PONTIANAK POST - Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Kalimantan Barat pada Maret 2026 sebesar 0,25 persen secara bulanan, lebih rendah dibandingkan angka nasional yang mencapai 0,41 persen.
Meski relatif terkendali, tekanan harga mulai terasa di sejumlah komoditas seiring meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat pada rangkaian perayaan Imlek, Cap Go Meh, hingga menjelang Lebaran.
Kepala BPS Kalimantan Barat, Muhammad Saichudin, menjelaskan, pola inflasi bulan Maret sangat dipengaruhi faktor musiman yang mendorong permintaan secara signifikan dalam waktu singkat.
Kondisi ini membuat sejumlah harga komoditas mengalami kenaikan, terutama bahan pangan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan konsumsi masyarakat saat perayaan.
Baca Juga: Pemprov Dorong Sinergi Penanganan Jalan
Komoditas yang paling dominan mendorong inflasi adalah telur ayam ras. Kenaikan harga terjadi karena tingginya permintaan, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan produksi makanan seperti kue dan hidangan khas perayaan.
Selain itu, cabai rawit juga mengalami kenaikan harga, disusul udang basah, kol putih, buncis, dan kangkung yang turut memberikan andil terhadap inflasi bulan Maret.
"Komoditas yang mengalami inflasi itu telur ayam ras, cabai rawit, udang basah, kol putih, buncis, dan kangkung,” jelas Saichudin siang kemarin.
Lanjut Saichudin, tidak hanya dari kelompok makanan, tekanan inflasi juga datang dari sektor transportasi. Tingginya mobilitas masyarakat saat perayaan Imlek menyebabkan lonjakan harga tiket pesawat.
Meskipun pemerintah memberikan diskon tarif, harga tiket masih relatif tinggi karena sebelumnya sudah mengalami kenaikan akibat tingginya permintaan. Kondisi ini membuat dampak penurunan harga tidak terlalu signifikan terhadap inflasi secara keseluruhan.
Baca Juga: Pemprov Dorong Sinergi Penanganan Jalan
Di sisi lain, penyesuaian harga bahan bakar minyak pada Maret 2026 turut memperkuat tekanan inflasi. Kenaikan harga BBM, meskipun tidak terlalu besar, tetap berdampak pada biaya distribusi dan transportasi yang kemudian berimbas pada harga barang di tingkat konsumen.
“Ada kenaikan harga bahan bakar minyak pada bulan Maret, walaupun tidak besar, tetap memberikan pengaruh,” tambahnya.
Saichudin menyebutkan, jika secara tahunan, inflasi Kalbar tercatat sebesar 2,89 persen, juga lebih rendah dibandingkan nasional yang mencapai 3,48 persen. Namun demikian, angka inflasi tahunan ini dipengaruhi oleh efek pembanding dengan kondisi tahun sebelumnya, khususnya adanya kebijakan diskon tarif listrik pada Januari dan Februari 2025.
Ketika memasuki Maret 2025, diskon tersebut mulai berakhir sehingga terjadi perbedaan indeks harga yang cukup signifikan saat dibandingkan dengan Maret 2026.
“Inflasi tahunan yang cukup tinggi ini salah satunya karena pengaruh diskon listrik pada Januari-Februari 2025,” jelasnya.
Kemudian, tambah Saichudin, jika dilihat dari sebaran wilayah, inflasi di Kalbar juga menunjukkan variasi antar daerah. Kota Singkawang mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,55 persen.
Tingginya inflasi di wilayah ini tidak terlepas dari perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang menjadi agenda budaya besar dan mendorong lonjakan konsumsi masyarakat, terutama pada komoditas seperti telur ayam ras.
“Di Singkawang memang karena puncak Cap Go Meh dan Imlek, sehingga permintaan tinggi, terutama telur ayam ras,” ujarnya.
Sebaliknya, Kota Pontianak menjadi daerah dengan inflasi bulanan terendah. Sementara itu, secara tahunan, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sintang sebesar 3,13 persen, disusul Kabupaten Kayong Utara. Adapun inflasi tahunan terendah berada di Kota Singkawang sebesar 2,69 persen. (mse)
Editor : Hanif