PONTIANAK POST – Semarak Pariwisata, UMKM, dan Keuangan (Saprahan) Khatulistiwa Expo 2026 kembali digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat. Ini merupakan tahun ke enam event ini digelar.
Kegiatan ini akan berlangsung pada 2 hingga 10 Mei 2026, dengan rangkaian program yang mengintegrasikan promosi, peningkatan kapasitas usaha, hingga perluasan akses pasar dan pembiayaan.
Deputi Kepala Perwakilan BI Kalbar, Dhony Iwan Kristanto, mengatakan Saprahan Khatulistiwa merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas harga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Kalau kami melihat kondisi Kalimantan Barat, pertumbuhan ekonominya cukup baik dan menjadi salah satu yang tertinggi di Kalimantan. Ini menjadi optimisme yang harus terus kami dorong, terutama melalui penguatan UMKM,” ujar Doni dalam konferensi pers Saprahan Khatulistiwa di Ruang Sao Langke, Lantai 3, KPw Bank Indonesia Kalimantan Barat, Rabu, (29/4).
Baca Juga: Pelatihan Kewirausahaan Dorong UMKM Pontianak Tembus Ritel Modern
Pada penyelenggaraan tahun ini, BI Kalbar menetapkan sejumlah target capaian. Untuk perluasan akses keuangan, ditargetkan UMKM yang terhubung dengan lembaga pembiayaan mencapai Rp2,65 miliar.
Sementara dari sisi perluasan pasar, ditargetkan nilai penjualan mencapai Rp2,1 miliar. Selain itu, jumlah kunjungan ditargetkan mencapai 21.400 orang atau meningkat sekitar 5 persen dibandingkan realisasi tahun 2025.
Dhony menjelaskan, Saprahan Khatulistiwa dirancang sebagai ekosistem pengembangan UMKM yang terintegrasi, dengan tiga fokus utama, yakni penguatan UMKM, pengembangan pariwisata, dan peningkatan literasi keuangan.
Pada sektor UMKM, berbagai program disiapkan, mulai dari pelatihan, expo, hingga fasilitasi akses pembiayaan. Sekitar 30 UMKM akan terlibat dalam expo utama dari total sekitar 130 UMKM binaan.
Tak hanya itu, BI Kalbar juga mendorong UMKM lokal untuk naik kelas hingga menembus pasar ekspor. Saat ini, sekitar 30 UMKM tengah mengikuti program kurasi dan pelatihan ekspor.
“Sekitar 30 UMKM sedang kita siapkan agar siap ekspor, mulai dari peningkatan kualitas produk hingga akses pasar global,” kata Dhony.
Dhony menambahkan untuk memperkuat peluang tersebut, kegiatan business matching akan menghadirkan agregator dan buyer yang membuka peluang kerja sama langsung dengan pelaku UMKM.
Saprahan Khatulistiwa 2026 juga dikemas dengan pendekatan gaya hidup dan budaya, seperti festival kuliner, kompetisi barista, serta promosi produk lokal berbasis kearifan daerah. Secara keseluruhan, BI menargetkan total transaksi selama kegiatan dapat menembus sekitar Rp10 miliar.
Sebagai inovasi, BI Kalbar menghadirkan layanan One Stop Service bagi UMKM. Layanan ini memungkinkan pelaku usaha mengakses berbagai kebutuhan secara terintegrasi, mulai dari sertifikasi halal, legalitas usaha, hingga akses pembiayaan.
“Kami ingin UMKM tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Semua kebutuhan mereka, dari legalitas hingga ekspor, bisa difasilitasi dalam satu tempat,” jelasnya. (mse)
Editor : Hanif