Kasus bunuh diri dan aksi kekerasan yang melibatkan anak sebagai pelaku di Kalimantan Barat menjadi alarm keras bagi semua pihak, mulai dari sekolah, orangtua, hingga para pemangku kepentingan.
Di balik senyum dan unggahan media sosial, sebagian anak menyimpan beban berat akibat perundungan, tekanan sosial, dan konflik personal. Ketika depresi tak dikenali dan ditangani, rasa marah serta keputusasaan dapat berubah menjadi tragedi.
---------------
PERISTIWA gantung diri seorang siswi madrasah tsanawiyah (MTs) berinisial C (13) di Kota Pontianak mengejutkan semua pihak. Banyak informasi yang beredar mengenai sebab di balik kematian tersebut. Aksi perundungan yang dialami diduga menjadi salah satu penyebabnya. Namun, hal itu belum dapat dipastikan oleh aparat kepolisian, bahkan dua pekan berlalu.
Saat dihubungi Pontianak Post, Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya, Aiptu Ade, menjawab secara singkat. “Masih dalam proses pendalaman,” ungkap Ade saat ditanya tentang dugaan terjadi perundungan yang dialami siswi tersebut, Sabtu (7/2).
Belum berselang sebulan, publik kembali dikejutkan dengan peristiwa aksi kekerasan yang dilakukan seorang siswa SMPN 3, Sungai Raya. Pelajar kelas IX itu melempar sekolahnya dengan bom molotov. Kapolsek Sungai Raya, AKP Hariyanto, melalui Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya, Aiptu Ade menjelaskan bahwa insiden tersebut terjadi secara tiba-tiba. Terduga pelaku mendatangi lokasi dan melemparkan botol berisi bahan bakar yang menyulut api (bom molotov) ke arah area sekolah.
Berbagai dugaan muncul mengenai penyebab aksi tersebut. Salah satunya dugaan perundungan yang dialami pelaku. Warga yang enggan disebutkan namanya itu mengaku memperoleh informasi dari keponakan dan adik sepupunya yang bersekolah di SMPN 3 Sungai Raya. Menurut cerita yang diterimanya, terduga pelaku disebut-sebut merupakan siswa kelas IX yang kerap mengalami perundungan.
Namun, dugaan tersebut dibantah langsung oleh Kepala SMPN 3 Sungai Raya, Lily. Menurutnya, berdasarkan pemantauan pihak sekolah, hingga saat ini tidak ditemukan adanya praktik perundungan (bullying) terhadap salah satu siswanya yang tengah menjadi perhatian publik. Pelaku dikenal dikenal baik, santun, ceria, dan mampu bergaul dengan teman-temannya. Sejak duduk di bangku kelas VII hingga kelas IX, siswa tersebut tidak pernah terlibat konflik serius, baik dengan teman sekelas maupun siswa lainnya.
“Kalau disebut bullying, menurut kami tidak ada. Dari kelas VII sampai IX tidak pernah ada kasus. Kalau candaan ringan antarsiswa memang ada, seperti saling mengejek, tetapi tidak sampai parah dan selalu kami tangani,” jelas Lily.
Lily menyatakan, kondisi keluarga siswa tersebut justru menjadi hal yang patut mendapat perhatian. Siswa tersebut berasal dari keluarga kurang mampu dan memikul tanggung jawab besar di rumah. Ia harus membantu merawat sejumlah anggota keluarga yang sedang sakit, mulai dari kakek, nenek, hingga ayahnya, dengan kondisi ekonomi keluarga yang hanya bergantung pada pensiunan kakeknya.
Terkait peristiwa bom molotov itu, masih menunggu hasil penanganan dari pihak berwajib.
“Kami ingin orang tua merasa tenang dan yakin bahwa SMP Negeri 3 Sungai Raya merupakan lingkungan yang aman bagi anak-anak. Selama ini, kasus bullying berat tidak pernah terjadi di sekolah kami,” jelas Lily.
Alarm Dini Kesehatan Mental
Perubahan perilaku pada anak dan remaja tidak bisa dipandang sekadar sebagai sikap khas usia pubertas. Nadya Hendrawati, S.Psi, M.Psi, Psikolog menegaskan, perubahan perilaku justru sering menjadi tanda awal adanya tekanan psikologis yang serius pada remaja.
“Perubahan perilaku yang muncul secara konsisten, baik di rumah maupun di sekolah, merupakan sinyal awal bahwa remaja sedang mengalami tekanan mental yang tidak ringan dan perlu pendampingan sejak dini,” ujar Nadya.
Di lingkungan sekolah, tekanan mental kerap terlihat dari penurunan prestasi, menarik diri dari pergaulan, sering absen, hingga mudah tersulut emosi. Sementara di rumah, orang tua biasanya mulai melihat perubahan pola tidur dan makan, anak menjadi lebih tertutup, atau sangat defensif saat diajak berbicara. Ketika tanda-tanda ini muncul bersamaan di dua lingkungan utama remaja, rumah dan sekolah, kondisi tersebut patut diwaspadai.
Menurut Nadya, keluarga dan sekolah merupakan dua faktor paling dominan dalam membentuk kesehatan mental remaja. Berdasarkan berbagai riset psikologi, kedua lingkungan ini menjelaskan lebih dari separuh variasi kondisi mental remaja, terutama yang berkaitan dengan stres, kecemasan, dan risiko depresi.
“Di sekolah, kualitas relasi dengan guru dan teman sebaya menjadi penentu utama. Remaja yang merasa aman secara emosional, tidak mengalami perundungan, dan mendapat dukungan akademik cenderung memiliki ketahanan mental yang lebih kuat,” jelasnya.
