PONTIANAK POST – Sebanyak 12.000 porsi lontong khas Sukadana disiapkan untuk memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dalam rangkaian Saprahan Khatulistiwa 2026 di Pontianak. Aksi kuliner massal ini menjadi salah satu agenda paling ditunggu dalam festival yang mengangkat kekuatan UMKM dan budaya lokal Kalimantan Barat.
Founder Kalbar Food Festival, Edy Hartono, mengatakan pemilihan lontong Sukadana bukan tanpa alasan. “Tahun ini kami angkat tema Sukadana. Lontong ini makanan yang umum, tapi punya kekhasan dari sisi penyajian, terutama dengan serundeng kelapa yang jadi cirinya,” ujar Edy dalam konferensi pers Saprahan Khatulistiwa di Ruang Sao Langke, Lantai 3, KPw Bank Indonesia Kalimantan Barat, Rabu, (29/4).
Target 12.000 porsi dipilih untuk melampaui rekor sebelumnya yang berada di angka 11 ribuan porsi pada agenda acara lainya. Seluruh lontong akan dibagikan gratis kepada masyarakat yang hadir.
Baca Juga: Kapal Hias Antar kota Pontianak jadi Juara Pertama Saprahan Khatulistiwa 2025
Proses memasak dilakukan secara masif dengan melibatkan sedikitnya 10 kuali besar. Dalam satu kali masak, satu kuali mampu menghasilkan sekitar 2.000 porsi, dengan kapasitas mencapai 120 liter santan, bahan yang disebut cukup sensitif dalam proses pengolahan.
“Total kami siapkan 10 kuali. Ini memang butuh perhitungan matang, apalagi santan itu tidak boleh salah penanganan,” jelasnya.
Persiapan bahan dilakukan sejak tiga hingga empat hari sebelumnya. Sejumlah bahan utama yang disiapkan antara lain nangka sebanyak 300 kilogram, kacang panjang 50 kilogram, serta bumbu bawang merah dan putih sekitar 12 kilogram. Secara keseluruhan, kebutuhan bahan mencapai hampir 150 kilogram untuk sekali olahan utama.
Selain itu, sekitar 12.000 wadah paper cup disiapkan untuk distribusi kepada masyarakat. Menu lontong akan dipadukan dengan sayur khas dan serundeng kelapa yang menjadi identitas rasa.
Baca Juga: Saprahan Khatulistiwa 2025 Semakin Semarak, Ratusan UMKM Siap Tampilkan Produk Unggulan
Yenna Wiguna, yang juga bagian dari Founder Kalbar Food Festival menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada rekor, tetapi juga pemberdayaan pelaku usaha lokal.
“Semua proses melibatkan UMKM, mulai dari penyediaan ketupat hingga bahan baku lainnya,” ujarnya.
Ia menyebut, selain menjadi upaya pemecahan rekor, kegiatan ini juga bagian dari strategi memperkenalkan kekayaan kuliner daerah ke tingkat yang lebih luas. Lontong Sukadana dinilai sebagai pintu masuk untuk mengangkat potensi makanan lokal lainnya dari Kalimantan Barat.
“Kami mulai dari lontong Sukadana. Ke depan, banyak makanan lokal lain yang bisa didorong untuk dicatatkan dan dipromosikan secara nasional,” tambah Yenna.
Aksi memasak massal ini akan menjadi puncak acara dalam rangkaian Saprahan Khatulistiwa 2026, yang digelar pada 2–10 Mei 2026. Setelah proses pencatatan rekor, seluruh sajian lontong akan dinikmati bersama masyarakat.
Deputi Kepala Perwakilan BI Kalbar, Dhony Iwan Kristanto, menyampaikan Saprahan Khatulistiwa menjadi bagian dari strategi memperkuat daya saing ekonomi daerah melalui transformasi UMKM dan sektor pariwisata.
“Melalui Saprahan Khatulistiwa 2026, kami menargetkan peningkatan akses pasar dan akses keuangan UMKM yang lebih luas, termasuk keterhubungan dengan lembaga pembiayaan,” ujarnya.
Baca Juga: 51 Stand Semarakkan Saprahan Khatulistiwa Expo 2024, Pj Wako Ani Racik Kopi ala Barista
Berdasarkan data yang dipaparkan, perekonomian Kalimantan Barat menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan mencapai 5,39 persen (year on year) sepanjang 2025. Sementara itu, inflasi pada Maret 2026 tercatat sebesar 2,89 persen (yoy) dan 0,25 persen (month to month), menjadi yang terendah di wilayah Kalimantan.
Dhony menjelaskan, kondisi ekonomi yang stabil ini menjadi momentum penting untuk mendorong UMKM naik kelas dan memperluas jangkauan pasar, termasuk ke tingkat global.
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pameran, tetapi juga dirancang sebagai ekosistem pengembangan UMKM yang terintegrasi. Sejumlah agenda utama yang disiapkan antara lain temu bisnis UMKM, inkubator bisnis (INKUBBI), serta expo UMKM yang berkolaborasi dengan berbagai festival lokal.
Baca Juga: Saprahan Khatulistiwa 2025: Gerakkan Ekonomi Kalbar Lewat Pariwisata dan Digitalisasi
Selain itu, BI Kalbar juga mendorong penguatan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata melalui berbagai kegiatan pendukung, seperti pelatihan dan pengembangan wastra tenun ikat Sintang, festival kopi Liberika, hingga sertifikasi pemandu wisata desa.
Pembukaan kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 4 Mei 2026 di kawasan Ayani Mega Mall Pontianak dan akan dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, otoritas keuangan, serta pelaku industri. (mse)
Editor : Miftahul Khair