PONTIANAK POST – Pemerintah Kota Pontianak menyatakan perang terhadap wajah kota yang semrawut akibat baliho, spanduk, dan reklame yang tak tertata. Komitmen itu ditegaskan sebagai bagian dari dukungan terhadap arahan Presiden RI dalam Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI).
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menegaskan, upaya menata lingkungan kota bukan sekadar mengikuti tren nasional, melainkan sudah menjadi agenda lama pemerintah kota.
Ia menilai, estetika kota memiliki dampak langsung terhadap minat orang untuk datang, tinggal, dan beraktivitas.
“Kalau kota tidak cantik, orang juga tidak tertarik datang. Arahan Bapak Presiden sangat tepat, dan itu sebenarnya sudah kami jalankan sejak lama,” ujar Edi, Sabtu (7/2).
Menurutnya, Presiden menaruh perhatian serius pada keberadaan papan nama, spanduk, baliho, dan reklame yang dipasang tanpa aturan karena merusak keindahan kota.
Kondisi lingkungan yang kumuh, kata Edi, bukan hanya soal visual, tetapi juga mencerminkan kualitas pengelolaan kota.
Sebagai contoh konkret, Pemerintah Kota Pontianak secara rutin melakukan penanaman pohon hampir setiap pekan. Kawasan yang sebelumnya minim ruang hijau kini mulai berubah menjadi lebih rindang dan nyaman.
Selain itu, kegiatan gotong royong yang melibatkan aparatur pemerintah dan masyarakat dilakukan secara berkala di seluruh wilayah kota.
“Gotong royong kita lakukan setiap bulan. Ini bukan kegiatan seremonial, tapi bagian dari budaya merawat kota,” tegasnya.
Ke depan, Pemkot Pontianak akan memperluas keterlibatan berbagai pihak, mulai dari sekolah, institusi pendidikan, hingga unsur TNI dan Polri. Langkah ini dimaksudkan agar kesadaran menjaga lingkungan tumbuh secara kolektif dan berkelanjutan.
Edi juga mendorong adanya inovasi pengelolaan sampah di tingkat sekolah dan instansi pemerintah. Ia menilai, persoalan sampah tidak bisa hanya bergantung pada pengangkutan ke TPA, tetapi harus diselesaikan sejak dari sumbernya.
“Nanti kita tanam gorong-gorong atau tempayan. Sampah organik dimasukkan ke situ, disemprot bakteri pengurai, lalu menjadi pupuk. Sampah selesai di tempat. Yang dibuang hanya plastik dan kaleng,” jelasnya.
Melalui penataan trotoar, penghijauan kota, dan pengelolaan sampah berbasis lingkungan, Edi berharap Pontianak tidak hanya tampil lebih asri, tetapi juga menjadi contoh nyata bahwa Gerakan Indonesia ASRI bukan sekadar slogan, melainkan kerja berkelanjutan yang bisa dirasakan masyarakat. (iza)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro