PONTIANAK POST - Kolaborasi peneliti muda dari SITH ITB, BRIN, dan IPB berhasil mengungkap spesies hibrida alami baru tanaman pemakan serangga dari Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Temuan ini bermula dari pantauan di media sosial sejak 2024. Spesies tersebut diberi nama Nepenthes ×taringkecil, yang merupakan nothospecies atau hasil persilangan alami antara dua induk, yakni Nepenthes bicalcarata dan Nepenthes mirabilis.
Penemuan ini telah divalidasi dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Phytotaxa edisi Januari 2026. “Kami menamakan ×taringkecil karena pada bagian peristomennya terdapat sepasang gigi kecil berukuran 0,5–0,8 milimeter. Sementara pada induknya, N. bicalcarata, panjang taring bisa mencapai 3 sentimeter,” ujar Kurator Herbarium Bandungense, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, Arifin Surya Dwipa Irsyam, dalam keterangannya di Bandung, belum lama ini.
Selain memiliki gigi yang tereduksi, spesies ini menunjukkan adaptasi morfologi yang menarik. Berbeda dengan induknya, N. bicalcarata, yang memiliki sulur (tendril) berongga sebagai tempat hidup semut, N. ×taringkecil tidak memiliki fitur tersebut.
Baik N. bicalcarata maupun N. ×taringkecil hidup pada habitat yang sama, yakni kawasan hutan kerangas atau gambut. Namun, keduanya memiliki bentuk kantong yang berbeda. N. bicalcarata berbentuk melebar dan cenderung bulat, sedangkan N. ×taringkecil berbentuk silindris menyerupai N. mirabilis. Penemuan ini disebut menjadi bukti kuat efektivitas konsep citizen science atau peran masyarakat dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Arifin mengungkapkan bahwa informasi awal diperoleh dari rekan pehobi dan pembudidaya tanaman karnivora, Nazila dan Rais, yang kemudian ditindaklanjuti melalui penelitian ilmiah. “Kecurigaan kami diperkuat oleh keterangan warga lokal bahwa N. bicalcarata dan N. mirabilis tumbuh di lokasi yang sama,” kata Arifin.
Untuk memastikan keabsahan spesies tersebut, tim membagi peran secara spesifik. M. Rifqi Hariri (BRIN) melakukan analisis molekuler berbasis Internal Transcribed Spacer (ITS). M. Hisyam Fadhil (IPB) menangani penanaman sampel hidup dan ilustrasi botani. Sementara itu, Arifin (ITB) menyusun deskripsi morfologi secara mendalam. Hasil analisis genetik mengonfirmasi bahwa spesimen tersebut berkerabat dekat dengan N. mirabilis, namun tetap membawa karakter fisik dari N. bicalcarata.
Penelitian yang didukung skema Rumah Program BRIN tahun 2023 dan 2026 ini menegaskan bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia, khususnya di lahan gambut Kalimantan, masih menyimpan banyak rahasia yang menunggu untuk diungkap melalui kolaborasi lintas institusi dan komunitas pehobi. (ant)
Editor : Hanif