Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

12.000 Lontong di Kalbar Food Festival ke-7: Pecahkan Rekor Dunia, Juga Diramaikan Stephanie Meyerson

Marsita Riandini • Minggu, 3 Mei 2026 | 22:43 WIB
POTONG LONTONG: Gubernur Kalbar Ria Norsan bersama Ketua TP PKK Erlina dan Chef Stephanie Meyerson memotong lontong Sukadana pada puncak Kalbar Food Festival 2026 di halaman Ayani Megamall, Pontianak, Minggu (3/5). /IST
POTONG LONTONG: Gubernur Kalbar Ria Norsan bersama Ketua TP PKK Erlina dan Chef Stephanie Meyerson memotong lontong Sukadana pada puncak Kalbar Food Festival 2026 di halaman Ayani Megamall, Pontianak, Minggu (3/5). /IST

 

PONTIANAK POST - Asap ipis mengepul dari deretan kuali besar, suara sendok beradu dengan wajan bersahutan, sementara ribuan orang perlahan memadati halaman Ayani Megamall, Pontianak, Minggu (3/5). Aroma santan, bawang, dan rempah menyatu di udara.

Di tengah hiruk-pikuk itu, tangan-tangan masyarakat bergerak serempak, memasak, menyusun, dan menyiapkan satu hidangan yang sama: lontong khas Sukadana.

Kesemarakkan kian terasa, ketika sebanyak 12.000 porsi lontong tersaji serentak. Ini bukan sekadar hidangan, melainkan simbol kebersamaan yang memecahkan rekor dunia, sekaligus membanggakan Kalimantan Barat.

Momentum ini menjadi puncak dari rangkaian Kalbar Food Festival ke-7 yang dirangkai dengan Saprahan Khatulistiwa ke-6.

Dalam satu hamparan panjang tradisi kuliner, masyarakat lintas daerah, etnis, dan latar belakang duduk bersama, menyantap hidangan yang sama—menghidupkan kembali nilai gotong royong yang kian langka.

Menariknya, aksi memasak massal tersebut dipandu langsung oleh Juara MasterChef Indonesia Season 13, Stephanie Meyerson—putri daerah Kalimantan Barat yang menjadi kebanggaan masyarakat.

Kehadirannya tidak hanya memastikan kualitas sajian, tetapi juga memberi sentuhan profesional sekaligus inspirasi bagi para pelaku kuliner lokal.

Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menegaskan bahwa capaian tersebut bukan sekadar angka atau seremoni.

“Ini bukan hanya tentang rekor, tetapi bagaimana kita menunjukkan kepada dunia bahwa Kalimantan Barat memiliki kekayaan kuliner dan budaya yang luar biasa. Lontong Sukadana hari ini menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, dan identitas kita,” ujarnya saat membuka kegiatan.

Festival yang berlangsung hingga 10 Mei 2026 ini menjadi panggung besar bagi promosi kuliner lokal. Ratusan pelaku UMKM ambil bagian, menghadirkan ragam cita rasa khas daerah.

Berbagai agenda turut memeriahkan, mulai dari pemilihan duta kuliner, pertunjukan musik, fashion show, peluncuran tenun, lomba tari, hingga duel masak.

Menurut Norsan, kuliner bukan sekadar makanan, melainkan representasi budaya yang memiliki kekuatan ekonomi.

“Melalui festival ini, kita memperkenalkan jati diri masyarakat Kalimantan Barat. Ini yang harus kita jaga dan dorong agar memberi nilai tambah ekonomi,” katanya.

Ia juga mendorong pelaku usaha kuliner untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan cita rasa autentik.

“Kita harus menjaga kualitas, higienitas, dan kemasan agar mampu bersaing, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional hingga global,” tambahnya.

Salah satu sorotan utama adalah upaya memecahkan rekor melalui penyajian 12.000 porsi lontong Sukadana. Hidangan tradisional ini diangkat sebagai warisan budaya yang sarat nilai sejarah dan kearifan lokal.

Ketua TP PKK Provinsi Kalbar, Erlina, menilai kegiatan ini strategis dalam mendorong pemanfaatan pangan lokal sekaligus memperkuat ketahanan keluarga.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat meningkatkan kreativitas masyarakat, khususnya ibu-ibu, dalam mengolah pangan lokal menjadi produk bernilai jual tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Founder Kalbar Food Festival, Edy Hartono, menegaskan bahwa penyelenggaraan tahun ke-7 ini merupakan hasil konsistensi dan kolaborasi berbagai pihak.

Ia menyebut, antusiasme masyarakat terus meningkat setiap tahun, seiring dengan dampak ekonomi yang semakin terasa bagi pelaku usaha.

“Festival ini kami rancang bukan hanya seremonial, tetapi benar-benar memberi manfaat ekonomi dan memperkuat identitas daerah,” tambahnya.

Edy mengatakan kegiatan tahun ini tetap digelar dengan semangat tinggi meski mengalami penyesuaian jadwal.

“Biasanya kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan Cap Go Meh, namun tahun ini kami geser ke Mei. Kami bersyukur kegiatan tetap bisa terlaksana dengan baik,” ujarnya.

Menurut Edy, festival ini tidak sekadar ajang kuliner, tetapi juga upaya mengidentifikasi dan mendokumentasikan kekayaan budaya tak benda, khususnya di sektor kuliner Kalimantan Barat.

“Melalui pencatatan rekor, kita ingin menunjukkan bahwa Kalimantan Barat memiliki kekayaan kuliner yang beragam. Tahun ini kami mengangkat lontong Sukadana sebagai ikon,” tuturnya.

Dalam kegiatan puncak, panitia menargetkan memasak dan menyajikan 12 ribu porsi lontong menggunakan kuali-kuali besar berkapasitas tinggi.

Seluruh sajian tersebut dibagikan secara gratis kepada masyarakat, sekaligus menjadi daya tarik utama festival.

Selain pemecahan rekor, festival juga menghadirkan berbagai agenda, mulai dari demo masak chef nasional, promosi kuliner daerah, hingga eksplorasi makanan khas dari berbagai kabupaten/kota di Kalbar.

Co-Founder Kalbar Food Festival, Yenna Wiguna, menjelaskan rangkaian kegiatan berlangsung pada 2–10 Mei 2026 di kawasan Ayani Megamall Pontianak.

“Kegiatan ini gratis dan terbuka untuk umum. Kami mengajak masyarakat untuk hadir dan bersama-sama menyukseskan pemecahan rekor lontong Sukadana,” katanya.

Rangkaian acara akan ditutup pada 10 Mei dengan pesta kembang api dan malam penghargaan bagi pelaku konten kuliner, seperti food blogger dan kreator digital, yang berkontribusi dalam promosi kuliner daerah.

“Kami juga akan memberikan penghargaan kepada tokoh inspiratif daerah sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dalam pengembangan budaya dan pariwisata,” tambah Yenna.

Menurutnya, selain promosi kuliner, Saprahan Khatulistiwa menjadi ruang mempererat persatuan. Tradisi makan bersama ini mencerminkan harmoni masyarakat Kalbar yang majemuk. (mrd)

 

 

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#lontong #Stephanie Meyerson #ria norsan #Kalbar Food Festival #rekor