PONTIANAK POST – Kalimantan Barat masuk dalam daftar provinsi yang menemukan kasus positif hantavirus di Indonesia.
Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Erna Yulianti, mengkonfirmasi hal itu, Minggu (10/5/2026) malam. “Untuk kasus konfirmasi hantavirus di Kalbar telah dirilis oleh Kemenkes RI,” ujarnya kepada Pontianak Post.
Erna menjelaskan, penetapan kasus konfirmasi dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen yang sebelumnya dikirim oleh Dinkes Kalbar ke pihak Kemenkes.
Namun ia tak merinci secara detail kapan kasus tersebut ditemukan, dan seperti apa kondisi pasien yang terpapar virus tersebut.
“Kasus konfirmasi disampaikan oleh Kemenkes RI berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen yang dikirim oleh Dinkes provinsi,” jelasnya.
Terkait langkah penanganan, Dinkes Kalbar saat ini memperkuat upaya pencegahan. Salah satunya dengan menggandeng Balai Karantina Kesehatan Kelas I Pontianak.
“Upaya yang dilakukan Dinkes provinsi dalam hal ini bekerja sama dengan Balai Karantina Kesehatan Kelas I Pontianak untuk mencegah masuknya warga atau pendatang pembawa virus hanta,” paparnya kepaa Pontianak Post.
Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat juga terus digencarkan. Dinkes mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta mengenali gejala virus hanta sejak dini.
“Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menerapkan PHBS serta menyampaikan edukasi gejala dari virus hanta,” pungkasnya.
Sementara itu, data Kementerian Kesehatan mencatat, sepanjang 2024 hingga pekan ke-16 tahun 2026 terdapat 23 kasus positif hantavirus di Indonesia.
Kasus terbanyak ditemukan di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta masing-masing enam kasus, disusul Jawa Barat lima kasus.
Sementara Kalbar, Sumatera Barat, Banten, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Timur masing-masing satu kasus.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan, hingga kini terdapat 251 kasus suspek virus Hanta di Indonesia.
Dari jumlah tersebut, 23 kasus dinyatakan positif, 221 negatif, empat masih dalam pemeriksaan, dan tiga kasus tidak dapat diambil spesimen.
“Sekarang masih ada dua kasus suspek yang sedang diperiksa,” ujarnya, Jumat (8/5), dikutp dari Jawa Pos. (bar)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro