Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

BMKG Supadio Luruskan Isu El Nino, Musim Kemarau di Kalbar Diprediksi Mulai Pertengahan Juni

Ashri Isnaini • Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB
Logo BMKG
Logo BMKG

 

PONTIANAK POST - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supadio meluruskan informasi terkait fenomena El Nino yang belakangan berkembang di masyarakat. Meski terdapat indikasi El Nino di Indonesia, musim kemarau di Kalimantan Barat diperkirakan belum akan dimulai dalam waktu dekat.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Supadio, Sutikno, mengatakan awal musim kemarau di Kalbar diprediksi baru terjadi pada dasarian kedua Juni, yakni sekitar 11 hingga 20 Juni mendatang. “Untuk April ini belum masuk musim kemarau. Prediksi kami, April hingga Mei curah hujan masih dalam kategori normal,” kata Sutikno kepada Pontianak Post, Senin (30/3), di Sungai Raya.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan potensi hujan masih akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Dengan demikian, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diperkirakan dapat ditekan, meski tidak sepenuhnya hilang.

Dari sisi jarak pandang di sekitar wilayah Bandara Internasional Supadio, BMKG sempat mencatat penurunan signifikan pada 27 hingga 28 Maret, dengan visibilitas di bawah satu kilometer. Namun kondisi tersebut hanya berlangsung singkat, sekitar dua jam pada pagi hari.

“Penurunan jarak pandang terjadi sekitar pukul 06.00 hingga 07.00. Saat ini, termasuk pada 29 dan 30 Maret, jarak pandang sudah kembali normal di atas satu kilometer sehingga aktivitas penerbangan aman,” ujarnya.

Sementara itu, jumlah titik panas (hotspot) di Kalbar menunjukkan tren peningkatan sepanjang Januari hingga Maret 2026. Lonjakan tertinggi terjadi pada Maret.

Sutikno menyebutkan tiga wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak saat ini, yakni Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, dan Mempawah. Khusus pada Maret, Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi, disusul Kubu Raya dan Mempawah.

“Jika dibandingkan Januari dan Februari, peningkatan pada Maret cukup signifikan,” katanya.

Berdasarkan data historis BMKG, pada periode 2015 hingga 2025 puncak kemunculan hotspot di Kalbar umumnya terjadi pada Agustus hingga September. Karena itu, kewaspadaan dini dinilai penting untuk mencegah kebakaran meluas.

“Sekarang memang mulai meningkat, tetapi puncaknya biasanya terjadi pada Agustus atau September. Ini yang harus diantisipasi sejak sekarang,” ujarnya.

BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau di Kalbar akan berlangsung pada Juli hingga Agustus. Dengan kondisi tersebut, masyarakat dan pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah yang rawan karhutla.

“Dalam sepekan ini potensi hujan masih ada sehingga karhutla diperkirakan berangsur berkurang. Namun untuk wilayah Kubu Raya bagian barat, kewaspadaan tetap diperlukan karena distribusi hujan belum merata,” pungkas Sutikno. (ash)

Editor : Hanif
#musim kemarau #el nino #Hujan #BMKG SUPADIO