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut kewaspadaan kolektif terhadap potensi pergerakan orang maupun barang berbahaya. “Pendekatan pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh dan merata, tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan,” kata Rony.

Selain faktor wilayah, ia menilai sosialisasi pencegahan paham radikal, intoleransi, dan terorisme di Kabupaten Kubu Raya masih tergolong minim. Edukasi yang ada belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama keluarga dan anak-anak yang paling rentan terhadap pengaruh dunia digital. “Selama ini sosialisasi memang masih terbatas. Ini harus diperluas agar masyarakat punya pemahaman yang cukup tentang bahaya paham ekstrem,” ujarnya.

Rony juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dan lingkungan sekitar dalam mengawasi aktivitas anak, khususnya penggunaan media sosial dan ruang digital. Ia menilai keluarga merupakan benteng pertama dalam mencegah anak terjerumus pada komunitas daring yang mengarah pada kekerasan. “Orang tua dan lingkungan harus lebih peduli terhadap pergaulan anak-anaknya, terutama di dunia maya. Dari situlah proses awal paparan itu sering terjadi,” katanya. (ars)

Editor : Hanif
#kalbar #komunitas digital #Terorisme #sungai raya #molotov #ekstremisme #penyintas