PONTIANAK POST - Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, Harisson, menekankan pentingnya percepatan akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu bersaing dengan praktik pinjaman informal atau rentenir.
Menurut Harisson, perhatian pemerintah pusat terhadap sektor UMKM semakin kuat, terutama setelah kunjungan Menteri UMKM dan Menteri Perumahan ke sejumlah daerah di Kalbar, seperti Singkawang dan Pontianak. Dari kunjungan tersebut, ditemukan bahwa banyak UMKM dijalankan dari rumah maupun dalam skala kelompok kecil dengan jumlah yang cukup besar.
“Jumlahnya bisa mencapai sekitar 10 ribu, bahkan mungkin lebih. Ini potensi besar yang harus didukung dengan akses pembiayaan yang lebih mudah,” ujarnya di Pontianak, baru-baru ini.
Ia menjelaskan, pemerintah saat ini mendorong adanya keringanan bunga pinjaman bagi pelaku UMKM. Kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo yang menurunkan suku bunga kredit menjadi kisaran 5–6 persen, jauh lebih rendah dibanding sebelumnya.
Harisson berharap bank-bank milik negara yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), termasuk Bank Kalbar, dapat mengikuti kebijakan penurunan bunga tersebut. Langkah ini dinilai penting agar lembaga perbankan tetap kompetitif dibandingkan dengan rentenir.
“Selama ini keunggulan rentenir ada pada kecepatan pencairan. Dalam hitungan menit atau jam, dana bisa langsung diterima. Ini yang harus bisa ditandingi oleh perbankan,” katanya.
Ia menegaskan, selain bunga rendah, kecepatan proses menjadi kunci utama agar masyarakat, khususnya pelaku UMKM dari kalangan menengah ke bawah, lebih memilih layanan perbankan formal dibanding pinjaman informal.
“Bank harus bisa mengalahkan rentenir dalam hal kecepatan layanan kredit kepada masyarakat,” tegas Harisson. (mse)
Editor : Hanif