PONTIANAK POST – Jumlah penumpang angkutan udara yang datang ke Kalimantan Barat pada Februari 2026 tercatat meningkat, sementara transportasi laut mengalami penurunan.
Data Badan Pusat Statistik Kalbar menunjukkan jumlah penumpang udara yang datang mencapai 125.761 orang.
Angka tersebut naik 2,01 persen dibandingkan Januari 2026 yang tercatat sebanyak 123.284 orang.
Kepala BPS Kalbar, Muh Saichudin, mengatakan peningkatan ini menunjukkan mobilitas masyarakat melalui jalur udara masih tumbuh.
“Secara umum transportasi udara masih menjadi pilihan utama, terlihat dari tren peningkatan jumlah penumpang yang datang,” ujarnya.
Selain kedatangan, jumlah penumpang yang berangkat melalui angkutan udara juga mengalami kenaikan.
Jumlah penumpang yang berangkat tercatat naik 0,74 persen menjadi 112.360 orang dibandingkan bulan sebelumnya.
Bandara Supadio di Kubu Raya masih menjadi pintu utama lalu lintas udara di Kalimantan Barat.
Bandara tersebut menyumbang lebih dari 86 persen dari total kedatangan penumpang di wilayah Kalbar.
Sementara itu, pada sektor transportasi laut, jumlah penumpang yang datang pada Februari 2026 mengalami penurunan.
Jumlah penumpang laut yang datang tercatat sebanyak 5.212 orang.
Angka tersebut turun 2,16 persen dibandingkan Januari 2026 yang mencapai 5.327 orang.
Meski demikian, jumlah penumpang yang berangkat melalui angkutan laut justru meningkat cukup signifikan.
Jumlah penumpang yang berangkat tercatat naik 24,89 persen menjadi 5.746 orang.
Saichudin menjelaskan pergerakan penumpang laut cenderung fluktuatif.
“Pergerakan penumpang laut biasanya dipengaruhi kebutuhan distribusi dan mobilitas antarwilayah pesisir,” jelasnya.
Di sisi lain, aktivitas bongkar muat barang juga menunjukkan dinamika yang berbeda.
Jumlah barang yang dibongkar tercatat sebesar 1,45 juta ton.
Angka tersebut turun 40,29 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Sebaliknya, jumlah barang yang dimuat meningkat 12,21 persen menjadi 548.661 ton.
Menurut BPS, kondisi tersebut mencerminkan perubahan arus logistik dan distribusi barang di Kalimantan Barat.
Perubahan tersebut turut memengaruhi kinerja sektor transportasi di wilayah tersebut. (mse)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro