Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Krisis BBM Akibat Sungai Dangkal Mulai Teratasi, Gubernur Kalbar Minta Antisipasi Jangka Panjang Pertamina

Meidy Khadafi • Rabu, 25 Februari 2026 | 10:50 WIB

 

SANDAR DI SINTANG: Kapal pengangkut BBM sandar di Fuel Terminal Sintang setelah debit Sungai Melawi naik, menandai dimulainya normalisasi pasokan BBM ke wilayah hulu Kalimantan Barat.
SANDAR DI SINTANG: Kapal pengangkut BBM sandar di Fuel Terminal Sintang setelah debit Sungai Melawi naik, menandai dimulainya normalisasi pasokan BBM ke wilayah hulu Kalimantan Barat.

PONTIANAK POST - Setelah berminggu-minggu dilanda kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), wilayah perhuluan Kalimantan Barat mulai melihat titik terang. PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan memastikan tiga kapal pengangkut BBM berhasil sandar di Fuel Terminal (FT) Sintang hingga Senin (23/2), seiring naiknya debit air Sungai Melawi yang membuka kembali jalur distribusi sungai.

Tambahan pasokan ini menjadi momentum percepatan normalisasi distribusi BBM ke wilayah hulu Kalbar yang sebelumnya terhambat akibat pendangkalan sungai. Total pasokan yang masuk secara bertahap mencapai 4.500 kiloliter (KL).

Kapal OB Neira telah menyelesaikan bongkar muat Pertalite, disusul Kapal OB Kumai yang menurunkan Biosolar dan Pertalite pada Minggu (22/2). Sementara Kapal OB Goni menuntaskan pembongkaran Pertalite pada Senin (23/2).

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan PT Pertamina Patra Niaga, Edi Mangun, menegaskan seluruh langkah percepatan dilakukan secara terkoordinasi.

“Kami memastikan tambahan pasokan terus bergerak menuju Sintang untuk memperkuat stok dan mempercepat normalisasi distribusi. Koordinasi intensif bersama seluruh tim operasional dan pemangku kepentingan terus dilakukan agar suplai tiba sesuai jadwal dan segera disalurkan ke SPBU prioritas,” ujarnya.

Selain jalur sungai, Pertamina sebelumnya mengalihkan distribusi melalui jalur darat dari Integrated Terminal Pontianak dengan operasional 24 jam saat sungai belum dapat dilayari secara optimal. Kini, seiring naiknya permukaan air, pengiriman BBM kembali dioptimalkan lewat kapal pengangkut.

Pertamina juga mengaktifkan dermaga alternatif di Sanggau untuk mempercepat proses bongkar muat ke mobil tangki, sehingga waktu tempuh distribusi dapat dipangkas. Koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan mitra transportir terus dilakukan agar penyaluran berjalan lancar dan tepat sasaran.

 

Norsan Beri Teguran

Sebelumnya, krisis BBM di wilayah hulu Kalbar mendapat perhatian serius dari Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan. Ia menegur keras PT Pertamina (Persero) setelah harga BBM, Pertalite misalnya, di tingkat pengecer melonjak hingga Rp50 ribu per liter di sejumlah lokasi.

Menurut Norsan, gangguan distribusi disebabkan surutnya air sungai sehingga ponton besar tidak dapat merapat akibat munculnya hamparan pasir di alur sungai.

“Di Kabupaten Sanggau, ponton besar tidak bisa merapat karena air surut dan di tengah sungai ada pasir. Ini yang menyebabkan distribusi tersendat,” kata Norsan, Senin (23/2).

Ia memastikan kondisi mulai membaik setelah dua ponton berhasil masuk dan distribusi dilanjutkan menggunakan mobil tangki. Norsan menargetkan pasokan kembali stabil dalam waktu dekat dan harga BBM kembali sesuai ketentuan.

Tekanan juga datang dari daerah. Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala meminta Pertamina menyiapkan strategi antisipasi jangka panjang karena pendangkalan sungai merupakan persoalan tahunan.

“Musim kering seperti ini terjadi setiap tahun. Seharusnya ada langkah antisipasi sehingga pasokan BBM tidak terganggu,” tegasnya.

Sebelumnya, distribusi BBM ke wilayah hulu Kalbar terganggu akibat pendangkalan Sungai Kapuas–Melawi selama beberapa pekan terakhir. Ketinggian air turun drastis hingga 2,1–2,25 meter, jauh di bawah batas aman navigasi kapal tanker yang membutuhkan kedalaman minimal empat meter.

Sedikitnya tiga kapal pengangkut BBM tertahan di wilayah Sanggau dan gagal melanjutkan pelayaran menuju Fuel Terminal Sintang. Akibatnya, pasokan ke Sintang, Melawi, dan Kapuas Hulu hanya mengandalkan stok darurat depo setempat.

Kondisi tersebut memicu antrean panjang di SPBU serta lonjakan harga BBM di tingkat pengecer. Di Kapuas Hulu, harga Pertalite dilaporkan naik hingga berkali-kali lipat di tingkat pengecer. Polisi melakukan penertiban jeriken, sementara DPRD mendesak penetapan harga eceran tertinggi (HET). Dengan masuknya tiga kapal pengangkut BBM ke FT Sintang, Pertamina optimistis distribusi energi ke wilayah hulu Kalbar akan kembali normal secara bertahap dalam beberapa hari ke depan. (ars/mdy)

Editor : Hanif
#sintang #hulu #kalbar #kapal bbm #Pertamina #krisis bbm #pendangkalan sungai