Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Komisi II DPRD Kalbar Tinjau Pabrik Alumina di Sanggau, Soroti Dampak Ekonomi Daerah dan Serapan Tenaga Kerja Lokal

Deny Hamdani • Kamis, 12 Maret 2026 | 12:53 WIB

Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Barat melakukan kunjungan kerja ke kawasan industri, PT KAN di Kecamatan Toba, Sanggau, beberapa waktu lalu.
Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Barat melakukan kunjungan kerja ke kawasan industri, PT KAN di Kecamatan Toba, Sanggau, beberapa waktu lalu.

PONTIANAK POST – Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Barat melakukan kunjungan kerja ke kawasan industri milik PT Kalimantan Alumina Nusantara (KAN), perusahaan patungan antara Press Metal Aluminium Holdings Berhad dan Gesit Group, yang berlokasi di Kecamatan Toba, Sanggau.

Kunjungan tersebut bertujuan meninjau perkembangan investasi industri pengolahan bauksit menjadi alumina yang tengah dikembangkan perusahaan.

Anggota Komisi II DPRD Kalbar, Fransiskus Ason, mengatakan kunjungan itu merupakan bagian dari fungsi pengawasan sekaligus dukungan legislatif terhadap investasi yang dinilai berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Menurutnya, keberadaan industri pengolahan seperti PT KAN diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah sektor pertambangan sekaligus memperkuat posisi Kalbar sebagai salah satu pusat agroindustri perkebunan dan pertambangan di Indonesia.

“Sekarang PT KAN dan beberapa perusahaan lain sudah mulai beroperasi. Jika dikelola dengan baik, investasi ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Kalbar hingga lima sampai sepuluh persen, bahkan berpotensi melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar legislator dari Partai Golkar Kalbar ini.

Ia mencontohkan pengalaman sejumlah daerah yang mengalami lonjakan ekonomi setelah hadirnya industri pengolahan mineral, seperti smelter nikel di Maluku. Menurutnya, dampak serupa juga diharapkan dapat terjadi di Kalimantan Barat.

“Selain meningkatkan pertumbuhan ekonomi, investasi seperti ini juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat,” kata anggota DPRD Kalbar dari dapil Sanggau-Sekadau ini.

Ason juga menekankan pentingnya transfer teknologi dari tenaga ahli asing kepada sumber daya manusia lokal agar ke depan tenaga kerja dari Kalbar dapat mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan industri tersebut.

Hal senada disampaikan anggota Komisi II DPRD Kalbar, Martin Luther, yang menyoroti potensi peningkatan pendapatan daerah dari sektor pajak kendaraan bermotor dan alat berat yang digunakan perusahaan.

Ia berharap kendaraan operasional perusahaan dapat menggunakan pelat nomor dari Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Sanggau, sehingga pajaknya masuk ke kas daerah.

“Kalau plat kendaraan dari luar daerah, maka pajaknya juga masuk ke daerah asal kendaraan tersebut. Kita berharap kendaraan yang beroperasi di sini didaftarkan di Sanggau agar menambah pendapatan daerah,” jelasnya.

Martin menambahkan, sekitar 60 persen penerimaan pajak kendaraan bermotor akan masuk ke pemerintah kabupaten sehingga berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Kalbar, Yuhilda Harahap, mengingatkan agar perusahaan benar-benar menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR yang berdampak langsung bagi masyarakat sekitar.

“Kita minta CSR benar-benar menyentuh masyarakat, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan pembukaan lapangan kerja bagi warga sekitar,” tegasnya.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalbar, Alexander, juga menekankan pentingnya prioritas tenaga kerja lokal serta pengelolaan limbah industri yang harus diperhatikan secara serius.

“Kami ingin investasi yang masuk benar-benar memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah. Prioritaskan tenaga kerja lokal dan pastikan pengelolaan limbah sesuai aturan,” katanya.

Di sisi lain, Direktur PT Kalimantan Alumina Nusantara, Gusti Fauzi, menjelaskan pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina yang dibangun perusahaan tersebut ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga dua juta ton per tahun.

Menurutnya, keberadaan industri tersebut akan meningkatkan nilai tambah komoditas bauksit yang selama ini menjadi salah satu potensi besar Kalimantan Barat.

“Sekitar 40 persen cadangan bauksit nasional berada di Kalimantan Barat. Dengan adanya industri pengolahan ini, nilai tambahnya bisa dinikmati di dalam negeri,” ujarnya.

Alumina yang dihasilkan nantinya akan dipasok untuk kebutuhan industri peleburan aluminium. Perusahaan juga menargetkan operasional penuh pabrik dapat tercapai secara bertahap hingga tahun 2027.

Dalam operasionalnya, proyek tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 2.000 tenaga kerja dengan prioritas bagi masyarakat lokal.

“Kami berharap dapat menyerap sebanyak mungkin tenaga kerja lokal. Selain itu proyek ini juga melibatkan berbagai vendor sehingga pelaku usaha lokal dapat ikut terlibat,” kata Gusti.

Ia menambahkan, teknologi pemurnian bauksit yang digunakan dalam proyek tersebut berasal dari China karena dinilai memiliki efisiensi tinggi dan biaya yang lebih kompetitif.

Terkait pengelolaan limbah industri, pihaknya memastikan telah menyiapkan sistem pengolahan limbah yang saat ini masih dalam tahap pengurusan perizinan.

“Secara umum pembangunan proyek berjalan baik. Kendala utama biasanya hanya faktor cuaca saat hujan yang dapat memperlambat pekerjaan,” katanya. (den)

Editor : Miftahul Khair
#komisi II DPRD Kalbar #perusahaan tambang #Serapan Tenaga Kerja Lokal #dampak ekonomi daerah