PONTIANAK POST - Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak Bebby Nailufa memandang pernyataan presiden untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) agar bekerja dari rumah sebagai upaya penghematan BBM patut dikaji kembali. Mengingat perang Iran-Israel Amerika masih belum menunjukkan tanda perdamaian.
“Pernyataan presiden kaitan agar ASN bekerja dari rumah dalam rangka penghematan penggunaan BBM saya rasa patut dikaji dengan detail. Ini menjadi upaya pemerintah dalam menghemat energi terutama BBM yang menjadi bahan primer masyarakat bepergian menggunakan kendaraan,” kata Bebby, Selasa (17/3).
Lebih dalam kata dia, meski pemerintah sudah menyatakan jika stok BBM aman hingga lebaran. Namun ada baiknya, sejak saat ini pemerintah sudah membuat skema dalam upaya menjaga ketercukupan stok BBM ini.
Jika salah satu kebijakan ASN diminta untuk bekerja dari rumah dirasa Bebby perlu dilihat lagi lebih detail. Takutnya ketika di rumah ASN justru tidak maksimal dalam bekerja. Kalaupun bekerja di kantor sebetulny masih bisa dilakukan. Caranya dengan menggunakan kendaraan umum seperti ojek online atau bus milik pemkot.
Bebby melihat, kondisi perang antara Iran-Israel dan Amerika sejauh ini belum menunjukkan tanda damai. Bahkan Selat Hormuz, sebagai jalur minyak dunia, posisi buka tutupnya jalur transportasi di sana juga masih mengambang.
Jika kondisi perang makin memanas, bukan tidak mungkin akses untuk membawa minyak dari sana ke Indonesia akan tersendat juga.
Apabila kondisi ini terjadi, dipastikan pasokan minyak ke Indonesia juga terhambat. Oleh sebab itu penghematan energi dipandang Bebby tidak hanya dikalangan ASN saja. Masyarakat dimintanya juga mesti melakukan penghematan penggunaan BBM.
Alternatif penghematan BBM, bisa juga menggunakan kendaraan umum. Seperti ojek online. Mereka ini menurut Bebby akan terdampak jika pasokan BBM sulit didapatkan. Jika BBM tidak ada, mereka tidak bisa mencari rezeki.
Ketika mereka stop bekerja karena ketiadaan BBM artinya mereka tidak memiliki pemasukan. Jika sudah demikian, akan menambah persoalan sosial ke depan. "Makanya mereka harus menjadi perhatian," katanya.
Dalam penghematan ini kata dia pemerintah mesti jeli. Sebab sektor primer mesti mendapatkan prioritas. Seperti kebutuhan pangan menurutnya mesti dijaga.
Apabila pasokan pangan tersendat akibat ketiadaan BBM, ini justru akan menambah masalah. Harga kebutuhan pokok selain sulit juga akan mahal.
“Pemkot Pontianak juga mesti melihat ke depan. Terlebih Kota Pontianak ini kota yang mayoritas konsumen. Bukan kota produsen. Sehingga BBM menjadi suatu kebutuhan paling penting agar kesemuanya bisa berjalan,” katanya. (iza)
Editor : Miftahul Khair