PONTIANAK POST – Bagi penderita maag, perubahan pola makan dan jam istirahat selama bulan Ramadan kerap menimbulkan kekhawatiran akan kambuhnya gangguan lambung saat berpuasa.
Apoteker di RSUD SSMA Kota Pontianak, Juliyastin Randa Pagiling, mengatakan agar penyakit maag tidak kambuh, masyarakat perlu memahami aturan mengonsumsi obat dengan benar.
“Puasa tetap dapat dijalani dengan nyaman tanpa gangguan maag, asalkan aturan minum obat dilakukan dengan benar dan sesuai anjuran medis,” ujarnya.
Secara umum, obat maag terdiri atas beberapa jenis, antara lain antasida, H2 blocker, proton pump inhibitor (PPI), dan sitoprotektif atau pelapis lambung.
Menurutnya, setiap jenis obat memiliki cara kerja yang berbeda. Antasida berfungsi menetralkan asam lambung dan biasanya diminum saat keluhan muncul. Obat ini dapat dikonsumsi setelah berbuka puasa.
Sementara itu, obat penekan asam lambung seperti H2 blocker atau PPI bekerja lebih efektif jika diminum sebelum makan, sehingga dianjurkan saat sahur atau sebelum berbuka.
“Kesalahan waktu konsumsi obat dapat membuat perlindungan lambung tidak maksimal selama berpuasa,” lanjutnya.
Ia menekankan bahwa selain obat, pola makan juga memegang peranan penting dalam mencegah maag kambuh.
Penderita maag disarankan menghindari makanan pedas, asam, berlemak, serta minuman berkafein. Makan secara perlahan dan tidak berlebihan membantu menjaga kestabilan asam lambung dan mengurangi risiko iritasi.
Juliyastin juga mengingatkan penderita GERD atau maag kronis agar tidak menghentikan obat secara tiba-tiba selama Ramadan tanpa anjuran dokter karena berisiko memperparah kondisi. Ia menyarankan pasien berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis untuk menyesuaikan dosis dan jadwal minum obat selama puasa.
“Dengan persiapan yang tepat menjelang Ramadan, termasuk memahami aturan minum obat maag, ibadah puasa dapat dijalani dengan tenang, sehat, dan lancar tanpa gangguan lambung,” ungkapnya.
Tak hanya persoalan maag, menjalankan ibadah puasa bagi penderita penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan kolesterol juga kerap menimbulkan kekhawatiran. Kekhawatiran utama biasanya terkait perubahan jadwal minum obat serta risiko kambuh selama berpuasa.
Apoteker Abdurrachman mengatakan, dengan pengaturan yang tepat dan pengawasan tenaga kesehatan, puasa tetap dapat dijalani dengan aman. Penderita penyakit degeneratif tidak dianjurkan menghentikan konsumsi obat secara tiba-tiba selama bulan puasa. Jadwal minum obat dapat disesuaikan dengan waktu sahur dan berbuka.
“Untuk obat yang diminum satu kali sehari, umumnya dapat dikonsumsi setelah berbuka atau menjelang tidur malam. Obat yang diminum dua kali sehari dapat dikonsumsi saat sahur dan berbuka,” jelasnya.
Sementara itu, obat yang diminum tiga kali sehari dapat dikonsumsi saat berbuka puasa, menjelang tengah malam, dan sebelum sahur.
Ia menambahkan, pasien yang memiliki aturan minum obat empat kali sehari, terutama antibiotik, tidak dianjurkan berpuasa. Jika dipaksakan, kadar obat dalam tubuh bisa tidak stabil dan berisiko menimbulkan efek samping atau menurunkan efektivitas pengobatan. Karena itu, pasien disarankan berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan berpuasa.
Abdurrachman juga mengingatkan bahwa selain waktu minum obat, cara konsumsi perlu diperhatikan. Beberapa obat sebaiknya diminum setelah makan untuk mencegah iritasi lambung sehingga lebih aman dikonsumsi saat berbuka atau sahur setelah makan utama.
Pasien diimbau tidak menghentikan atau mengubah dosis obat secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan dokter karena dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
“Dengan memperhatikan jadwal minum obat, mengatur pola makan bergizi seimbang, membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta memastikan asupan cairan cukup, kesehatan dapat tetap terjaga selama bulan puasa,” pungkasnya. (mrd)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro