Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Harga BBM Nonsubsidi Naik Tajam, Ketua DPRD Kalbar Khawatir Bakal Tekan Aktivitas Ekonomi

Deny Hamdani • Senin, 20 April 2026 | 16:33 WIB
Aloysius, Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat.
Aloysius, Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat.

 

PONTIANAK POST – PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai Sabtu (18/4). Kenaikan tersebut berlaku untuk sejumlah produk, yakni Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Di Kalimantan Barat, harga BBM terbaru tercatat Pertamax tetap Rp12.600 per liter, Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.850 per liter, Dexlite menjadi Rp24.150 per liter, dan Pertamina Dex mencapai Rp24.450 per liter.

Sementara itu, harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite masih dipatok Rp10.000 per liter dan Biosolar tetap di Rp6.800 per liter.

Baca Juga: Pertamina Naikkan Harga BBM Nonsubsidi per 18 April 2026, Dexlite dan Pertamina Dex Melonjak

Berdasarkan data dari platform MyPertamina, kenaikan cukup signifikan terjadi pada Pertamax Turbo (RON 98) yang sebelumnya berada di kisaran Rp13.100 per liter. Dexlite juga naik dari Rp14.200 per liter, serta Pertamina Dex yang kini menyentuh sekitar Rp23.900 per liter.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Aloysius, mengaku terkejut dengan lonjakan harga BBM nonsubsidi yang dinilai cukup tinggi.

“Saya cukup terkejut. Beberapa hari lalu kami rapat dengan Forkopimda, tidak ada informasi kenaikan. Ternyata yang tidak naik hanya BBM subsidi, sementara nonsubsidi naik tinggi,” ujarnya.

Baca Juga: Bahlil Sebut Stok BBM Aman hingga Akhir 2026, RI Dapat Pasokan Minyak Rusia

Aloysius mengungkapkan, kenaikan tersebut turut berdampak langsung pada aktivitas kedinasan yang menggunakan BBM nonsubsidi. Ia bahkan mengaku keberatan dengan lonjakan harga yang terjadi. “Kalau secara pribadi, jujur cukup mengeluh karena kenaikannya luar biasa tinggi,” katanya.

Ia juga mengkhawatirkan dampak lanjutan, terutama potensi kembali terjadinya antrean panjang di SPBU di Kalimantan Barat seperti yang sempat terjadi sebelumnya. "Tetapi harapan saya, mudahan saja tak terjadi demikian," katanya.

Selain itu, kenaikan harga BBM nonsubsidi dinilai berpotensi menekan aktivitas ekonomi, khususnya sektor transportasi dan distribusi barang yang bergantung pada jenis BBM tersebut.

“Kita khawatir ini bisa berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat, terutama yang menggunakan BBM nonsubsidi dalam kegiatan usaha sehari-hari,” tambahnya.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi ini menjadi perhatian berbagai pihak, mengingat dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengguna langsung, tetapi juga berpotensi memengaruhi biaya logistik dan harga barang di tingkat konsumen. (den)

Editor : Miftahul Khair
#harga bbm nonsubsidi #DPRD Kalbar #Aktivitas Ekonomi