Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dari Subuh hingga Terik, Kisah Lima Jam Antre BBM di Pontianak

Idil Aqsa Akbary • Jumat, 20 Maret 2026 | 13:48 WIB

Warga mengantre BBM menggunakan sepeda motor di SPBU 64.781.11 Jalan Imam Bonjol, Kota Pontianak, Jumat (20/3) pagi.
Warga mengantre BBM menggunakan sepeda motor di SPBU 64.781.11 Jalan Imam Bonjol, Kota Pontianak, Jumat (20/3) pagi.

PONTIANAK POST – Subuh itu belum benar-benar ramai, Jumat (20/3). Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.20 WIB ketika Pontianak Post memutuskan ikut masuk dalam barisan panjang sepeda motor di Jalan Imam Bonjol. Tujuannya adalah untuk mencoba langsung antre Bahan Bakar Minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) 64.781.11.

Namun, antrean ternyata sudah dimulai jauh sebelum matahari terbit. Posisi awal bukan di halaman SPBU, bukan pula di dekat pompa. Antrean bahkan sudah mengular hingga ke depan Hotel Kapuas Dharma.

Deretan sepeda motor berdiri rapat di bahu jalan, membentuk dua baris panjang. Mesin-mesin dimatikan. Pengendara lebih banyak diam, sesekali mengobrol pelan.

Udara subuh masih bersahabat. Tidak panas, bahkan cenderung sejuk. Wajah-wajah yang antre beragam, anak muda, orang tua, laki-laki, perempuan, semuanya punya tujuan yang sama, yakni mendapatkan BBM di tengah kondisi sulit beberapa hari terakhir.

Perlahan tapi pasti, antrean pun mulai bergerak. Tak ada teriakan. Tak ada dorongan. Hanya laju pelan, beberapa meter setiap kali. Seperti arus yang nyaris tak terasa, tapi terus berjalan. Namun waktu ikut mengalir tanpa disadari.

Sekitar satu jam berlalu. Pukul 06.31 WIB, posisi baru bergeser hingga tepat di depan Kantor Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa Pontianak. Jarak yang ditempuh terasa sangat pendek untuk waktu selama itu. Tapi tak ada pilihan selain tetap mengikuti ritme antrean.

Matahari pun mulai naik. Cahaya pagi yang awalnya hangat perlahan berubah menjadi menyengat. Sekitar pukul 08.30 WIB, panas mulai terasa kuat. Pengendara yang sebelumnya santai mulai mencari cara bertahan.

Ada yang menepi ke bawah bayangan ruko, ada yang berlindung di balik pohon. Sementara sepeda motor tetap dibiarkan di posisi antrean, menjaga giliran yang sudah didapat dengan susah payah.

Tak sedikit yang memilih duduk di atas motor, menunduk, menunggu. Ada pula yang sesekali turun, meregangkan kaki, lalu kembali berdiri di samping kendaraan. Satu dua orang bahkan ada yang menyerah, dan memilih putar arah dan pulang.

Kondisi puasa menambah tantangan. Di hari-hari biasa saja antre panjang sudah melelahkan, apalagi di bulan ramadan, tepat di H-1 lebaran, ketika energi tubuh tidak sepenuhnya terisi. Namun harus tetap bertahan, bahkan terpaksa, karena kondisi tangki sepeda motor yang hampir kosong.

Waktu terus berjalan. Antrean semakin dekat ke SPBU. Aktivitas di dalam terlihat sibuk tanpa jeda. Tidak ada waktu istirahat. Delapan pompa bekerja penuh, empat di sisi kiri, empat di sisi kanan, melayani arus kendaraan yang seolah tak pernah habis.

Saat akhirnya tiba di area pengisian, sistem yang digunakan di SPBU ini cukup sederhana. Konsumen melayani diri sendiri. Petugas hanya mengarahkan. Untuk pengisian penuh, cukup memberi tahu, lalu pengendara mengambil nozzle, dan mengisi sendiri. Setelah selesai, baru dilakukan pembayaran sesuai jumlah BBM yang masuk.

Prosesnya bisa dibilang cepat, efisien, tanpa banyak drama. Apalagi petugas dari kepolisian juga tampak ikut berjaga, mengawasi semua prosesnya. Namun, kecepatan di dalam SPBU tak mampu mengimbangi panjangnya antrean di luar.

Dari awal masuk antrean hingga akhirnya mendapatkan pertalite, waktu yang dibutuhkan mencapai lebih dari lima jam. Sebuah durasi yang bukan hanya menguras tenaga, tapi juga kesabaran.

Pengalaman ini menjadi gambaran nyata situasi beberapa hari terakhir di Kota Pontianak. Antrean panjang terjadi hampir di seluruh SPBU. Warga harus meluangkan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar. Dan di hari terakhir menjelang lebaran, kondisi itu belum juga berubah.

Di balik deretan kendaraan, dan panas yang menyengat, tersimpan cerita tentang bertahan. Tentang kebutuhan yang tak bisa ditunda. Dan tentang bagaimana lima jam bisa terasa sangat panjang, hanya demi setetes BBM. (bar)

Editor : Miftahul Khair
#antrean mengular #antre bbm #Pertamina #pontianak #antre spbu #jelang lebaran