PONTIANAK POST – Kota Pontianak saat ini menghadapi tekanan inflasi akibat terganggunya pasokan barang kebutuhan konsumsi masyarakat.
Keterbatasan suplai ini memicu kenaikan harga sejumlah komoditas, mulai dari bahan pokok hingga produk kebutuhan sehari-hari.
Ketua Apindo Kota Pontianak, Andreas Acui Simanjaya, mengungkapkan bahwa kondisi ini diperparah oleh tidak optimalnya operasional crane di Pelabuhan Dwikora.
Akibatnya, terjadi antrean kapal dan penurunan arus keluar-masuk barang hingga 50 persen dari kapasitas normal.
“Dampaknya, stok barang berkurang dan memicu kenaikan harga karena kelangkaan. Produk seperti air minum dalam kemasan dari luar Kalbar, susu, beras, minyak goreng, hingga produk plastik seperti kotak mika mengalami kenaikan. Bahkan pupuk juga ikut naik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, gejala penurunan suplai dari produsen di Jakarta sudah terjadi sejak awal Januari 2026.
Selain itu, biaya logistik juga melonjak signifikan, terutama tarif kontainer dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Pontianak yang terus meningkat.
“Awal tahun biaya kontainer sekitar Rp10 juta, lalu naik menjadi Rp12 juta, dan pada Maret sudah mencapai Rp15 juta per kontainer. Bahkan per 6 April direncanakan naik lagi,” jelas Andreas.
Kenaikan biaya logistik tersebut berdampak langsung pada harga barang, terutama sembako seperti beras, minyak goreng, dan gula.
Selain itu, potensi kenaikan harga juga dipicu oleh naiknya harga bahan bakar non-subsidi serta situasi geopolitik global yang memengaruhi pasokan energi dunia.
“Untuk wilayah luar Pulau Jawa seperti Kalbar, saat ini terjadi dua tekanan sekaligus, yakni kenaikan biaya kontainer dan kenaikan harga dari produsen,” tambahnya.
Sementara itu, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi dan Sumber Daya Mineral (Disperindag-ESDM) Kalimantan Barat membenarkan adanya keterbatasan stok di sejumlah gerai ritel modern di Pontianak.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri Disperindag-ESDM Kalbar, Agus Satrio Leksono, mengatakan pihaknya telah menerima laporan terkait terbatasnya stok beberapa komoditas seperti mie instan, minyak goreng, dan susu kemasan.
“Beberapa gerai memang menyampaikan stok beberapa komoditi agak terbatas,” ujarnya, Selasa (7/4).
Menurutnya, kendala utama berasal dari distribusi barang dari luar daerah ke Kalbar yang terhambat akibat terbatasnya ketersediaan kontainer di pelabuhan utama seperti Tanjung Priok dan Tanjung Emas.
“Info dari distributor, terdapat kendala dalam pengiriman karena keterbatasan kontainer. Saat ini kami masih berkoordinasi dengan ekspedisi dan pihak logistik untuk mengatasi hambatan ini,” jelasnya.
Meski demikian, Agus memastikan arus distribusi barang dari Kalbar ke luar daerah sejauh ini masih berjalan lancar.
Pemerintah daerah dan pelaku usaha kini diharapkan dapat segera menemukan solusi agar distribusi kembali normal, sehingga tekanan harga dapat dikendalikan dan daya beli masyarakat tetap terjaga. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro