PONTIANAK POST - Mudik via laut dari bukan sekadar perjalanan, melainkan ikhtiar merapatkan kembali jarak dengan rumah. Di setiap kedatangaan dan keberangkatan di Pelabuhan Dwi Kora Pontianak, rindu berlayar lebih dulu, menunggu tubuh benar-benar sampai.
Langit Pontianak masih menyimpan sisa gerimis ketika pelabuhan mulai berdenyut pelan. Di antara bau asin laut dan suara tali tambat yang ditarik, orang-orang berdatangan dengan langkah yang berbeda-beda. Ada yang tergesa, ada yang ragu, ada pula yang sesekali berhenti menatap kapal besar yang diam menunggu. Di geladaknya, kursi-kursi berbaris seperti janji yang siap ditepati: pulang.
Seorang ibu menggenggam tangan anaknya lebih erat dari biasanya. Di sampingnya, seorang pria muda memeluk tas ransel lusuh, menatap lambung kapal seolah di sanalah seluruh jarak hidupnya akan dipendekkan. Tidak ada yang benar-benar sama di antara mereka, kecuali satu hal: keinginan untuk kembali.
Mudik selalu lebih dari sekadar perjalanan. Ia adalah cara manusia menegosiasikan jarak dengan kenangan, mengukur rindu dalam satuan waktu tempuh, dan percaya bahwa sejauh apa pun pergi, selalu ada tempat yang menunggu tanpa syarat.
Tahun ini, arus pulang melalui jalur laut dari Pontianak menunjukkan peningkatan signifikan. PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Cabang Pontianak menyiapkan kapal dengan kapasitas lebih besar untuk mengantisipasi lonjakan penumpang menjelang Lebaran.
Salah satu armada andalan, KM Bukit Raya, dijadwalkan berangkat menuju Surabaya pada 18 Maret dengan kapasitas hingga sekitar 1.456 penumpang dalam satu perjalanan. Lebih tinggi dibandingkan hari biasa yang berkisar seribu orang.
Kepala Cabang Pelni Pontianak, Fitriyaningsih, menjelaskan bahwa penambahan kapasitas ini merupakan bentuk dispensasi yang lazim diberikan saat musim angkutan Lebaran. Selain rute utama Pontianak–Surabaya, Pelni juga melayani jalur ke wilayah kepulauan seperti Serasan, Midai, hingga Natuna, yang tetap menjadi urat nadi mobilitas masyarakat di daerah dengan akses transportasi terbatas.
Di antara ribuan penumpang itu, ada Arif (32), seorang pekerja bangunan yang telah setahun tidak pulang ke kampungnya di Jawa Timur. Ia memilih kapal karena harga tiket yang lebih terjangkau, apalagi tahun ini ada potongan hingga 30 persen dari pemerintah untuk periode tertentu. “Yang penting sampai rumah,” katanya singkat, sambil tersenyum kecil.
Selain KM Bukit Raya, Pelni juga mengoperasikan KM Kelimutu yang dijadwalkan berlayar pada 30 Maret dengan rute menuju Tanjung Pandan dan Tanjung Priok. Kedua kapal tersebut memiliki kapasitas dan fasilitas yang relatif setara, dengan peningkatan layanan pada kebersihan, kenyamanan ruang, hingga kualitas konsumsi selama perjalanan.
Untuk memastikan keamanan, Pelni memperkuat pengawasan selama periode mudik. Personel tambahan disiagakan, sementara kamera pengawas telah dipasang di berbagai titik di dalam kapal. Standar keselamatan pelayaran, baik nasional maupun internasional, disebut telah dipenuhi guna menjamin perjalanan yang aman bagi penumpang.
Bagi banyak orang, perjalanan ini mungkin hanya beberapa hari di atas laut. Namun bagi mereka yang menjalaninya, waktu terasa seperti jembatan panjang yang menghubungkan dua kehidupan: yang ditinggalkan dan yang dirindukan. (Meidy Khadafi)
Editor : Hanif