Sebaliknya, tekanan akademik yang berlebihan serta iklim sosial yang tidak sehat dapat menjadi pemicu gangguan psikologis. Di lingkungan keluarga, pola komunikasi dan kelekatan emosional berperan sebagai sistem imun kesehatan mental. Remaja yang tumbuh dalam keluarga yang hangat, terbuka, dan responsif terhadap emosi menunjukkan tingkat kecemasan dan perilaku berisiko yang jauh lebih rendah.
“Sekolah dan keluarga tidak bekerja secara terpisah, tetapi saling menguatkan. Ketika keduanya selaras, remaja memiliki fondasi psikologis yang jauh lebih kuat. Namun, jika keduanya sama-sama bermasalah, risiko tekanan mental meningkat signifikan,” kata Nadya.
Tekanan mental berat pada anak usia SMP, menurut Nadya, bersifat multifaktorial. Usia 11–15 tahun merupakan fase transisi remaja awal yang ditandai perubahan biologis, kognitif, dan sosial yang cepat. Proses pencarian identitas, meningkatnya sensitivitas emosional, serta kematangan otak yang belum optimal dalam mengatur emosi membuat remaja rentan terhadap stres.
Selain tekanan akademik dan ekspektasi lingkungan, dinamika keluarga yang kurang suportif juga menjadi pemicu. Konflik keluarga, hubungan orang tua dan anak yang tidak mendukung, serta pola asuh yang keras atau inkonsisten dapat menimbulkan tekanan berat. Faktor lain yang tak kalah penting adalah hubungan teman sebaya, termasuk perundungan dan isolasi sosial.
“Bullying, baik fisik, verbal, maupun digital, meningkatkan risiko kecemasan, depresi, gangguan harga diri, bahkan gejala trauma psikologis pada remaja,” ujarnya.
Paparan media sosial dan penggunaan gawai berlebihan turut memperparah kondisi tersebut. Perbandingan sosial yang tidak realistis, standar norma kecantikan, hingga cyberbullying sering memicu tekanan psikologis. Dampaknya diperburuk oleh gangguan tidur, minimnya aktivitas fisik, dan berkurangnya interaksi tatap muka.
Kurang tidur sendiri, lanjut Nadya, berpengaruh langsung pada kesehatan mental remaja. “Riset menunjukkan bahwa tidur yang tidak cukup meningkatkan kerentanan terhadap depresi dan kecemasan, selain mengganggu konsentrasi dan fungsi kognitif,” jelasnya.
Dalam menghadapi kondisi ini, Nadya menekankan pentingnya pola komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak. Kunci utamanya adalah menciptakan rasa aman. Orang tua perlu hadir sebagai pendengar, bukan sebagai hakim atau pemberi solusi instan.
“Anak akan lebih mau terbuka ketika orang tua bertanya dengan tulus, misalnya, ‘Hari ini apa yang paling bikin kamu kepikiran?’ lalu memberi ruang anak bercerita tanpa dipotong, dibandingkan, atau dihakimi,” tuturnya.
Mengakui perasaan anak juga menjadi hal krusial. Kalimat sederhana seperti, “Mama bisa paham, itu pasti berat buat kamu,” dapat membuat anak merasa dipahami. Konsistensi sangat diperlukan agar anak percaya bahwa kejujuran tidak akan berujung pada kemarahan atau penghukuman.
Ketika anak terlihat murung, menarik diri, atau mudah marah, Nadya menyarankan orang tua untuk hadir secara emosional. “Perubahan ini sering kali bukan sekadar sikap, tetapi sinyal adanya masalah. Bangun ruang aman untuk berbicara, perhatikan pola tidur, makan, penggunaan gawai, dan pergaulan anak,” ujarnya.
Orang tua juga perlu membantu anak mengenali dan menamai emosinya. Banyak remaja bingung dengan apa yang mereka rasakan. Dengan memahami apakah mereka sedang sedih, kecewa, cemas, atau marah, anak belajar bahwa emosi adalah hal wajar dan bisa dibicarakan. Jika kondisi berlangsung lama atau disertai perilaku berisiko, Nadya menegaskan pentingnya mencari bantuan profesional.
“Mencari bantuan psikolog atau konselor bukan tanda kegagalan, tetapi bentuk tanggung jawab dan kepedulian terhadap kesehatan mental anak,” katanya.
Sekolah pun memegang peran besar dalam menjaga kesehatan mental siswa. Menurut Nadya, sekolah tidak hanya bertanggung jawab pada aspek akademik, tetapi juga menciptakan iklim yang aman, inklusif, dan bebas perundungan. Guru dan wali kelas diharapkan peka terhadap perubahan perilaku siswa sebagai bagian dari deteksi dini.
“Guru adalah pengamat pertama. Dengan literasi kesehatan mental yang baik, guru bisa lebih cepat mengenali tanda stres dan berkolaborasi dengan konselor serta orang tua,” ujarnya.
Di tengah pengaruh besar media sosial, Nadya menekankan pentingnya pendampingan, bukan sekadar pengawasan. Orang tua dan sekolah perlu membangun komunikasi terbuka, aturan penggunaan gawai yang sehat, serta literasi digital agar anak mampu menggunakan media sosial secara sadar dan seimbang.
Sebagai penutup, Nadya menyampaikan pesan penting bagi para orang tua. “Banyak remaja terlihat baik-baik saja di luar, padahal sedang berjuang di dalam. Jangan menunggu anak terlihat bermasalah baru mulai mendekat. Perhatikan perubahan kecil, bangun ruang komunikasi yang aman tanpa menghakimi. Sering kali, kehadiran yang mau mendengar jauh lebih berarti daripada nasihat yang panjang,” pungkasnya. (sti/uni)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro