PONTIANAK POST - Sudah sepekan ini harga bawang di pasar tradisional naik tinggi. Akibat kenaikan harga bawang turut berimbas pada penjualan bawang di pasar. Pedagang berharap harga bawang dapat kembali normal dengan demikian pengguna bawang untuk kebutuhan di rumah dan rumah makan akan kembali stabil.
“Untuk hari ini harga bawang merah satu kilonya 85 ribu. Kemarin malah tembus 100 ribu per kilo. Untuk bawang putih hari ini 40 ribu. Kemarin malah naik 50 ribu sekilonya,” kata Heri, pedagang bawang di Pasar Tradisional Flamboyan, Jumat (13/2).
Belum diketahui pasti penyebab harga bawang merah dan bawang putih naik di pasaran. Tetapi hukum ekonomi, ketika stok sedikit, maka akan berpengaruh pada naiknya harga jual bahan pokok. Termasuk bawang ini.
Kenaikan bawang akan terasa terutama bagi pelaku usaha yang memiliki rumah makan dan restoran. Sebab bawang putih dan bawang merah menjadi bumbu tambahan untuk resep produk yang mereka jual.
Bagi keluarga, ketika harga bawang naik mereka bisa mengurangi penggunaan bawang itu. Imbasnya, akan berpengaruh pada rasa masakan tersebut. “Saya berharap harga bawang ini segera kembali normal,” ujarnya.
Terlebih beberapa hari lagi, perayaan Imlek akan dilaksanakan. Setelah Imlek, umat Islam juga akan menjalankan ibadah puasa. Kebutuhan untuk bawang merah dan bawang putih dipastikannya bisa meningkat.
Ketika stok sedikit namun permintaan meningkat justru akan memunculkan gejolak di pasar. Mudah-mudahan saja, pemerintah dapat mencarikan solusi terhadap harga bawang ini.
Salah satu pembeli bawang Fitri, mengaku jika harga bawang memang tinggi. Sudah main di 80 ribuan sekilo. Kalau harga normal itu biasanya 30 an ribu sekilo. Dia membeli bawang untuk kebutuhan memasak. Ketika harga tinggi seperti ini, solusinya tinggal membeli bawang secukupnya dan untuk kebutuhan memasak saja.
Kenaikan harga bawang ini kata dia paling terasa adalah pelaku usaha. Baik itu rumah makan dan restoran. Sebab ketika kebutuhan bawang tidak dikurangi namun di satu sisi harga bawang naik, maka akan muncul beban besar pada biaya produk makanan mereka.
“Mau menaikkan harga makanan tidak mungkin. Pastinya mereka bertahan saja sambil menunggu harga bawang ini normal kembali,” ujarnya.
Biasanya ketika mendekati bulan puasa berbagai harga kebutuhan pokok memang mengalami kenaikan. Terlebih di bulan ini ada dua momentum keagamaan. Pertama Imlek dan kedua umat islam akan menyambut bulan puasa.
Pasti kebutuhan untuk bahan pokok meningkat. Dengan begitu akan terjadi peningkatan juga orang belanja ke pasar. Termasuk jenis bahan pokok yang dibeli, volumenya bakalan meningkat.
“Mudah-mudahan saja stok bahan pokok aman. Dengan begitu, harga bahan pokok tidak sampai naik tinggi,” harapnya.
Beberapa waktu lalu, Anggota DPRD Kota Pontianak, Husin, mengatakan dewan akan melakukan pengawasan untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan pokok yang kerap terjadi setiap menjelang hari besar keagamaan.
“Kami di Komisi III akan melakukan sidak pasar, terutama di pasar modern dan pasar tradisional,” ujarnya, Senin (9/2).
Ia menjelaskan, pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa harga kebutuhan pokok cenderung meningkat saat Ramadan. Komoditas yang biasanya mengalami kenaikan antara lain gula pasir, tepung, telur, serta sejumlah bahan pangan lainnya.
Selain sidak pasar, DPRD juga meminta Dinas Perdagangan Kota Pontianak untuk meningkatkan pengawasan terhadap distributor agar tidak menaikkan harga secara tidak wajar.
“Kami minta Dinas Perdagangan memantau distributor agar tidak menaikkan harga kebutuhan pokok. Ini yang sedang kami kerjakan,” tegas Husin.
Sementara itu, perkembangan harga berbagai komoditas pada Januari 2026 menunjukkan tren kenaikan. Hasil pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar di lima kabupaten/kota mencatat inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 3,33 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 105,57 pada Januari 2025 menjadi 109,09 pada Januari 2026.
“Adapun Inflasi bulanan tercatat 0,27 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date) juga sebesar 0,27 persen,” ungkap Kepala Bagian Umum BPS Kalbar, Yunita.
Pada Januari 2026, seluruh kota IHK yang berjumlah lima kabupaten/kota di Kalimantan Barat mengalami inflasi y-on-y. Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kabupaten Sintang sebesar 4,52 persen dengan IHK sebesar 109,05. Sementara itu, inflasi y-on-y terendah terjadi di Kota Pontianak sebesar 2,74 persen dengan IHK sebesar 108,00
Komoditas yang dominan menyumbang inflasi bulanan antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, ikan nila, jeruk, sigaret putih mesin (SPM), ikan baung, ikan bawal, serta cumi-cumi. Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan deflasi m-to-m, antara lain timun, semangka, ikan tongkol, bensin, dan wortel. (iza)
Editor : Hanif